Thursday, 25 December 2014

Saat Mulai Sibuk dengan Pekerjaan

Bekerja adalah impian setiap orang yang sudah lulus dari studinya. Demikian pula dengan saya. Bayangan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik setelah menempuh pendidikan tinggi adalah impian saya.

Saat kuliahpun sebenarnya saya sudah bekerja, karena saya membiayai sendiri kuliah saya dengan mengandalkan pendapatan dari bisnis kecil-kecilan yang saya miliki. Alhamdulillah, setelah lulus saya tidak bingung mau ngapain. Saya masih bisa meneruskan bisnis.

Namun, saya bersyukur bisa ditunjukkan jalan untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik, sesuai dengan passion saya. Saya suka menulis, dan saya senang melakukan pekerjaan yang ada hubungannya dnegan mengolah kata-kata. Dua bulan terakhir saya bekerja sebagai freelance writer untuk web dan blog. Alhamdulillah, meski di rumah saja, saya bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan bila dibandingkan harus bekerja di keluar rumah.

Bukannya saya anti pekerjaan yang di luar rumah, bukan. Saya hanya ingin menikmati masa-masa rehat setelah 4 tahun kuliah. Dulu, selepas SMA saya juga rehat 1 tahun di rumah saja, namun hasil bisnis saya di rumah bisa buat bayar uang masuk kuliah.

Nah, pekerjaan menulis yang saya kerjakan ini sebenarnya tergolong sulit lho teman-teman. Saya harus membagi konsentrasi saya untuk 4 konten yang berbeda, 11 artikel per hari. Kadang, saya juga nggak mencapai target menulis karena ada acara di luar rumah atau saya sedang lelah dan jenuh menulis. Bila dipakasakan menulis, hasilnya takkan maksimal. Bisa jadi saya hanya bengong atau bahkan tertidur di depan laptop (hahaha). Namun, saya berusaha utuk mengganti kekurangannya di waktu senggang. Kebetulan ika sabtu-mingg saya libur yang 4 artikel. Itulah yang saya manfaatkan untuk menambal target yang kurang.

Menjalani profesi ini selama 3 bulan, kemudian saya akan pindah kerja. Bila memungkinkan saya akan mempertahankan beberapa pekerjaan menulis online yang bisa saya kerjakan. Saya memiliki alasan khusus bekerja di luar, yang tidak bisa saya paparkan di sini. Yang jelas saya sudah mempertimbangkannya masak-masak untuk kebaikan saya sendiri maupun orang-orang di sekitar saya. Sekaligus untuk mengembangkan diri saya sendiri.

Sekian, maaf jarang update karena kesibukan menulis.

Salam kreatif,


Indrini Taslim

Wednesday, 10 December 2014

Presentasi

Alhamdulillah, Allah kabulkan doa, semesta mendukung.
Belakangan saya risau dengan rencana saya untuk menjadi dosen di Fakultas Ekonomi UNMUH Ponorogo. Keputusan ini saya ambil karena beberapa alasan:

Saya ingin mengabdi pada almamater saya
Saya ingin mengaktualisasi diri
Saya ingin berbagi ilmu
Saya ingin mengembangkan diri dengan menantang zona nyaman saya
Saya ingin bertambah ilmu
Saya ingin meneruskan rencana S2 bahkan S3
Saya ingin bekerja
Saya ingin punya pengalaman baru
Saya ingin mendapatkan relasi dan linkungan baru
Saya ingin mendapatkan penghasilan

