Sunday, 24 December 2017

Sedikit Cerita MPASI Daehan Mulky Abdullah

Bismillah... Alhamdulillah, sudah lama nggak nulis di blog. Akhirnya sadar banyak hal yang bisa dibagi dan mungkin bermanfaat bagi pembaca. Kali ini, saya mau bagi cerita soal MPASI anak saya, Daehan Mulky Abdullah yang mungkin cara saya memberikan MPASI tidak istimewa, tidak terlalu ikut rule WHO. Hehehe... FYI, Daehan sekarang usianya sudah 8 bulan.

Bermula saat daehan usia lima bulan kurang sedikit, dia ASI eksklusif (thanks God!). Menjelang 6 bulan, dia sudah mulai tertarik dengan makanan yang dipegang orang di sekitarnya. Dia juga "klametan" alias mengecap-ngecap seolah ingin ikut merasakan enaknya makanan tersebut. Hal ini membuat orang di sekitar saya menyarankan untuk memberikan makanan, namun saya tepis dan saya beri pengertian. Kan 6 bulannya tinggal menghitung hari. Sabar... Kalau luput dari pengawasan saya, kadang Daehan dipegangin roti atau diicipin buah. Oh, nooo...!!

Alhamdulillah, masa asi-x sudah selesai, sekarang waktunya makaaan...!

Hari pertama, seperti emaks jaman now pada umumnya, pengen lah mengaplikasikan teori MPASI kekinian sesuai rekomendasi WHO. But, saya melanggarnya di hari pertama di waktu makan pertama. Wkwkwk... Jangan ditiru. Saya dengan semangat langsung bikin bubur beras putih plus wortel. Awalnya saya nggak tau cara bikinnya gmn, namun diarahkan oleh tante saya, sambil intip resep di google. Hehe. beras putih 2 sdm dicuci, masak dengan air 2 gelas. Wortel diparut pakai parutan keju, lalu masukkan saat air bubur hampir habis. Hal ini menjaga nutrisi sayurnya supaya gak menguap. Setelah itu, buburnya saya saring pakai saringan kawat.

Menu pertama daehan harusnya menu tunggal, namun saya mix karbo+sayur. Suka-suka saya banget gak sih? Wkwkwk... Biasanya, orang-orang akan mengawalinya dengan buah, tp saya enggak. Antimainstream. Alhamdulillah, Daehan mau makan. Tapi cuman dikit banget. Secara dia masih bingung. Ini apa? Diapain ya? Dikunyah apa diapain? Adaptasi memakan makanan pendamping ASI ini biasanya berlangsung 1-2 minggu. Tapi, khusus Daehan, dia butuh waktu 2 bulan untuk benar-benar menikmati makanannya. Alhamdulillah 'ala kulli hal. :)

Untuk menu sehari-hari daehan tidak begitu bervariasi. Berkisar bubur campuran beras putih, daging sapi, wortel, jagung manis, kentang, dan buncis. Beras merah saya buat dari tepung beras merah, tapi dia gak begitu semangat menghabiskan. Mungkin karena no gulgar ya... Pernah saya kasih ikan tuna dia gak gitu doyan, mungkin terlalu amis. Kali ini, protein hewaninya saya coba ganti fillet ikan kakap. Dia lahap! Variasi lainya untuk prohe yaitu daging ayam kampung dan fillet ikan lele. Telur ayam kampung pernah makan juga, doyan sih, tapi sekarang ditunda dulu pemberiannya nunggu agak gedean. Takut alergi.

1 minggu pasca MPASI Daehan mulai diuji. Dia batpil, dan batpilnya berkepanjangan sampai 2 bulan... Duh... Mungkin karena adaptasi makan iya, karena faktor eksternal bisa juga (ketularan virus flu). Jadi, MP ASI Daehan hingga dia usia 8 bulan ini terbilang kurang lancar. Huhu. Banyak GTM (Gerakan Tutup Mulut)-nya. Dilepehin udah biasa. Disembur juga pernah. Pokoknya asyiiik deh... Haha. Pasca batpil, maemnya mulai enak lagi nih moms. Alhamdulillah...

Kalau biasanya buburnya daehan dimasak dari beras putih mentah dicampur sayur dan daging, mulai hari ini Daehan makanannya ganti. Nasi biasa yang dimakan keluarga, ditambah sayurnya dimasak sendiri lalu diblender. Namun, karena Daehan sudah delapan bulan, dan nanti 9 bulan sudah harus naik tekstur, maka saya blendernya agak kasar. Lebih kasar daripada waktu disaring. Alhamdulillah, dia doyan dan makin lahap maemnya. :D #emakpunbahagia

Btw, kalau rekomendasi dari WHO kan dibawah 1 tahun baiknya no gulgar. Tp saya langgar juga. Hihihi. Jangan ditiru. Saya sesekali memasukkan gula dan garam ke makanan Daehan. Kalau bumbu rempah, baru bawang putih, seledri dan daun bawang yang sudah pernah saya pakai. Itupun jarang-jarang. Untuk menambah selera makan memang ajib deh bumbu rempah ini.

