Saturday, 22 October 2016

Hamil Itu... Amazing!

Bismillah.
Lama nggak nulis ya? Haha, ya begitulah. Nulis kalau pas inget aja kalau punya blog ini. Tak terasa, sudah setahun lebih pernikahanku. Dan hadiah terbaiknya adalah, ada debay di dalam perutku sekarang! Alhamdulillah...

Usia kehamilanku hampir 12 minggu. Alhamdulillah, trisemester pertama aku lalui dengan lancar. Morning sickness ngalamin, namun nggak parah. Masih bisa makan, masih bisa aktivitas. Kadang ngantuk dan males-malesan aja. Apalagi sekarang udah nggak kerja. Jadi lebih sering istirahatnya.

Ngidam? Iya sih, tapi lebih tepatnya makan amkanan kesukaan yang sudah lama nggak dimakan. Mumpung ada yang belikan, jadi ya ngidam. Wkwkwkwk. Tapi, menjelang trismester kedua ini anehnya aku malah nggak kepengen makan yang spesial. Kadang malah malas makan gitu deh. Tapi harus tetap makan, demi pertumbuhan dan perkembangan debay dalam kandungan. Vitamin nggak ketinggalan tiap malam, hanya saja aku nggak minum susu. Nanti deh kalau trismester kedua dan ketiga lebih sering minum susu ibu hamil. Mau nggak mau harus nabung kalsium buat debay dan asi.

Kemarin kontrol ke bidan, sekalian USG. Alhamdulillah, debaynya sehat dan aktif banget gerakannya. Saat aku melihat bayiku di layar monitor, aku sempat speechless. Ada makhluk mungil yang berenang-renang di dalam rahimku. Detak jantungnya, kepala, badan, tangan, dan kakinya, masyaAllah, sangat luar biasa! Baru pertama kali melihat dia, aku langsung jatuh cinta.

Alhamdulillah, aku bersyukur banget dengan kehamilan ini. Semoga lancar saat hamil, juga lancar saat melahirkan. Dimudahkan, agar bisa lahiran spontan. Bayi dan ibunya sehat. Doakan ya teman-teman...

Yah, nggak ada kata-kata lain deh. Hamil itu... Amazing!


Indriani Taslim

Monday, 8 August 2016

Keajaiban-keajaiban Alloh yang Saya Syukuri Tanpa Lelah



Bismillah.

Wah, nggak terasa sudah 5 bulan saya nggak nulis sejak postingan terakhir. Apa kabar saya 5 bulan ini? Sudah ada perubahan apakah? Hmmm, sepertinya saya perlu menjadikan postingan ini sebagai muhasabah alias introspeksi diri saya supaya tidak terlarut dalam kehidupan yang monoton tanpa progress.

Sejak membahas tentang jualan online kemarin, tak terasa sudah banyak sekali perubahan dalam hidup saya. Pertama, saya sudah punya smartphone (finally!). Tahukah kamu, saya mendapatkan smartphone tersebut secara gratis karena dibelikan kakak saya yang pertama. Hahaha.

Nggak apa-apa kan, namanya juga rezeki. Datangnya dari mana saja, dan suka-suka Alloh yang ngasih lewat jalan yang mana. Kebetulan kakak saya ini memang sudah pernah bilang mau membelikan hp sejak setahun yang lalu. Namun baru terealisasi pada tanggal 16 Mei 2016. Saya beli Vivo Y21 dengan harga 1,5 juta TUNAI nggak pake nyicil. Hehehe.

Kenapa saya tekankan TUNAI-nya? Mungkin, inilah hikmah saya tidak mau berhutang lagi untuk mendapatkan sesuatu. Alloh kasih jalan untuk mendapatkan benda yang bermanfaat bagi saya dengan cara yang TUNAI, tanpa saya harus berhutang. Memang, statusnya dikasih. Namun, saya bersyukur bahwa kenyataannya hal itu lebih baik daripada saya harus beli secara kredit.

Kedua, saya sudah resign dari pekerjaan saya sebagai dosen tidak tetap. Ini adalah keputusan yang ekstrim, mengingat saya harus mempertimbangkannya selama satu semester untuk dapat mengambil keputusan yang mengubah keseluruhan hidup saya kedepannya. Alhamdulillah, resign ini berbuah manis, Kawan. Saya mendapatkan pekerjaan pengganti yang Masya Alloh, sesuai banget denganpassion dan kemampuan saya.

Ketiga, pekerjaan pengganti yang saya maksudkan tadi adalah…menulis artikel web. Ya, saya kembali menekuni pekerjaan menulis yang sebelumnya pernah saya lakukan yakni menjadi penulis konten web. Pekerjaan ini terakhir saya pegang sekitar bulan maret 2016.