Dari sepuluh alasan yang saya kemukakan, saya lebih cenderung untuk melakukan kegiatan berbagi ilmu, menambah ilmu, dan mengabdi untuk dunia pendidikan. Kesempatan yang diberikan ini tergolong langka. Tidak setiap hari ada dosen yang pensiun. Tidak setiap waktu saya diberi amanah dan dipercaya untuk mengisi sebuah jabatan, tanpa saya melamar kerja. Saya memanfaatkan apa yang ada di depan saya, dan apa yang Allah berikan kepada saya. Saya tidak meu mengingkari nikmat.
Terlepas dari itu semua, saya harus mempersiapkan diri untuk menjadi seorang dosen. Menjadi dosen sudah pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya berdiri di depn kelas, memberikan materi kuliah di hadapan mahasiswa. Itu berarti saya harus melakukan presentasi.
Saya termauk orang yang kurang dalam hal public speaking. Saya bukan ahli, namun saya mau belajar. Saya mencoba untuk menerobos ketidakmampuan saya dengan mau mengubah mindset dan kebiasaan saya melalui pembelajaran. Di masa sekarang ini bukan sesuatu yang sulit jika saya ingin belajar sesuatu hal. Materi begitu berlimpah di internet. Tinggal menekuninya, maka saya bisa mempelajari apapun. Ya, ilmu apapun. Temasuk tentang presentasi.
Saya ingin belajar serius bagaimana cara menyampaikan gagasan dan materi kuliah dengan efektif dan menarik. Bagaimana mengelola kelas agar setiap pertemuan saya dirinduka mahasiswa. Bagaimana menarik minat mahasiswa agar mereka mendapatkan sesuatu yang penting dalam materi yang saya bawakan. Saya tidak mau menyia-nyiakan waktu berharga mahasiswa hanya untuk mendengar ceramah saya yang (sepertinya akan) membosankan dan bikin mereka tertidur (LOL). Saya tidak mau menyakiti telinga mereka dan membuat mereka gelisah saat mendengarkan presentasi dari saya.
Dengan motivasi itulah saya mulai belajar melakukan presentasi dengan membaca buku Presentasi Memukau karangan Muhammad Noer dan mengikuti saran-saran di dalamnya. Termasuk mencoba mendengarkan presentasi-presentasi online di TED.com. Bagi saya, ilmu ‘gratis’ ini sangat bermanfaat bagi saya, dan karir saya kedepannya. Oleh karena itu, saya akan terus belajar dan mengajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi ornag lain dengan sederhana. Supaya orang lain dapat menyimak apa yang saya sampaikan tanpa terbebani dengan presentasi yang membosankan.
Ala bisa karena biasa. Ala bisa karena terpaksa (kidding :D).
Semua ilmu yang tampak mata pasti bisa dipelajari. Hanya orang-orang malas dan mudah berkecil hati-lah yang menganggap semuanya sulit, tidak mungkin dicapai. Saya yakin, dengan keteguhan dan kesungguhan belajar, kemampuan seseorang dapat melejit sesuai dengan kadar kepayahan yang mau dia lakukan.
Sudah ya, saya mau belajar lagi. Selamat berjumpa di kelas-kelas saya, teman mahasiswa. Semoga ilmu yang nanti akan saya sampaikan bermanfaat bagi Anda semua. Selamat beaktivitas.

Salam sukses (suka proses),

Indriani Taslim.

Monday, 8 December 2014

Menulis Buku Anak

Saya adalah orang yang suka bermimpi. Mimpi saya adalah menulis 800 judul buku, entah itu diterbitkan atau tidak, dicetak atau jadi ebook. Saya percaya, naskah yang sudah lahir dari tangan saya akan membarikan warna pada dunia. Tidak peduli, bagaimanapun juga setiap karya pasti ada pembacanya sendiri.
Saya terpikir untuk membuat buku untuk anak-anak. Saya ingin menulis ntuk memperkaya wawasan anak-anak. Saya ingin nantinya anak-anak saya bisa membaca buah karya ibundanya. Bangga, pasti. Akhirnya, deal saya adalah saya bisa menginspirasi anak-anak saya dengan karya nyata. Bukan sekedar omongan belaka.
Saya melihat peluang untuk menulis buku anak terbuka lebar. Buku anak itu mudah, panjang halamanya juga terbatas. Lebih mudah mewujudkannya dalam karya nyata. Energi yang dikeluarkan lebih sedikit. Namun, untuk membuat buku anak yang berkualitas tentunya harus memiliki kemampuan bahasa yang baik pula. Bahasa yang dimengerti anak-anak. Bukan bahasa orang dewasa yang njelimet. :D
Saya yakin, saya bisa mewujudkan impian saya menulis banyak buku. Buku yang benar-benar jadi buku, yang bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Saya harus banya menggali ilmu dan banyak latihan untuk bisa menulis buku anak yang berkualitas.
Tidak ada kata menyerah untuk mewujudkan mimpi. Itulah idealisme saya.

