Wednesday, 16 May 2012

Jangan Tunggu Hingga Kelak

Bismillahirrahmanirrahim.
Ba’da tahmid dan shalawat.
Berbicara tentang bakti kepada orangtua, seringkali yang terfikirkan hanyalah bagaimana membalas budi orangtua yang telah melahirkan, merawat dan membiayai kita selama ini. Aduh, saya harus sukses, supaya kelak dapat membahagiakan ortu.
Kelak.
Bagaimana jika yang kita sebut ‘kelak’ itu tak sempat kita capai? Bisakah kita mempercepat balas budi tadi, sehingga tak pernah ada kata menyesal, merasa belum pernah membahagiakan ortu?
doc. pribadi
Jawabannya adalah tergantung cara pandang kita terhadap bentuk balasan yang kita berikan. Balasan berupa materi mustahil kita berikan jikalau kita memang belum memiliki seuatu yang dapat kita persembahkan. Namun, balasan immaterial, kapan saja bisa kita kadokan buat orangtua kita.
Banggakah seorang ibu, melihat anaknya berprestasi dalam akademik?
Bahagiakah seorang ayah, yang anaknya mau menyajikan segelas kopi panas setelah penat bekerja?
Harukah orangtua jika anaknya mau berpamitan, mengucap salam dan mencium tangan keduanya saat berangkat kuliah maupun setiap keluar rumah?
Ya, setiap akhlaq mulia seorang anak, yang menunjukkan keshalihan pribadinya, akan membuat orangtua bahagia dan merasa cukup telah memiliki anak yang shaleh. Karena keshalihan akan melahirkan manusia yang berkualitas, yang tidak akan menyusahkan mereka. Yang menjadi cahaya dikala mendung menggelayut di kehidupan mereka. Ibumu, akan memelukmu bangga saat kau mencapai prestasimu. Ayahmu, akan menepuk pundakmu dan tersenyum. Matanya menyiratkan kalimat, “Anakku, ayah bangga padamu.”
Menjadi anak yang perhatian lagi peka terhadap kebutuhan orangtua, tanggap dalam mencairkan suasana, akan menjadi peringan beban bagi orang tua. Menghidupkan rumah, mengondisikannya menjadi syurga bagi seluruh penghuni, juga termasuk dari bakti yang bisa disegerakan melakukannya. Pandai-pandailah mengambil peran dalam keluarga. Bantuan sekecil apapun, akan sangat bermanfaat jika diberikan di saat yang tepat. Meredam ketegangan saat ada selisih pendapat juga merupakan penawar yang menolong. Ucapan yang baik, lantunan ayat suci, dan sapaan salam yang terjaga, akan menimbulkan ketenteraman bagi orangtua.
Bakti kepada orangtua, jangan engkau tunda-tunda.
Ibuku pernah berkata, “Sebanyak apapun uang yang dihasilkan oleh anak-anakku, aku tak ingin memintanya. Melihat kalian dapat mengurus diri sendiri, menjadi anak-anak yang shalihah, adalah kebahagianan terbesar ibu. Ibu sudah marem(puas). Ada yang bisa mendoakan ibu dan bapak ketika nanti sudah tiada,” Subhanallah.
Jadi, persiapkan hidupmu untuk beramal shalih. Terutama kepada kedua orangtuamu. Ibumu. Ayahmu. Siapalah yang paling berhak menerima bakti kita selain mereka? Untuk para muslimah, yang akan mengabdi pada suaminya, manfaatkan masa lajangmu tuk memberikan bakti terbaik bagi orang tua. Dan tetap rawatlah ibu bapakmu ketika senja membayangi mereka.
Kiranya, jika kita diberi kelimpahan materi kelak, orangtua takkan meminta seluruhnya untuk mereka nikmati. Meski segalanya telah mereka korbankan untuk kita sebelum kita berjaya. Saat kita masih papa. Olehkarena itu, sedekah terbaik adalah untuk kerabat dekatmu. Ibumu. Ayahmu. Saudaramu. Jangan kikir kepada orang terdekat kita. Jangan bermuka manis di depan khalayak, tapi bermuram di depan pera kerabat. Berikan mereka haknya, yang sepantasnya kita limpahkan dengan penuh kasih sayang.
Sudahkah kau memberikan senyum terbaikmu pada kedua orangtuamu hari ini?
Salam,


Khoni Indriani.

