Sunday, 30 September 2012

Harga Sebuah Kerukunan


Kerukunan.

Kalo denger kata yang satu ini, pasti keinget sama pelajaran PKn. Di sana seringkali dibahas tentang kerukunan, dari kerukunan dalam keluarga smpai kerukunan antarumat beragama. Yah, tentunya kita semua mahfum, untuk apa sih kita di ajarin tentang kerukunan?

Kadangkala, untuk mencapai tingkatan rukun yang kita kehendaki, diperlukan upaya-upaya yang cenderung ekstrim. Karena cara yang lembut, sudah tak bisa ditempuh karena terlalu lama efeknya dan menimbulkan berbagai macam grundelan (apa ya bahasa lainnya? mmm, semacam penyakit hati yang bikin mangkel di dada). Sentakan kecil mungkin salah stu cara alamiah agar tercipta kerukunan yang lebih baik dari sebelumnya. Kadang, saya malah ingin disentak, agar dapat memerbaiki kehidupan saya, daripada disentak langsung oleh yang Maha Kuasa.

Kerukunan itu mahal harganya.

Oleh karena itu, fikirlah sekali lagi. Jikalau anda ditegur untuk perubahan yang lebih baik bagi anda dan orang lain, maka bersyukurlah masih ada yang menegur. Jangan diperbudak egoisme, ah, aku gak seneng kayak gini. Ah, apa hak lo negor2 gue? Hey,, bersyukurlah! Jika tak ada yang menegurmu, hidupmu kan begitu2 aja. gak ada perubahan. So, bersyukurlah, kita masih dikasih kesempatan untuk berubah lebih maju. Hilangkan egoisme, sifat ke-AKU-an yang akan mematikan perubahanmu sendiri.

Maka dari itu kawan, jika ada yang menegur, percayalah, pasti kekeliruan itu ada dalam diri kita sendiri. jika sudah tidak mau ditegur, hiduplah sendirian. Jangan bergaul dengan manusia. Dirimu tidak hebat, jika menyombongkan egoisme diri yang kau junjung. Padahal itu tak berguna sama sekali bagi perubahan diri. Dunia tak butuh orang yang malas untuk berubah. Belajarlah mendengar kritikan.

Salam Rukun,


Khoni Indriani.

Friday, 28 September 2012

Rasa Puas


Dalam teori konsumsi kita mengenal adanya tingkat kepuasan, dimana semakin banyak barang x (misal bakso) yang dikonsumsi, maka akan semakin tinggi tingkat kepuasn. Setelah konsumsi bakso mencapai tingkat tertentu, kepuasan akan berada di titik maksimum, dimana kepuasan akan semakin menurun (disebut Law Deminishing of Marginal Utility). Jadi, jika makan baksonya diteruskan mungkin 2 sampai 3 mangkok lagi, bukannya makin puas, tapi makin eneg bahkan (maaf) muntah.

Tingkat kepuasan dalam konsep islam tidak hanya melibatkan jumlah barang yang dikonsumsi, akan tetapi juga memperhatikan variabel syukur. Semakin tinggi rasa syukur yang dihadirkan ketika mengonsumsi bakso, maka grafik kepuasan akan semakin naik. Ini berarti rasa syukur sebagai leverage atau daya ungkit pada aktiitas konsumsi kita. Selain rasa syukur, berbagi juga berfungsi sebagai daya ungkit. Apabila kita membagikan bakso kepada seseorang misalnya adik kita, tingkat kepuasaan akan semakin meningkat. Disini rasa ikhlas otomatis  juga turut berperan. Kit lihat bahwa dengan menambahkan variabel-variabel seperti syukur, berbagi (sedekah) dan ikhlas, ternyata kegiatan konsumsi kita lebih bernilai. Kepuasn akan lebih cepat atau mudah dicapai, meskipun jumlah barang yang kita konsumsi berkurang (sedikit).

Disini saya menggarisbawahi, ternyata ketika ajaran islam yang mulia kita masukkan dalam tiap sendi kehidupan kita, termasuk dalam kegiatan konsumsi, ada kebahagiaan-kebahagiaan (baca:kepuasan) yang tidak hanya diukur dengan kuantitas material belaka. Aplikasikan rasa syukur, ikhlas, dan semangat berbagi agar hidup lebih berkualitas. Meskipun, materi yang kita miliki terbatas adanya.

Disini, bagi ekonom muslim maupun calon ekonom muslim seperti saya, perlu ada suatu pemikiran yang serius bagaimana agar rumusan tentang teori konsumsi berbasis islam dapat dikembangkan, tentunya dengan melibatkan variabel-variabel seperti yang saya contohkan diatas. Semoga Allah membukakan pintu pemahaman kepada kita agar senantiasa berfikir dan menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat begi sesama.


Semoga bermanfaat.
Salam,


Khoni Indriani

P.S.: terinspirasi setelah membaca sebuah artikel yang membahas tentang teori konsumsi dan hubungannya dengan rasa syukur pada Koran Republika tanggal 27 September 2012.

