Friday, 27 February 2015

Saya Ingin Jadi Orang Kaya

Menjadi orang kaya. Mungkin impian saya ini terlalu mainstream. Siapa juga yang tak mau menjadi orang kaya? Semua orang ingin jadi orang kaya. Namun, kali ini serius deh, saya pengen banget jadi orang kaya. Saya ingin jadi orang kaya plus plus.
Mengenai latar belakang saya ingin jadi orang kaya, sebenarnya ada motivator saya yaitu Ustad Yusuf Mansur. Saya beberapa kali sengaja buka youtube dengan kata kunci ceramah yusuf mansur. Alhamdulillah, ketemu banyak. Banyak yang ngupload, sehingga saat saya tahu begitu saya ngomong, "Yaa Allah, kemana saja saya selama ini?
Saya termotivasi menjadi orang kaya bukan karena saya ingin hidup senang di dunia saja. Saya ingin lebih dari itu. Saya tahu dunia ini sementara, maka dari itu saya ingin menguasai dunia biar saya selamat di akhirat. Untuk selamat di akhirat kan nggak terbatas orang miskin saja yang bisa masuk surga. Tidak selamanya orang kaya itu mulia, dan tidak selamanya orang miskin itu hina. Namun juga tidak selamanya orang kaya masuk neraka, orang miskin masuk surga. Belum tentu.
Apa yang membedakannya? Apa yang membuat orang kaya busa enak di dunia, di akhirat juga selamat? Inilah yang saya cari tahu jawabannya.
Menjadi orang kaya yang selamat di dunia dan akhirat jalannya cuman 2:
1. Mintanya bener. Minta kekayaan pada yang Maha Kaya langsung! Jangan berharap kekayaan dari manusia. Tauhidnya dibenerin.
2. Bersyukur. Nggak usah pelit sama orang lain, toh harta yg Allah berikan itu hanya titipan semata. Maka jangan segan jangan "eman" kalau diminta Allah untuk dinafkahkan di jalan-Nya.
Oleh karena itu saya ingin jadi orang kaya. Saya ingin jadi orang kaya tang pandai bersyukur. Saya ingin jadi orang kaya yang ahli sedekah. Saya ingin sekali jadi ahli syukur yang selamat dari siksa api neraka. Saya ingin jadi orang kaya yang bahagia di dunia bahagia di syurga.
Enak bener ngomongnya? Apa nggak ketinggian tuh mimpinya?
Ya biarin aja. Masa iya kita doanya setengah-setengah... Mau kaya tapi ujungnya di neraka, siapa yang mau coba? Makanya doa saya komplit aja, satu paket. Kaya di dunia, di akhirat masuk syurga. Emang bisa? Bisa banget... Tinggal akhlaknya dibenerin supaya itu semua bukan hanya mimpi.
Mulai sekarang itu jadi doa saya. Semoga terkabul dan kalau sudah kaya saya kabari Anda semua. :)
Salam,
Indriani Taslim

Monday, 16 February 2015

Saat Kegembiraan Menyapa, Saat Itulah Ujian Datang

Bersyukur dan bersabar. Ya, itulah yang selalu ada di setiap kehidupan. Saat kita dilimpahi begitu banyak kesenangan, rasanya tak pantas jika kita tak bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan. Namun, saat kita lengah sedikit saja, maka akan ada celah dimana kinikmatan itu dicerabut dan digantikan ujian kesabaran.

Hal itulah yang saya alami baru-baru ini. Saya menekuni pekerjaan menulis, dan karena itulah saya membutuhkan perangkat yang dapat menunjang aktivitas saya tersebut. Laptop sudah bukan lagi menjad keinginan, namun sebagai kebutuhan. Saya sangat kerepotan saat tak memiliki laptop pribadi. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memilikinya segera.

Setelah melalui berbagai macam pertimbangan, akhirnya saya membeli sebuah laptop (Asus, 12 Inch) seharga IDR3,450,000. Namun, karena uang saya belum cukup, saya memutuskan untuk membelinya dengan cara mencicil di BMT Latansa. Berbekal perhiasan emas 5 gram (sebagai jaminan), uang muka 500K dan biaya administrasi 50K, maka saya sudah bisa membawa pulang laptop idaman saya dalam waktu 3 hari saja. Berikutnya saya harus mencicil tiap bulan 288K selama 12 bulan. Sungguh, percepatan ini saya lakukan semata-mata untuk menunjang aktivitas saya sebagai penulis.