Ponorogo, 4 Mei 2012.
Untuk Ibuku yang senantiasa beraktivitas.
Inspiratorku untuk terus bergerak.

Kapan Kita “Bisa” Memberi?

photo by google
Memberi itu harus ikhlas, kalau tidak mending tidak usah...
Memberinya pas sudah berlebih saja, kalau sudah kaya...
Apakah dalam pikiran anda masih setuju dengan dua kalimat diatas? Kalau iya, segera ubah cara berfikir anda mulai sekarang! Asahlah sifat dermawan anda dengan mulai berbagi kepada sesama. Sekecil apapun, meski keadaan anda serba terbatas. Pas-pasan. Orang kaya memberi itu biasa, kata Pak Rhenald Kasali. Kalau orang miskin memberi, itu baru luar biasa. Pemberian yang paling indah, justru yang datang dari orang-orang susah.
Lho, bagaimana bisa berbagi? Saya kan masih kekurangan, masih pantas menerima pemberian. Ingatlah Sobat, kita sendirilah yang berhak menentukan tingkat kepantasan kita. Jika belum kaya, pantaskanlah diri menjadi orang dermawan dengan mulai berbagi. Berapapun nilainya. Allah memerintahkan untuk menafkahkan harta bukan hanya kepada orang-orang kaya, namun juga kepada orang miskin. Sebenarnya, kata-kata saya masih kekurangan, saya masih miskin, nanti saja berbaginya kalau sudah kaya, kalau sudah ikhlas, dan lain sebagainya hanyalah dalih yang menghalangi kita berbuat kebaikan. Kita yang tidak memantaskan diri menjadi seorang yang dermawan. Kita yang menghalangi rejeki kita sendiri.
Padahal dengan bersedekah, Allahlah yang akan mencukupi kebutuhan kita. Allah yang akan mengayakan kita. Memang, hanya sedikit orang yang beruntung, bisa berfikir dan meyakini bahwa janji Allah selalu ditepati. Suatu ketika saya menulis status di Facebook, kira kira isinya begini: “Jika kamu takut miskin, bersedekahlah. Maka Allah akan mengayakanmu.. #yuk, sedekah!” Saya menulis status ini setelah membaca sebuah hadits. Kemudian ada seseorang yang meninggalkan komentar, yang mengutip sepotong ayat, “Janganlah kamu memberi dengan mengharapkan imbalan yang lebih besar.” Hmmm, begitukah?
Okelah, Insya Allah ayat tersebut juga benar adanya. Dari sini, paling tidak saya bisa mengambil dua kesimpulan.
Pertama, mengimani janji Allah itu butuh suatu usaha yang tidak mudah. Ada saja yang berusaha melemahkan iman. Barangkali dengan ‘cara yang kurang tepat’ dan ‘tidak kontekstual’, menurut saya. Jika kita cermati, ajakan saya untuk bersedekah amat sangat mudah dipatahkan dengan sepenggal ayat. Kalo begitu, nggak usah bersedekah aja dong? Kan saya masih ingin kaya, mengharapkan imbalan yang Allah janjikan? Sedekah saya nanti  sia-sia dong? Yah, kalau saya menelan komentar tersebut mentah-mentah, mungkin saya urung bersedekah, dan tidak pernah mengajak orang lain untuk bersedekah.
Saya selalu berusaha menanamkan sikap positif dalam diri saya. Mungkin pendapat sahabat saya ini memang berbeda dengan apa yang saya yakini selama ini. Silakan saja, tidak masalah. Biar Allah yang menilai. Jika saya yang keliru, saya berdoa kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang paling benar. Amin.
 Kala itu saya hanya menjawab singkat, “Yupz, betul itu. Dan kita pun dilarang mengharap selain kepada Allah.” Maksud saya, sedekahnya tetep, mengharapkan rizki pun tak apa, asal berharapnya sama Allah. Yang tidak boleh kan kekeuh tidak sedekah dan berharap selain kepada Allah. Hehehe.. Iya, tho? =D
Yang kedua, tetaplah berbagi saat kita dilanda kesusahan. Hidup kita tak selamanya dalam posisi nyaman. Seringkali kita pailit, muflis. Tentunya kita jadi semakin rajin berdo’a kepada Allah. Memohon agar dikeluarkan dari kesulitan. Saat itu kita dilema. Mau berbagi, saya kan masih kekurangan. Kalo tidak berbagi, kita akan semakin terpuruk. Sudah miskin, pelit lagi. Sobat, ingatlah. Agar Allah menolong kita dari kesulitan, Allah memerintahkan kita untuk meringankan beban orang lain. Yakin deh, dengan tetap berbagi kita akan ditolong oleh Allah. Ingat, berharaplah hanya kepada Allah! Kalau kita berharapnya hanya kepada makhluk (misalnya hanya mengharapkan bantuan dari manusia atau bahkan menjurus ke syirik), tentu kita akan kecewa.
Sedikit renungan untuk kita. Manakah yang lebih kaya? Orang kaya yang tidak mau berbagi, atau orang miskin (baca: pas-pasan) yang masih mau berbagi kepada sesama?
Kalau saya boleh berpendapat, selama orang mau berbagi, dialah orang kaya yang sebenarnya. Sebanyak apapun harta yang ia miliki, ia belum disebut kaya jika kekayaannya hanya ditumpuk. Kekayaan bukanlah apa yang dimiliki, melainkan apa yang dinikmati. Selebihnya? Tidak berarti apa-apa jika tidak mau berbagi. Seperti kata Ippho Santosa, sejatinya kekayaan itu bukan soal mengumpulkan, melainkan soal membagikan.
Nah, bagaimana dengan Anda?