Monday, 24 September 2012

Catatan dari Kenangan Masa Kanak-kanak

image by google
Korea, gangnam style, gingseng...

Jadi teringat sebuah cerpen/dongeng yang saya baca semasa kanak2 di majalah Mentari. Ada seorang anak yang sedang belajar kejujuran. Dia dipesani oleh kakeknya untuk tidak memakan gingseng yang sedang direbus di atas bukit, dia hanya disuruh menjaganya. konon, gingsengnya berkasiat bisa awet muda sampe ratusan tahun. Tapi si anak yang semakin dilarang semakin pengen tau, maka diicipnya sedikit tuh ginseng. Eeeh, malah ketagihan dimakan sedikit demi sedikit sampai habis. Ketika kakeknya kembali, dia terkejut dan menyesal si anak telah memakan gingseng yang ternyata adalah jelmaan dari sahabatnya si anak tadi. Akhirnya anak itu sangat menyesal, dan selama ratusan tahun hidup, dia tidak bahagia.

Hahaha, ceritanya agak konyol mungkkin ya. Tapi saya ingat terus sampai sekarang. Karena dulu bacanya sampai ratusan kali, sampai hapal. (hobi baca yang terbatas oleh buku yang sedikit).

Pesan moralnya bagus:
1. Harus amanah
2. Jangan suka penasaran, karena penasaran dengan sesuatu bakal menyeret kita mencari tahu dan setelah tahu, who knows, kita bakalan ngapain dengan hasil penyelidikan kita. Kurang lebih, jangan mencari2 tahu sesuatu,  apalagi kesalahan orang lain... Yang ada, kita akan menyesal nantinya karena hidup takkan pernah tenang dikejar rasa bersalah.
3. Jangan mencuri (atau korupsi). Sekali korupsi, meskipun kecil, akan bikin ketagihan dan berlanjut kepada korupsi yang lebih besar.

Semoga catatan kecil ini bisa membawa hikmah bagi semuanya....

Wednesday, 12 September 2012

Seberkas Cahaya Ilmu yang Aku Syukuri....

doc pribadi
Bismillah...
"Anak bermata cokelat itu, sekali ngomong menenangkan hati. Mungkin karena ilmunya berkah, cahaya ilmunya terpancar. Omongan yang bisa 'digugu', dianut. Perkataanya itu tanpa tendensi, tidak setiap orang bisa setulus dia. Bisa dibuktikan saat ketemu, dia msih sama ketika di SMS atau dimanapun. Bicaranya tidak menyakiti hati." Kata Ochan, mengenang saat pertama kali kami berkenalan dengan anak bermata cokelat itu, bersama tiga orang lainnya yang senantiasa menjaga silaturahim. — with Khalila Indriana at Ekonomi Islam .
Hanya ingin berbagi sebuah status yang bru saya buat, namun ingin saya abadikan di blog ini. Mengenang persahbtn bersama empat orang yang baik-baik, dan saya sangat bersyukur pernah mengenal mereka. Disatukan dengan tali ukhuwah bernama Ekonomi Islm, kami merajut ukuwah dalam dakwah bernuansa ilmiah.
Ingin sekali setulus anak bermata cokelat ini. Awesome. Semoga kami senantiasa istiqomah mengamalkan ilmu yang kami dapatkan dan kami tekuni. Semoga Allah tetap menautkan hati kami dalam rabithah yang kuat.... Meski sudah jarang bertemu. Amiin..
Salam Ekonom Rabbani

Khoni Indriani.

Friday, 7 September 2012

Merangkai Hikmah yang Terserak Hari Ini

image by google

Bismillah.
Ba'da tahmid wa shalawat.

Ya Allah, Yang Maha Tahu. Sesungguhnya mengamalkan ilmu itu butuh perjuangan. Butuh waktu dan kesempatan yang engkau berikan. Banyak bertebaran ilmu, namun terkadang kita tak memahami, apalagi mengamalkan. Itu karena, masing2 dari kita menunggu anugerah dari Allah untuk diberi "soal" yang harus kita selesaikan dengan mengamalkan ilmu yang kita miliki. Kesempatan emas itu seringkali kita sia-siakan, karena belum mampu dan mau untuk menggunakan senjata ilmu tersebut. Pada akhirnya, kita disuruh mengulang, remidi.

Hari ini, saya diberi kesempatan untuk mengamalkan beberapa ilmu..

Pertama, tetaplah tersenyum, separah apapun keadaannya.. Walaupun kita malu, kesal, gemas, dan ingin marah. Namun jika senyum kita dapat menenangkan kita dan orang-orang di sekitar, maka lakukanlah. Itu lebih baik untuk dikerjakan.