Salam kreatif,


Indriani Taslim

Friday, 5 December 2014

Merawat Impian Menjadi Penulis Buku Produktif

Hari ini, tengah malam  saya memikirkan secara mendalam apa yang ingin saya kerjakan dalam hidup. Saya ingin menegaskan pada diri saya sendiri, tidak ada orang yang lebih peduli pada saya, kecuali saya sendiri. Tidak ada orang yang memikirkan saya, nasib saya tergantung bagaimana saya menyikapinya. Saya bisa mengubah diri saya, apabila saya mau berusaha untuk mengubahnya.

Write a Novel

Ketika masih kecil, buku adalah benda yang sangat menarik bagi saya. Kemudian, saat menuliskan sesuatu, saya merasa diri saya tumbuh dan berkembang. Tidak ada yang dapat membuat saya begitu bersemangat, selain membaca dan menulis. Hal itulah yang selalu saya sadari, apa yang telah membawa diri saya sekarang ini telah digariskan oleh Allah untuk saya. Kemampuan berinteraksi dengan kata-kata. Kemampuan memahami tulisan dan menuliskannya. Itulah anugerah luar biasa yang Tuhan berikan kepada saya. Hingga akhirnya, saya menganggap bahwa apa yang sudah Dia berikan pada saya, tak boleh saya sia-siakan.

Perjalanan menulis saya sangatlah panjang. Awal mula, saya terdorong untuk menulis puisi. Saya menghasilkan total Rp55.000,- dari 2 puisi yang saya kirimkan ke media. Sejak itu saya tahu, saya bisa menghasilkan materi dari tulisan yang saya kirimkan ke media atau penerbit. Beberapa surat pembaca saya di majalah remaja menghasilkan mechandise berupa kaus, beberapa kali saya menang. Bahkan kaus-kaus itu bisa saya hadiahkan kepada ibu, kakak dan tante saya. Bangga saya. :) Ohya, seingat saya, sebagian honor puisi saya pernah saya berikan kepada ibu, walau saya lupa jumlahnya berapa. Itu juga kepuasan tersendiri buat saya.

Saat kuliah, saya mencoba peruntungan untuk mendulang rupiah dengan menulis artikel koran. Menghasilkan juga, sekitar Rp200.000,- Itupun honor dari kampus, bukan dari korannya (grrr...). Lumayan, kan? Lalu menjelang lulus saya memenuhi ambisi pribadi untuk menulis buku. Saat itu yang paling gampang menurut saya menulis buku novel. Berbekal nekat, terbit juga itu novel saya. DP royaltinya saya terima di muka sebesar Rp1.000.000,- Makin gede angkanya? Tentu saja. Sesuai lah, sama upayanya.

Kini saya menjadi kontributor penulisan artikel. Tiap artikel yang saya tulis atau tulis ulang, saya mendapat honor. Honornya sih masih ribuan per artikel, namun lumayan kan kalao ngetiknya puluhan artikel? :D Lho, kenapa saya mau? Kok sepertinya upaya menulismu jadi tidak idealis! Saya idealis, kok. Idealnya, saya nulis dapat hasil. Minimal buat biaya hidup saya. Buat jajan bakso, buat beli tissue, ngisi pulsa, buat beli buku, atau barangkali beli smartphone (ini ada dalam rencana terdekat saya, karena ternyata saya merasa butuh aktualisasi honor saya akan dikemanakan. Buat kenang-kenangan, o, ini lho hasil kerja saya rewrite artikel. Haha, biar lebih semangat juga). Intinya, saya tetap menulis, dan akan tetap menulis. Dalam hidup saya, tidak bisa lepas dai menulis. Titik.