Kamar Renung, 15 Mei 2012.
Khoni Indriani

Tetap Berbagi di Kala Sempit

photo by google
Hidup tak selamanya diatas angin. Terkadang, kita juga mengalami masa berada di keadaan yang seba kekurangan. Ketika hal itu terjadi, apa yang kita lakukan?
Tak memiliki harta, jangan lantas kita pelit. Tetaplah berbagi, mekipun yang kita bagikan jauh lebih sedikit dari biasanya. Karena, inilah perang kita yang sesungguhnya. Perang melawan kekikiran, saat kemiskinan membelenggu kita.
Allah memerintahkan kita untuk bersedekah bukan hanya saat lapang, namun juga di kala sempit. Kita harus berupaya untuk mengalahkan rasa berat untuk mengikhlaskan harta yang amat kita cintai. Karena, siapapun pasti akan merasa berat ketika kesempitan datang, setiap sen, setiap harta yang kita miliki akan bernilai lebih besar daripada saat kita lapang.
Sedekah yang baik, bukan hanya saat kita ringan memberikannya tanpa beban. Saat kita amat berat dan enggan melepaskan apa yang kita punyai, namun kita tetap mmemberikannya (dengan berusaha keras untuk ikhlas), maka itu termasuk sedekah yang utama. Yakinlah, ketika kita mengalami kesulitan, seketika kesulitan itu akan hilang berganti dengan kemudahan seperti yang telah Allah janjikan. Dengan sedekah yang kita keluarkan, kita tak perlu takut miskin, namun yakinlah Allah akan segera membalasnya dengan membebaskan kita dari kekurangan.
Apabila kita sudah benar-benar tak memiiki sesenpun harta, apa yang harus kita sedekahkan? Tersenyumlah. Jangan nampakkan kesedihan kita menanggung segala macam problematika hidup kepada saudara-saudara kita. Itu adalah sedekah, dan insyaAllah kita akan lebih terjaga dari sifat putus asa. Meskipun tak ada kegembiraan yang dapat dibagi, setidaknya kita tak mengumbar kesedihan kepada oranglain. Cukup Allah yang mendengar keluh kesah kita. tak ada  Ada lagi cara yang lain. Doakan saudara seiman kita agar diberikan karunia oleh Allah. Mendoakan mereka, hakikatnya sama dengan mendoakan diri sendiri. Karena saat kita berdoa, malaikat akan mengaminkan doa tersebut, dan memohon kepada Allah agar kita juga diberi karunia sama dengan apa yang kita mintakan untuk saudara kita.
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.Begitulah janji Allah dalam salah satu firman-Nya. Tugas kita adalah meyakini bahwa janji Allah selalu benar.
Selamat berbagi! Semoga Allah mengayakan kita. Kaya harta, lagi kaya hati. Amin.