Setelah lepas dari semua web yang pernah meng-hire saya jadi penulis, kali ini saya mendapatkan tawaran dari seorang teman lama yang sungguh saya tidak menduga bahwa saya akan dipertemukan kembali dengannya dalam kondisi saat saya baru saja 2 hari resign dari kampus. Masya Alloh. Begitu luas karunia-Mu Ya Rabb…

Saya memang berencana untuk tinggal di rumah dan melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah. Planning saya adalah mengerjakan bisnis flanel dan bisnis online (sebagai marketer produk). Namun, Alloh paling tahu apa yang saya butuhkan dan apa yang bisa saya lakukan. Maka, tanpa pikir panjang lagi saya menyanggupi pekerjaan menulis artikel ini.

Tugas saya adalah menulis 5 artikel per hari, tiap artikel 300 kata. Mudah atau sulit? Bagi saya mudah, karena saya pernah mengerjakan 10 artikel per hari, per artikel 300-500 kata. Saya juga pernah menulis artikel 1000 kata, dan jika dibandingkan dengan pekerjaan saat ini, saya menulis sekitar 1500 kata per hari. Nggak jauh beda, kan?

Lalu, hal yang membuat saya makin bersyukur adalah saya bisa menghasilkan uang hampir 10 kali lipat dari yang saya hasilkan ketika menjadi dosen tidak tetap. Saya bersyukur, bisa bekerja dari rumah saja hanya bermodalkan gadget dan koneksi internet. Saya bersyukur, pekerjaan yang saya kerjakan adalah hal yang saya sukai dan saya bisai. Saya bersyukur, Alloh memberi saya kesempatan untuk memanfaatkan potensi saya.

Oleh karena itu, setiap hari saya bersyukur bisa menulis banyak hal yang bermanfaat bagi orang lain. Saya jadi banyak belajar lagi, mengasah kemampuan saya di bidang tulis menulis. Saya bisa bekerja sesuai bidang saya, selagi ada kesempatan. Saya tidak tahu, kedepannya akan seperti apa. Yang jelas, saya benar-benar memafaatkan kesempatan  yang datang pada saya saat ini sebaik-baiknya.

Keempat, pernikahan saya akan genap berusia 11 bulan per 18 Agustus 2016 nanti. Dan saya belum dikaruniai momongan. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Selepas resign, semoga Alloh memberi saya limpahan rezeki berupa amanah yang diidamkan setiap pasangan yakni anak yang shalih dan shalihah. Doakan ya, Kawan.

Kelima, hikmah lainnya yang bisa saya petik adalah saya jadi punya waktu untuk memperbaiki bacaan Al Quran (tahsin) dan menghafal Al Quran (tahfidz). Saya sellau berharap rezeki yang lebih nikmat dari uang, yakni berupa hafalan dan pemahaman terhadap Al Quran. Maka selagi ada waktu dan kesempatan saya akan terus memperbaiki bacaan dan menghafalkan Al Quran.

Kebetulan, saya tahsin di Griya Quran Al Furqon di Jl. Dr. Soetomo 72 Ponorogo. Alhamdulillah, walau agak jauh dari tempat tinggal saya sekarang tidak mengapa. Semoga bisa menjadi wasilah saya mendapatkan pahala yang lebih besar dan menjadi medan jihad saya untuk belajar Al Quran. Aamiin.

Keenam, kabar baiknya saya masih bisa meluangkan waktu untuk mengurus bisnis kerajinan tangan saya, Ichonochan Craft. Selain flanel, saya merambah ke bahan lain yakni renda dan mutiara sintetis yang tentunya membutuhkan ketekunan untuk membuat usaha saya ini tetap jalan. Hehehe. Lumayan lah, buat tambahan penghasilan dan hiburan kala jenuh menulis dan melakukan pekerjaan rumah tangga.

Ketujuh, ini mungkin jadi yang terakhir ya karena sudah kepanjangan nulisnya. Hehehe. Akhirnya saya unya waktu untuk memasak! Hore… Saya sudah mencoba beberapa menu dan hasilnya juga lumayan. Jadi, nanti kalau mau masak nggak bingung dan coba-coba terus. Kasihan suami saya yang jadi lidah percobaan terus. Hehehe.

Ya, begitulah yang terjadi selama lima bulan terakhir. Tentunya moment seperti ramadhan dan hari raya kemarin juga istimewa untuk diceritakan, namun bukan di postingan ini. Insya Alloh akan saya tulsi lain waktu. Saya nggak bisa janji apapun apakah saya akan sering menulis di blog ini atau tidak, karena selain mengerjakan 5 artikel, saya juga sudah ancang-ancang untuk menulis di web lain 1 artikel per hari. Jadi, totalnya sudah 6 artikel per hari.