Namun, sesaat setelah kegembiraan itu terjadi, ujian pun menerpa saya di hari yang sama. Pekerjaan menulis saya di salah satu web harus berhenti. Alhamdulillah. Mungkin Allah punya rencana lain dibalik itu semua. Kemudian, satu web lagi juga ada sedikit kendala (semoga Allah mudahkan, sehingga bisa terus berjalan seperti biasa). Terjadi di waktu yang sama. Antara bersyukur dan bersabar, ternyata saya mendapat ujiannya di hari yang sama.

Tentu saya harus realistis. Saya harus mendapatkan sumber pemasukan lain, karena saya sudah menyatakan sanggup untuk mencicil laptop tersebut setahun ke depan. Oleh karena itu, saya perbanyak kesyukuran saya akan laptop yang sudah ada di tangan, dan memperbesar sabar saya karena harus mencari sumber pemasukan baru. Insya Allah, dengan dua modal tadi (bersyukur dan bersabar) saya siap menjalani hari-hari ke depan. Utamanya sebagai penulis.

Oleh karena itu, saya berharap, saya diberikan keistiqomahan (keajegan) untuk menjalankan profesi saya sebagai penulis. Semoga laptop ini dapat memberikan kemanfaatan yang besar bagi saya, dan dapat menemani perjuangan saya kedepannya untuk bekerja dan menuntut ilmu. Aamiin.

Thursday, 5 February 2015

(Mau Tak Mau) Selalu Ada Fase Tak Nyaman dalam Hidup Kita

Waktu terus bergulir dengan cepatnya. Tak terasa februari telah menyapa, sedangkan belum banyak karya yang telah tercipta. Saya merasa banyak perubahan yang terjadi setelah saya lulus kuliah. Alhamdulillah, pekerjaan saya yang di rumah saja seperti ini cukup untuk membiayai kebutuhan hidup saya selama ini. Setidaknya tak minta orang tua lah. Dulu sewaktu kuliah saya juga sudah mulai mandiri, namun tetap saja, usai pendidikan, tanggung jawab terhadap diri sendiri jadi semakin besar pula. Menghidupi diri sendiri sekaligus menyiapkan dana untuk masa depan (baca: menikah, hehehe).

Akhir-akhir ini saya sibuk menulis, eh, tapi bukan alasan ding kalau jadi nggak update di blog ini. Soalnya saya masih sempet tuh window shopping di instagram :D Jadi, saya tidak akan beralasan kenapa saya hampir nggak pernah update blog ini. Lupa dan malassss...

Sepertinya, saya harus lebih sering berjalan-jalan. Ini atas usulan beberapa orang yang mengetahui pekerjaan baru saya sebagai penulis artikel web. Misalnya Pak Zul, "Kalau menulis bukan lagi hobby, maka perlu sering jalan-jalan supaya tidak capek dan stress. Jalan-jalan bisa menimbulkan inspirasi."

Ada lagi Pak Imam, "Sekarang sibuk apa? (saya jawab nulis) O... berarti harus sering jalan-jalan itu." Whew, beda orang tapi komentarnya sama. Memang benar sih, kalau seorang penulis cuman nulis aja tanpa diselingi dengan jalan-jalan, maka rawan terkena stress. Apalagi jika nulisnya di depan layar laptop melulu. Asli, stress bro.

Makanya, saya memilih jalan tengah. Jalan-jalan tak kalah penting dengan menulis itu sendiri. Setiap ada kesempatan jalan (walau cuma ngambil baju di laundry misalnya), saya optimalkan untuk menyegarkan pikiran.

Setiap perubahan dalam hidup memang menimbulkan konsekuensi yang tak mengenakkan. Dulu saya asyik di dunia craft, hampir 7 tahun. Namun setelah saya merenung, nggak baik juga kalau saya nggak keluar dari zona nyaman saya. Maka saya putuskan nyemplung di dunia penulisan online. Jika tak memaksakan diri untuk pindah, maka mungkin saat ini saya masih asyik saja dengan jarum benang.

Menulis merupaan salah satu passion saya. Setelah dijalani, ternyata menulis tak semulus kedengarannya. Passion yang membawa saya kesini bukan berarti 100% menyenangkan. Pasti ada ketidaknyamanan dari semua itu. Namun, seperti yang tertera di judul ini (mau tak mau) selalu ada fase tak nyaman dalam hidup kita. Tinggal sikap kita saja, mau menyerah dengan ketidaknyamanan tersebut dan hengkang, atau bertahan dan menemukan zona nyaman yag baru.

Nikmati sajalah. Right?