Untuk makanan selingan, saya berikan buah pisang dan alpukat. Kedua buah ini dia suka banget. Buah lainnya yang pernah dicoba yakni pear, apel, bengkuang, mangga, melon, buah naga, dan pepaya. Apel dan pear sukses dia sembur-sembur. Wkwk... Mangga dan melon doyan, tp berhubung ngasihnya kemarin pas pilek jadi belum dicoba lagi. Sedangkan buah naga dan pepaya dia begidik ngeri, gak mau. Mungkin karena warnanya mencolok. Buah naga mengingatkannya pada warna sunmol drops mungkin. Huhu... :'(

Makanan selingan lainnya yaitu biskuit Milna. Kadang dilumatkan, kadang dikasihkan langsung. Sesekali saya buatkan bubur instan Milna, Cerelac, SUN, pas lagi repot gak bisa masak aja atau buat selingan biar gak bosan dengan rasa bubur homemade (ini sih alibi emaknya yang sok repot, hehe...). Untuk air putih, dia dulu suka banget. Tapi pasca batpil ini dia agak gak mau dikasih air putih. Maunya ASI terus. Hehe... Gak apa lah... Daripada maunya air putih aja gak mau ASI, kan repot.

Itulah sekilas (tapi panjang yak, haha) cerita MPASI anakku. Ambil baiknya aja ya, yang nggak baik jangan ditiru. Hehe. Semoga bermanfaat.

Indriani Taslim
Ummu Daehan

Thursday, 19 January 2017

Antara Cadar dan Hijab Lebar

Suatu hari, aku bertanya kepada suamiku.

"Mas, aku boleh pakai cadar yang kayak gini nggak?" Aku memperlihatkan foto wanita bergamis dan bercadar yaman warna hitam.

"Itu kayak yang dipakai orang Temboro ya?"

"Hehe, iya,"

"Hmmm... Boleh... Tapi, kalau untuk sekarang kayaknya Adik lebih bagus pake yang biasanya deh,"

"Maksudnya yang lebar itu?" Saat ini aku seringnya memakai baju gamis dan khimar sepergelangan atau sepaha. Warnanyapun masih beragam, bukan hanya hitam atau gelap. Jika bercadar, aku pakai cadar tali.

"Iya,"

Aku pun merenungkan pembicaraan kami. Aq memahami maksud suamiku, dia sebenarnya senang aku bercadar. Mendukungku. Namun, dia juga menyadari keberagaman dan kondisi sekitar kami sehingga, perlu proses untuk menuju kesempurnaan. Termasuk cara berpakaianku.

Singkatnya... Berhijrah perlu proses. Nikmati saja prosesnya. Buat diri sendiri dan orang lain nyaman dengan proses tersebut. Sambil terus belajar dan menyempurnakan penampilan dan akhlak. Jika terlalu dipaksakan, akan membuahkan hasil yang tidak maksimal.

Yang terpenting lagi, suami harus ridho dengan apa yang kita lakukan. Betul?

*Indriani Taslim
Menulis untuk memanfaatkan ilmu
19012017

Saturday, 22 October 2016

Hamil Itu... Amazing!

Bismillah.
Lama nggak nulis ya? Haha, ya begitulah. Nulis kalau pas inget aja kalau punya blog ini. Tak terasa, sudah setahun lebih pernikahanku. Dan hadiah terbaiknya adalah, ada debay di dalam perutku sekarang! Alhamdulillah...

Usia kehamilanku hampir 12 minggu. Alhamdulillah, trisemester pertama aku lalui dengan lancar. Morning sickness ngalamin, namun nggak parah. Masih bisa makan, masih bisa aktivitas. Kadang ngantuk dan males-malesan aja. Apalagi sekarang udah nggak kerja. Jadi lebih sering istirahatnya.

Ngidam? Iya sih, tapi lebih tepatnya makan amkanan kesukaan yang sudah lama nggak dimakan. Mumpung ada yang belikan, jadi ya ngidam. Wkwkwkwk. Tapi, menjelang trismester kedua ini anehnya aku malah nggak kepengen makan yang spesial. Kadang malah malas makan gitu deh. Tapi harus tetap makan, demi pertumbuhan dan perkembangan debay dalam kandungan. Vitamin nggak ketinggalan tiap malam, hanya saja aku nggak minum susu. Nanti deh kalau trismester kedua dan ketiga lebih sering minum susu ibu hamil. Mau nggak mau harus nabung kalsium buat debay dan asi.

Kemarin kontrol ke bidan, sekalian USG. Alhamdulillah, debaynya sehat dan aktif banget gerakannya. Saat aku melihat bayiku di layar monitor, aku sempat speechless. Ada makhluk mungil yang berenang-renang di dalam rahimku. Detak jantungnya, kepala, badan, tangan, dan kakinya, masyaAllah, sangat luar biasa! Baru pertama kali melihat dia, aku langsung jatuh cinta.

Alhamdulillah, aku bersyukur banget dengan kehamilan ini. Semoga lancar saat hamil, juga lancar saat melahirkan. Dimudahkan, agar bisa lahiran spontan. Bayi dan ibunya sehat. Doakan ya teman-teman...

Yah, nggak ada kata-kata lain deh. Hamil itu... Amazing!


Indriani Taslim