Moslem Must Be Rich, last modified 4 Mei 2012.

Latihan kini, Lincah Kemudian

photo by google
Berlatih menuliskan gagasan menjadi sebuah cerita, bukan hanya persoalan tersampaikannya ide cerita namun juga soal imajinasi dan bahasa yang terolah apik, sehingga tulisan yang disajikan menjadi memikat, bak sepiring nasi goreng yang mengundang selera calon pelahapnya dengan aroma yang menggugah saliva dan penyajian yang eye catching. Istimewa. Ya, menjadikan cerita kita menjadi istimewa, bisa diwujudkan dari paragraf pertama.
Salah satu cara mebumbui kisah agar sedap aromanya adalah dengan penggunaan kalimat pembuka yang efektif dan mengundang rasa penasaran. Satu menit pertama seseorang membaca kisah adalah moment yang harus termanfaatkan dengan bijak. Apalah arti tulisan yang bagus di tengahnya maupun ending yang dahsyat jika tulisan kita sudah diletakkan pada paragraf-paragraf awal. Sayang sekali bukan? Itulah mengapa tadi saya katakan, menulis cerita tak cukup hanya dengan ide ciamik, namun juga kepandaian kita meramu kata amatlah berpengaruh untuk menggaet selera pembaca.
Bolehlah, awal-awal karir kepenulisan kita banyak belajar tentang penyampeian ide dengan berbagai cara. Kita olah kata agar semuanya dapat masuk dalam cerita. Lalu, tulisan polos tersebut kita rombak lagi menjadi cerpen yang manis. Bukannya apa-apa, jumlah karakter yang terbatas menuntut penulis untuk merangkum tulisannya menjadi tulisan yang paat, bukan bertele-tele. Padat, bukan berarti harus berat. Cobalah berlatih membuat kalimat-kalimat yang kedengarannya lebih ringan untuk dibaca, dengan ide yang sama. Jangan memaksakan diri memasukkan seluruh kosakata yang rumit dan asing, sementara pembaca kita jadi terganggu karenanya. Pakailah bahasa yang ringan dan mengalir. Sehingga pembaca betah nongkrongin tulisan kita tanpa eneg, meskipun sesungguhnya tema dan pesan yang ingin kita sampaikan lumayan berat.
Itulah gunanya seni menulis dalam karya fiksi. Membaca cerpen-cerpen bagus akan memperkaya kosakata kita sehingga jemaripun kian lincah menuliskan gagasan-gagasan yang ada dalam kepala. Banyak membaca, demikian yang sering disarankan pera penulis hebat kita yang sudah malang melintang di jagad sastra. Dengan membaca, pikiran kita akan terus di-refresh,meminimalisir kebuntuan dan menambah bobot dalam tulisan kita. Faqidusy sya’i laa yu’tih, yang tak punya apa-apa takkan bisa memberi. Jika cawan kita kosong, apa yang mau dituang?