Kedua, niat baik yang dilaksanakan akan dibalas dengan 10 kebaikan. Saya meniatkan suatu tidakan agar dicatat sebagai kebaikan di sisi Allah. Dan Allah adalah Dzat Yang Anti Ingkar janji. Janjinya selalu benar. Dan sepanjang hari, saya merasa tenang.... Berkah dari niat baik yang dilaksanakan. Allah, Aku percaya. Janji-Mu selalu benar...

Ketiga, menahan amarah itu adalah hal yang paling sulit saya lakukan. Saya akui, saya ini pemarah. Pertanyaan yang sering saya gumamkan adalah, bagaimana menggunakan ilmu "Laa Taghdob" yang diulang oleh Rasulullah sampai 3x itu... Bagaimana Ya Allah? Saya selalu kalah, saya lemah karena tak bisa menahan amarah. Namun malam ini, saya berhasil mengendalikan marah. Marah yang sangat, emosi yang membara. Saya redam dengan satu tarikan nafas panjang........ Allah..... Beginilah rasanya memenangkan perang dengan diri sendiri... Dahsyat. Belum pernah aku rasakan hati ini begitu ringan untuk memaafkan. Baru kali ini saya benar-benar secara sadar memenangkan pertarungan dengan hawa nafsu bernama marah. Saya pun tergugu... T_T

Keempat, rizqum minallah min haitsu laa yahtahsib alias rizki Allah dari arah yang tak disangka-sangka itu benar-benar ada. Entah berkah dari amal baik kita yang mana..
Keep silaturahim, keep shadaqoh.

Jadikan shalat dan sabar sebagai penolongmu...
Salam,


Khoni Indriani.

Wednesday, 5 September 2012

Ambil yang Baik-baik, yang Buruk, Lupakan. (sejauh mana Anda bisa menerapkannya?)


image by google
Bismillah, ba'da tahmid dan sholawat.

Perjalanan ini dimulai dari niatan menyambung silaturahim. Kami sekeluarga mengunjungi salah seorang kerabat jauh, lalu mampir ke rumah seorang rekan ayah saya. Seorang bapak pensiunan guru, yang kini menjabat sebagai anggota MPR (Momong Putu lan Resik2 (Mengasuh cucu dan bersih2))

Rumahnya sederhana, di dekat sebuah pasar di beberapa kilometer arah barat jantung kota Ponorogo.
Dikatakan sederhana, karena lantainya biasa saja. Ubin yang jamak dipakai orang desa. Kata beliau, kalo lantai yang basgus, orang sungkan mendatangi rumah kita. Dikit-dikit di pel. Dindingnya ada sebagian yang 'gedhek' (anyaman bambu). Kata beliau selanjutnya, yang penting sejuk dan nyaman.

Beberapa waktu di rumah itu, saya mendapat pelajaran hidup yang akan saya rangkum buat nasihat saya sendiri khususnya dan semoga bermanfaat bagi pembaca. Karena beliau sudah lebih dulu mengecap asam garam kehidupan, tak ada salahnya ditulis. Sedikit-sedikit saya bisa menyerapnya. Biar lebih nempel.

Pertama, hidup itu harus dipenuhi dengan syukur. Tanpa syukur, sebanyak apapun yang kita miliki tidak akan menjadi rezeki. Ingat, yang kita miliki itu bukan rezeki. Rezeki adalah apa yang kita nikmati, sebatas penuhnya perut dan apa yang melekat di badan. Selebihnya? Wallahua'lam. Kapapun Allah mengambilnya, kita takkan kuasa melarangnya. Syukur, Chon. Catat.

Kedua, berbagi. Apa saja yang bisa kita bagi? Apakah menunggu kita cukup baru berbagi? Persimpel hidupmu kawan... Berbagilah dengan apa yang kita miliki saat ini, bukan menginginkan untuk berderma dengan apa yang kita belum punyai. Sesederhana itu cara berbagi dengantindakan nyata. Lakukanlah. Bukan bayangkanlah.

Ketiga, baca judul postingan ini.

Melihat kesederhanaan yang beliau, yang terpatri dalam otak saya adalah beliau berhasil memelajari prinsip hidup yang baik, yang dijalankan dengan baik pula. Ada satu kalimat indah, yang beliau ucapkan...

"Wong urip kuwi, ora usah ngelokne marang liyo... Sing ngatur iku Gusti Alloh, adewe ora nduwe hak ngelokke,"
(Orang hidup itu, nggak perlu mencemooh orang lain... Yang mengatur itu Allah, kita nggak berhak mencemooh.)

Terimakasih Bapak, telah mengajari saya sesuatu.
Meski ada beberapa hal yang tak saya sepakati dari Anda, saya merasa mendapatkan mutiara di pelosok sebuah desa. Saya yakin, ilmu itu bertebaran. Dengar apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan.

Semoga hikmahnya menjadi amal jariyah.

Wallahua'lam bish Showwab.

Ponorogo, 04/09/2012 23:50



Khoni Indriani.