Monday, 18 January 2016

Inilah Mengapa Kita Butuh Mendengarkan Ceramah Para Ulama

Saya adalah tipe orang yang sangat mendengarkan omongan, anjuran, dan saran dari ulama yang saya percaya pada beliau. Sebenarnya tidak boleh begitu juga. Karena kita disuruh untuk mendengarkan apa yang dibicarakan, bukan melihat orang yang bicara. Namun, bagi saya pribadi mendengarkan para ulama berceramah adalah sebuah keberuntungan yang menyejukkan hati.

Ibaratnya kita mendengar seorang dokter yang memberikan anjuran untuk kita mengenai obat yang harus kita minum supaya kita sembuh dari penyakit yang kita idap. Jika yang bicara adalah seorang juru masak, maka kita tidak mungkin langsung percaya seperti kala kita mendengan anjuran resep dokter. Begitu pula dengan ulama. Saya mendengar dan percaya omongan ulama tertentu karena sudah terbangun trust kepada ulama tersebut. Jika saya tidak mengenal profil beliau, belum tentu saya langsung mendengar dan manut, meski yang dibicarakan kontennya sama.

Setelah saya simpulkan, saya sangat mendengarkan beberapa ceramah ustad yang saya dapatkan baik dari youtube, audio, artikel, status, buku, dan lainnya. Pertama adalah Ustad Yusuf Mansur, kemudian Aa Gym, Ustad Felix Siauw, dan Ustad Syafiq Reza Basalamah. Kalau tokoh lainnya dari bidang disiplin ilmu dan motivator yang saya dengarkan adalah Ippho Santosa, Syafi'i Antonio, Rhenald Kasali, Fikri Fatullah, Saptuari Sughiharto, Bambang Trim, dan Jamil Azzaini. Yang lainnya masih saya ingat-ingat lagi ada beberapa nama yang masih terlewat.

Saya rutin mendengarkan apa yang beliau-beliau di atas sampaikan (dari berbagai media). Saya seneng gitu lho, meskipun ceramahnya sudah tahun kapan gitu tetap saya ikuti selama kontennya masih cocok dengan apa yang saya butuhkan. Karena setiap orang kan cenderung mencari jawaban serta solusi dari permasalahan hidupnya. Begitu pula dengan saya. Saya bersaha mencari jawaban dari permasalahan hidup saya dengan mendengarkan ceramah para ulama ini.

Walaupun yang kita dengar sudah pernah kita dengar, tiga kali, empat kali, bahkan sepuluh kali, tidak masalah. Justru itu akan memperkuat pesan yang kita pelajari dari para ulama tersebut. Misalnya saya belajar tentang sedekah, tentang ngapal qur'an, tentang sholat dhuha dan tahajjud, tentang menulis, tentang bisnis, tentang uang (dan utang , hehehe) dan banyak topik lainnya. Semakin banyak diulang, kita akan semakin paham. Oleh karena itu, kita selalu butuh siraman ruhani berupa ceramah dan tulisan dakwah/ilmu dari para ulama. Jika tidak, kita akan kering dan jauh dari cahaya ilmu.

Semoga kita istiqomah berada di jalur para penuntut ilmu, khususnya ilmu agama supaya kita jadi orang yang beruntung. Semoga. Allahuma aamiin...

Thursday, 14 January 2016

Pindah ke Rumah Kontrakan

Awal tahun 2016 ini saya isi dengan melakukan beberapa gebrakan dalam hidup saya. Sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya memutuskan untuk tinggal di rumah kontrakan. Belum sih, masih belum. Namun rumah sudah saya DP 30%. Itu berarti sudah 30% saya mantap untuk tinggal di rumah kontrakan, hidup terpisah dari mertua. Ada beberapa alasan saya pindah, dan biarlah alasan-alasan itu menjadi rahasia pribadi saya dan suami saya.

Rasanya tidak terbayangkan kami harus pindah secepat ini. Namun, inilah hidup. Kami tidak tahu juga sebelumnya akan mengalami hal ini. Namun, kami yakin, Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Kami mungkin tidak menduganya, namun jika yang mengatur ini semua adalah Allah, mengapa kami harus menolaknya? Bukankah Dia tidak pernah menganiaya hamba-Nya?

Oleh karena itu, saya mantap untuk pindah awal bulan depan. 1 Februari 2016 akan menjadi saksi kami berdua untuk memulai hidup baru. Menjalani rumah tangga berdua, tanpa campur tangan siapapun lagi. Oke, orang tua pasti tetap ada campur angan, namun urusan rumah tangga kami biarlah menjadi urusan kami berdua. Kami sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan urusan kami, tidak perlu didikte lagi, sehingga kami bisa menjalani kehidupan dengan nyaman, aman dan tenang.