Sering-sering berlatih dapat membumbungkan imajinasi kita. Menulislah seribu kata perhari, niscaya kemampuanmu kan berkembang dengan pesat. Menulis apa? Apa saja! Bisa jurnal pengalaman harian, potongan cerpen, potongan bab novel, puisi, artikel, bahkan hanya sekedar ide mentah  (yang ditulis apa adanya). Tak masalah. Lambat laun tulisan kita akan lebih terarah. Jari ini perlu diasah untuk menulis dengan terus berlatih. Ketika memikirkan segelas jus jambu merah, coba ungkapkan dengan lebih indah. Misalnya, bagaimana runtutan kita mendapatkan buahnya, bagaiman membuatnya, sampai kita dapat meminumnya bersama seorang sahabat di suatu siang yang mengesankan. Cobalah untuk membayangkan tokoh kita bergerak menjalani perannya dengan baik, kemudian tuliskan dengan detail. Apa warna bajunya? Bagaimana nada bicaranya? Apa kebiasaan-kebiasaannya? Tuliskan saja, imajinasikan. Gunakan cara yang unik dalam memandang suatu hal. Gunakan kosakata yang jarang digunakan (tapi ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia). Pandai-pandailah menyusun percakapan dengan bahasa yang komunikatif dan ekspresif.
Akhirnya, kita dapat memaksimalkan latihan kita dengan menanamkan keberanian untuk dikritik. Share karya kita di jejaring sosial atau blog, lalu bukalah pintu selebar-lebarnya bagi pembaca kita untuk meberikan masukan. Kita akan mendapatkan mentor gratis dengan cara ini. Bisa jadi, komentar kritis dari pembaca dapat kita gunakan untuk perbaikan agar karya kita semakin mantap. Bisa juga dengan mencetak karya kita lalu edarkan kepada teman-teman untuk dikomentari. Pembaca yang baik tentu akan menunjukkan sisi kelemahan tulisan kita dengan objektif. Bersyukurlah jika mereka mau mengungkapkannya dengan jujur. Itu berarti, teman-teman kita mendukung kita untuk tumbuh. Mendorong kita untuk bekarya lebih baik lagi dengan tidak mengulangi kesalahan tersebut di kemudian hari.
Tekun adalah modal. Lapang dada menerima masukan adalah langkah awal keberhasilan belajar. Yakinlah, berlatih menulis satu paragraf hari ini adalah modal kesuksesan kita menuliskan satu buku tebal dikemudian hari.
Selamat berlatih, selamat berkarya.
Yo! Bismillah. Kita pasti bisa.

Ruang putih, 8 Mei 2012.
Ini aalah satu tulisan saya kala berlatih seribu kata per hari a la Tere Liye.
Meskipun note  ini hanya berjumlah 650-an kata.=D
Semoga bermanfaat dan mohon masukannya ya..!

Blog: Sepercik Semangat dari Kenangan Lampau.