Sampai disini saya merenung.

Menjalani karir sebagai penulis merupakan jalan hidup bagi saya. Yang namanya jalan hidup, mestinya ya harus dijalani dengan sebaik baiknya dalam kehidupan. Saya adalah tipe orang yang suka menumpuk informasi dalam otak. Baca terus, isi otak terus. Bahkan saya pikir saya ini lebay sekali kalau urusan membaca. Informasi yang saya unduh di internet bisa saya baca berkali-kali hanya untuk meyakinkan saya bahwa saya sudah pernah membacanya dan saya paham. Ya, bagi saya tak apalah disebut bebal karena suka membaca ulang semua tulisan orang, daripada saya merasa sudah baca tapi ternyata tidak paham. Apa gunanya?

Misalnya saja saya suka topik tentang menulis dan menerbitkan buku. Saya sangat antusias mencari tahu di jagat informasi maya mengenai topik tersebut. Tanpa bosan. Ya, sekali lagi: TANPA BOSAN. Sehingga, hasilnya saya punya satu folder khusus berisi artikel copas dari berbagai sumber tentang topik menulis dan menerbitkan buku. Dari tips menulis novel sampai mendirikan penerbitan buku. Semuanya saya pelajari tanpa bosan. Mengapa?

Itulah yang dinamakan PASSION.

Passion itu layaknya orang suka makanan pedas. Nggak perlu penjelasan rumit, kenapa suka makan pedas? Ya, pokoknya suka aja. Bagi saya, semua informasi itu kelak akan membangun diri saya, membangun pemikiran saya. Walau sesepele apapun ilmunya, namun jika itu bisa kita amalkan, akan jadi ilmu yang bermanfaat. Suatu saat, ketika ilmu itu saya pakai dalam beramal, lalu orang lain melihat saya, maka proses transfer ilmu itu akan terus berlanjut. Ketika saya menulis buku, orang akan membaca tulisan saya sebagai ilmu baru baginya. Saat itulah, tidak ada yang sia-sia dalam menuntut ilmu. Dari manapun, dari siapapun, kapanpun. Suatu saat ilmu itu aka berguna bagi kehidupan kita. Percayalah.

Menjadi Penulis

Saya termasuk orang yang suka merealisasikan impian, baik itu impian kecil maupun impian besar. Impian kecil saya contohnya adalah mengunjungi toko buku setiap minggu minimal 1 kali. Hal itu saya kerjakan sampai sekarang, tanpa bosan. Impian besar saya contohnya adalah memiliki toko buku, dan ipian itu saya rawat hingga kini. Tanpa bosan. Saya percaya, kalau bukan sekarang, suatu saat impian yang saya jaga ini akan benar-benar terealisasi. Bahkan mungkin akan berkembang, melebihi ekspektasi saya. :)

Tak terkecuali dengan impian menjadi penulis buku produktif. Saya mendnegar kabar bahwa Enid Blyton telah berhasil membukukan 800 judul buku. Barbara Cartland membukukan 600-an lebih buku, dan saya, Indriani Taslim, memiliki impian raya berupa menjadi penulis produktif yang menulis lebih dari 800 buku. Saya terlihat seperti omong besar doang, kan? Hahaha. Normal kalau anda menyepelekan. Saya saja yang mengatakannya sempat shock juga. :))

Bagi saya, hal itu MUNGKIN SAJA TERJADI. Apa sih, yag mustahil di dunia ini. Selama kita berusaha, jalan untuk mewujudkan impian itu akan selalu ada. Banyak orang yang impian bearnya dikecilkan banyak orang, dicemooh dan di-heleh-kan (disepelekan), namun tetap gigih menjalaninya hingga sukses. Itu semua karena mereka tidak lupa untuk merawat impian dalam dadanya. Membawa impiannya dalams etiap gerak kehidupannya. Dan itulah yang saat ini saya lakukan. Fokus merawat impian saya menjadi penulis produktif.

