Sunday, 8 November 2015

Mendewasa Bersama Pasangan

Harus diakui, pernikahan bukanlah akhir dari kejombloan semata. Pernikahan adalah tempat untuk berkreativitas, berkarya, belajar, mengamati, mengabdi (kayaknya udah memenuhi tri dharma perguruan tinggi yak?huehehe) dan mengeksplor kemampuan diri. Ada hati yang harus lebih sabar, ada ego yang harus ditekan, ada rasa maklum pada setiap hal yang kurang pas dihati. Karena kita sama-sama masih belajar. Ppasangan kita bukanlah sosok sempurna (seperti hal nya kita). Kita belajar bersamanya, mencari solusi untuk setiap masalah yang hadir dengan sabar dan ikhlas. Mensyukuri setiap nikmat yang Tuhan berikan kepada keluarga kecil kita, supaya kelak Dia melimpahkan keberkahan di dalamnya.

Tepat sebulan setelah pernikahan, saya mengalami kecelakaan motor. Adakalanya kita sudah berhati-hati, namun saat Allah sudah menggariskan nasib maka semua hal bisa terjadi. Termasuk hal yang tak masuk akal pun bisa terjadi. Cerita singkatnya saya pulang kerja dari kampus menuju rumah sekitar pukul 2 siang, dua pertiga perjalanan motor saya tetiba ditabrak sebuah ban lepas dari mobil jeep yang patah as rodanya. Alhasil saya jatuh dan sempat dilarikan ke rumah sakit di Ponorogo.

Hasil rontgen di RS pertama dinyatakan ada fraktur, tapi setelah di bawa ke Madiun, dirontgen ulang dan dicek oleh dokter tulang, ternyata tidak ada fraktur. Hanya kesalahan posisi saat rontgen. Alhamdulillah... Dari sebuah musibah ini saya mengambil banyak sekali hikmah.

1. Kesabaran saya dan suami sedang diuji. Kebetulan motor yang saya pakai adalah kepunyaan suami yang baru dibeli 3 bulan. Saya merasa bersalah pada suami, but, kita berdua sepakat: Aal iz well! Motor rusak bisa diperbaiki, nyawa yang selamat patut disyukuri. Alhamdulillahnya, si pembawa mobil mau bertanggung jawab atas biaya pengobatan dan biaya perbaikan motor saya.
2. Saya jadi tahu orang yang benar-benar peduli sama saya. Terimakasih pada orang tua, keluarga dan sahabat yang setia (spesialnya suami saya tercinta). Saya betul2 merasa dicintai.
3. Saya jadi tahu rasanya selamat dari maut. Betapa hati saya nyeri membayangkan jika saya tidak ada lagi di muka bumi, alangkah sedihnya suami dan keluarga saya. Saya jadi semakin sayang pada mereka.
4. Saya harus lebih bersabar terhadap orang yang tidak benar-benar tulus pada saya. Saya tahu, di dunia ini pasti ada orang yang benar-benar tulus dan sebaliknya, ada yang pura-pura tulus saja. Yah, saya tidak bisa berbuat banyak selain mendoakannya.
5. Saya kini lebih bersemangat untuk bekerja dan berkarya. Saya tidak mau kehilangan waktu saya untuk menggoreskan karya sebelum jatah umur saya habis. Saya ingin kembali produktif menulis.

Berbekal kesabaran dan keikhlasan, saya dapat melewati ujian ini dengan hati tegar (insya Allah). Tidak ada masalah yang tak selesai. Dengan adanya masalah, kita akan mendewasa. Terlebih masalah ini datang di awal-awal pernikahan. Tentunya, hal ini akan menjadi sarana pembelajaran bagi kami pasangan baru untuk berproses mendewasa bersama pasangan.

Selama kita dan pasangan kita sadar bahwa setiap yang ada di dunia ini adalah kepunyaan Allah, maka kita tidak akan merasa sedih. Kita mengadu saja pada-Nya, Zat yang takkan pernah meninggalkan kita saat susah dan senang. Bahkan, justru kita yang sering lari meninggakan-Nya. Padahal kitalah yang membutuhkan Allah, bukan sebaliknya. Hanya kepada Allah saya berpasrah dari semua urusan dunia dan menggantungkan segala harapan.

Semoga, kedewasaan kami semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Semoga sakinah, mawaddah wa rahmah selalu menyertai pernikahan kami. Aamiin.


Indriani Taslim