photo by google
Tadi siang, iseng saya membuka beberapa tulisan blog jaman SMA yang sengaja saya simpan di folder draft akun email Yahoo. Mulanya iseng, saya copy blog saya ke Ms. Word. Sampai dirumah saya baca. MasyaAllah...
Ada rasa malu bercampur heran, benarkah dahulu saya suka menuliskan hal-hal seperti ini di blog saya? Astaghfirullah. Sebagian besar: memalukan. Sebagian lagi lumayan bagus. Mengingatkan saya bahwa aslinya saya emmang gemar menulis (halah!). Kosakatanya pun beragam, saya jadi kagum sendiri. Bahasa yang saya gunakan lepas, dan ‘lumayan’ kreatif. Seiring waktu, kreativitas yang tak diasah ini seolah terabaikan. Tulisan saya waktu itu masih meledak-ledak. Jika diolah dengan baik, tentu akan lebih mantap hasilnya. Ada sekitar sepuluhan draft postingan yang sempat ‘terselamatkan’ dari blog saya yang telah almarhum. Seingat saya ada lima puluhan blog yang saya posting kala itu di akun arsyidahamdah.multiply.com. Saya tak mengira, saya sudah menuliskan begitu banyak cerita, dari yang super konyol sampai super serius. Ada pula salah satu tulisan saya yang sempat menimbulkan kontroversi cukup gempar di dunia persilatan multiply.
Sungguh, kini saya memahami. Tulisan, sejatinya memang prasasti yang mengabadikan jalan pikiran kita. Isi otak kita, jika dibentangkan niscaya akan melahirkan tulisan-tulisan kreatif yang bermanfaat, menginspirasi dan mencerahkan. Sebaliknya, jika tak pernah ditorehkan akan membusuk, karena tak ada aliran ilmu yang terciprat keluar dari pemikiran kita. Sayang sekali, bukan?
Saya jadi senyum-senyum sendiri. Dulu, saya hanya mengandalkan laboratorium komputer sekolah untuk akses internet. Jika ada uang lebih, saya suka ke warnet. Bela-belain laper hanya untuk memuaskan hasrat menulis yang luar biasa tinggi. Seingat saya, akses internet semasa SMA tak secepat sekarang. Lambreta lambhorgini alias lambat banget. Tapi saya begitu sabar untuk menulis, memosting dan mereply komen-komen yang masuk. Subhanallah, tabah jaya ya? Hehe. Saya ingat, dulu saya pernah menulis sebuah blog dan siap diposting, ternyata.... Tiba-tiba koneksi terputus! Saya tak sempat menyimpan draft-nya di media lain, karena saya dulu biasa menulis ditempat alias flash blogging.
Bagaimana dengan sekarang? Akses internet lebih mudah dengan wifi di kampus maupun internet cepat di warnet terdekat. Tak perlu lama, tak perlu mahal. Informasi mudah didapat, surfing dan download amatlah mudah. Cepat, meskipun untuk ukuran dunia, internet kita sangat lambat. Namun dengan segala kemudahan itu, saya lengah. Ternyata, dorongan menulis bukan hanya sekedar tersedianya sarana. Passion, harus dibangun oleh kebiasaan yang terus menerus dipelihara. Percuma ada laptop dan wifi gratis jika keinginan menulis dari dalam diri tak ada. Saya merasakan betul, benturan itu bukan lagi soal ketiadaan sarana, melainkan passion yang sirna. Astaghfirullah, saya telah menyia-nyiakan berlian waktu dengan percuma. Semestinya kontinuitas dan eksistensi menulis tetap teguh dijalankan, mengingat banyaknya kesempatan yang tersaji. Melawan rasa malas dalam lapang ternyata lebih sulit daripada melawan keterbatasan. Saat keadaan terbatas, jiwa kreatif malah lebih terasah. Semangat untuk berkarya juga tetap menyala.
Alhamdulillah, Jum’at yang penuh berkah. Terimakasih Ya ‘Aliim, Ya Fattah. Tanpa izin-Mu, jari ini takkan tergerak membuka kunci yang selama ini saya cari-cari. Semangat itu muncul, melompat dari masa beberapa tahun silam. Mencuat begitu saja, menantang saya untuk berkarya. Mengingatkan saya tentang cita-cita untuk menghunus pena di medan dakwah. Memantik jiwa saya untuk menghidupkan kembali semangat yang sempat pudar, diguyur alpa.
Semangat berkarya. Semoga Allah berikan jalan terbaik bagi kita tuk merajut kembali kalimat yang terserak. Menorehkannya sebagai amal baik di dunia, sebagai bekal di akhirat. Amin, Ya Rabb.

Tepian Danau Hikmah,
4 Mei 2012