Akhirnya, jika suatu hari nanti saya berhasil melakukannya, saya akan mengingat hari ini. Saya mengingat malam yang dingin mencekam ini, yang menyadarkan saya untuk secara sadar merenungkan apa yang benar-benar ingin saya lakukan di sepanjang hidup saya. Mungkin jalannya tidak akan pernah terpikirkan oleh saya. Mungkin akan banyak perubahan rencana saat menjalaninya. Namun satu hal yang saya yakini, ketika kita benar-benar fokus dengan impian kita, Allah akan mengabulkannya dengan jalan terindah yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. :)

Jadi, bismillah, mulai sekarang saya akan fokus dengan impian saya: MENJADI PENULIS BUKU PRODUKTIF. Doakan saya ya.....

Salam Produktif,


Indriani Taslim

Wednesday, 3 December 2014

Benda-benda nan Menggalaukan Saya

Berikut ini enda-benda yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini:

1. Buku
Buku apa saja membuat saya penasaran. Apa isinya? Bermanfaat tidak? Bagaimana proses kreatif penulisannya? Bagaimana cara membuat buku seperti ini? Layak tidak dibeli? Layak tidak dijual? Bagaimana kalau menulis yang seperti ini? Bagaimana kalau menerbitkan buku sendiri? Bagaimana kalau menjualnya di toko buku sendiri? Asyik kalau bisa berdiskusi tentang buku ini. Dan seterusnya.

2. Surat
Saya rindu berkirim surat. Saya rindu mendapat kiriman surat. Surat terakhir yang melayang ke rumah saya dikirim oleh kurir JNE, yaitu surat kontrak jadi kontributor Indonesia Kreatif. Adakah yang mau saya kirimi surat? Adakah yang mau mengirimi saya surat. Bagi saya, surat adalah benda eksotis dan langka di jaman ini.

3. Sepeda
Lama saya tak menggowes sepeda. Bukan apa-apa, lagian mau ke mana? Sepeda mini satu-satunya di rumah kebanyakan dipakai ibu, bapak, atau dipinjam tetangga. Kalau ke toko kelontong yang dekat balai desa, saya pilih jalan kaki. Tetiba saya punya keinginan beli sepeda lipat. Lumayan, sewaktu2 bisa gowes ke kampus atau tobuk. Biar berasa kuliah di Heidelberg atau Amsterdam geto. Hahaha... Ngebet punya sepeda.

4. Hijab Syar'i
Saya berjilbab, namun kalau istilah sekarang hijab syar'i kayaknya belum masuk kriteria itu. Saya hampir nggak pernah bergamis ke luar rumah. Masih pake baju potongan. Tapi, saya ingin juga pakai hijab syar'i+khimar lebar. Semoga ada rezeki ya, budgetnya belum cukup buat ganti semua.

5. Tanaman
Saya ini disebut hobi bercocok tanam ya enggak juga sih. Gak pernah terjun nanam-nanam sesuatu di sawah, kebun, ladang atau pekarangan. Tapi saya tertarik gitu suatu saat punya pekarangan yang isinya sayur mayur, sawi, kangkung, tomat, cabe, buah-buahan, bebungaan. Aih, asyiknyoo... Pengen juga merealisasikan mimpi bisa nyiram taman/pekarangan tiap jam 4 sore. :D Asyik kan, kalau mau ngoseng sayur tinggal petik?

Nah, itu tadi sekedar tulisan yang menggelisahkan (haha) kalau tidak ditulis. Terimakasih sudah sempat-sempatnya mbaca. Selamat beraktivitas kembali....