Mungkin, banyak yang harus kami korbankan. Mungkin, banyak biaya yang harus kami bayarkan. Namun, itu semua merupakan bagian dari pilihan hidup. Ada harga yang harus dibayar dan saya yakin Allah tidak akan pernah membiarkan hambanya menangung ujian yang lebih berat dari batas kemampuannya. Begitupula dengan kami, kami pasti bisa menghadapi ini semua dengan tegar. Karena saya yakin bahwa Allah bersama kami, tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan Allah SWT. Jika Dia berkehendak, maka tidak ada satupun kekuatan manusia yang sanggup menyaingi kekuasaaannya. Aku pasrahkan diriku dan suamiku pada Allah. Biarlah kami diurus oleh-Nya.

TIdak ada pula yang sanggup merusak mitsaqon ghaliza yang telah mas ikrarkan 16 September 2015 yang lalu. Tidak ada satupun kekuatan manusia yang sanggup merusak ikatan suci yang Allah saksikan, karena Dia-lah sebaik-baik pelindung. Aku memohon perlindungan-Nya, dari segala marabahaya dansifat buruk manusia. Aku berlindung dari kesewenang-wenangan manusia. Hanya ia lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik pemberi pertolongan.

Thursday, 7 January 2016

Akankah Aku Melanjutkan Karir Sebagai Dosen? Inilah Kegalauanku Menjelang S2

Saat ini aku bekerja di almamaterku dulu, sebagai DTT (dosen tidak tetap). Hal ini karena statusku belum mengenyam dan lulus pendidikan S2, sehingga di sini aku direkrut dan diberdayakan untuk S2 dan menjadi dosen di jurusan Ekonomi Pembangunan. Nah, ini adalah tahun peramaku di sini, semester ganjil sudah hampir beakhir (aku menulis catatan ini saat menjaga ujian akhir semester ganjil). Di sinilah aku mulai banyak berpikir dan galau karena sudah saatnya tahun 2016 ini aku harus melanjutkan studi S2-ku.

 Kegalauanku ini beralsan, dan alasan satu-satunya yang membuatku gundah adalah masalah biaya. Aku berencana untuk studi lanjut di universitas yang ada di kotaku, yang kebetulan ada jurusan Magister Ekonomi Islam. Sudah sangat sesuai dengan apa yang aku inginkan: Ekonomi Islam, dekat dengan rumah dan tempat kerja dan biaya sangat terjangkau bila dibandingkan dengan jika aku harus kuliah di luar kota Ponorogo. Namun, biaya yang sangat terjangkau itu kini tak bisa aku remehkan. Menimbang kekuatanku dalam membayar biaya pendidikan S2, rasa-rasanya aku belum mampu untuk melakukannya.

Aku bilang masih rasa-rasanya. Karena belum tentu juga aku tidak mampu. Pendaftaran S2 biasanya antara bulan Mei-Agustus. Dari sekarang aku punya waktu sekitar 3-7 bulan untuk menyiapkan dana pendidikan S2-ku. Aku berncana untuk menanggung biaya secara mandiri, karena tidak memungkinkan untuk mengambil beasiswa (sekali lagi, aku mengukur kemampuanku saat ini). Aku bingung, saat ini kondisi keuanganku tidaklah baik. Jika aku punya penghasilan (dan juga penghasilan suamiku), maka itu "hanya cukup" untuk biaya hidup sehari-hari dan membayar berbagai cicilan. Untuk mengupayakan uang pendaftaran dan uang kuliahku nantinya, aku belum bisa menjamin.

Saat ini, aku sudah sedikit agak tenang setelah sharing dengan suami dan juga rekan kerjaku (yang saat ini juga masih melanjutkan studi S2 di Solo). Akhirnya aku sampai pada keputusan bahwa aku akan berusaha untuk mengumpulkan dana dan nanti aku akan berkonsultasi dengan pimpinanku di fakultas. Entah, nanti selanjutnya aku masih bekerja sebagai dosen atau tidak, aku pasrah pada Yang Maha Kuasa. Karena aku yakin, apapun itu, itulah yang terbaik bagiku yang sudah digariskan untukku oleh Allah SWT.

Alternatif selanjutnya jika aku tidak meneruskan karirku sebagai dosen, aku akan bekerja di tempat lain jika memnag itu yang terbaik bagiku. Aku akan menjalaninya, dengan bahagia juga.

Sekarang, saatnya aku melanjutkan kehidupanku, hidup hari ini dan tidak lupa bahagia. Bismillah. Insya Allah, semua pasti ada solusinya. (Jadi keingat lagunya mamah dan aa'). Doakan saya, teman-teman.