Thursday, 19 January 2017

Antara Cadar dan Hijab Lebar

Suatu hari, aku bertanya kepada suamiku.

"Mas, aku boleh pakai cadar yang kayak gini nggak?" Aku memperlihatkan foto wanita bergamis dan bercadar yaman warna hitam.

"Itu kayak yang dipakai orang Temboro ya?"

"Hehe, iya,"

"Hmmm... Boleh... Tapi, kalau untuk sekarang kayaknya Adik lebih bagus pake yang biasanya deh,"

"Maksudnya yang lebar itu?" Saat ini aku seringnya memakai baju gamis dan khimar sepergelangan atau sepaha. Warnanyapun masih beragam, bukan hanya hitam atau gelap. Jika bercadar, aku pakai cadar tali.

"Iya,"

Aku pun merenungkan pembicaraan kami. Aq memahami maksud suamiku, dia sebenarnya senang aku bercadar. Mendukungku. Namun, dia juga menyadari keberagaman dan kondisi sekitar kami sehingga, perlu proses untuk menuju kesempurnaan. Termasuk cara berpakaianku.

Singkatnya... Berhijrah perlu proses. Nikmati saja prosesnya. Buat diri sendiri dan orang lain nyaman dengan proses tersebut. Sambil terus belajar dan menyempurnakan penampilan dan akhlak. Jika terlalu dipaksakan, akan membuahkan hasil yang tidak maksimal.

Yang terpenting lagi, suami harus ridho dengan apa yang kita lakukan. Betul?

*Indriani Taslim
Menulis untuk memanfaatkan ilmu
19012017