Saya juga berencana untuk rutin menulis di blog wordpress saya, karena untuk jangka panjang juga blog tersebut akan saya kembangkan untuk bisnis. Doakan saja ya, semoga bisa berjalan seperti kemauan. Yang paling penting, teruslah berkarya dan berikan manfaat bagi orang lain.

Regards,

Indriani Taslim.

Sunday, 6 March 2016

Jualan Online itu...

Bismillah.
Saya sudah lama kenal jualan online. Dulu saya jual flanel, sabun, dan gamis lewat facebook, tapi belum ada yang benar-benar berhasil (versi saya). Menurut saya, kelemahan saya adalah tidak konsisten, tidak serius belajar, dan keterbatasan gadget. Sebenarnya hanya alasan saja, karena ketiganya masih bisa diusahakan jika benar-benar mau sukses dalam bisnis online.

Makin ke sini, perkembangan gadget makin canggih. Pilihan jual produk nggak hanya di facebook saja. Ada instagram, twitter, blog. Market place seperti olx, buka lapak, tokopedia. Kemudian untuk closingnya ada berbagai aplikasi chatting di android seperti via bb, whatsapp, telegram, line, dll. Pokoknya semuanya saya yakin punya peluang untuk bisa sukses jalankan bisnis online dengan modal koneksi internet yang banyak pula pilihan paket murah dari para operator. Gadget apa yang saya miliki? Saat ini saya punya laptop dan suami punya tablet (saya masih pake hp jadul samsung batangan). Dua-duanya konek ke internet pake paketan indosat (30k/bln)dan smartfren (50k/bln). Nah, gadget sudah ada, koneksi ada, jadi, apa yang menghalangi saya untuk bisnis online?

Saya kemarin sempat kepikiran untuk nabung buat beli smartphone. Kebetulan kakak ipar saya punya hp redmi yang buagus kameranya. Harganya 1,5jt rupiah. Jadi kepincut pengen nabung dan beli serupa. Tapi, setelah saya diajak suami lihat-lihat HP di pasar toko hape, pengetahuan saya jadi kebuka bahwa sekarang yang namanya hp android bejibun jenis dan harganya. Bahkan ada hp cina beragam merk harga 850 ribuan sudah bagus speknya, layar 5inch. Wow! saya pun makin semangat dan optimis bisa nabung kalo segitu (6 bulan gitu masa gak dapet uang 850rb?). Intinya, gadget kini bukan lagi halangan, tinggal niat untuk modal usaha (kan itungannya modal, bisa dimasukkan variabel peralatan yang ada penyusutannya) maka gadget pun bisa kebeli.

Nah, kembali ke permasalahan jualan online. Saya sekarang sudah tinggal di kontrakan, berdua sama suami. Saya ngajar 2x seminggu. Jadi ada waktu 5 hari buat saya jualan online karena di rumah kegiatan saya ya seputar aktivitas rumah tangga dan masih menjalankan bisnis flanel (bikin aksesoris flanel). Saya sih sudah berusaha untuk browsing artikel mulai dari jualan jilbab, jualan aksesoris, jualan kaoskaki dan handsock, pokoknya yang kira-kira bisa laku lah. Jualan gamis juga pengen sih tapi modal belum nyampe buat kulakannya. Ide bisnis online yang melimpah ini belum bisa tereksekusi seluruhnya karena berbagai hambatan yang nggak bisa diprediksi. Hmm, saya jadi makin mikir, gimana caranya biar jago jualan online? Yang saya yakini, ketika saya terus belakar, maka suatu saat pasti ada kesempatan untuk mengamalkan ilmu jualan yang saya dapat. Saya belajar juga copywriting, dll untuk meningkatkan penjualan. Tapi ya itu, saya masih kebanyakan tapi. Hehehehe.

Itulah sekilas yang bisa saya bagikan hari ini. Oya, saya juga ingin mulai aktif menulis lagi di blog ini dan blg saya satunya yang di wordpress (sama alamat depannya indrianitaslim.wordpress.com). Bedanya, kalau di sini lebih banyak nyampah curhatnya, sedangkan di sana artikelnya lebih ilmiah, dan profesional. Hahaha. Kalau di sini masih kebanyakan haha hihinya. Rencananya, blog saya yang di wordpress itu adalah investasi masa depan saya yang kelak akan saya dotkomkan. Tapi ya sudahlah, masih wordpresspun nggak papa. Saya malah gak beban sama biaya domain dan hosting. Fokus ngisi artikel bagus saja dulu, dotkom dan uang nyusul kemudian. Betul tidak?

Doakans aya, bisa lancar dalam belajar jualan online dan bisa mewujudkan impian-impian saya (jadi orang kaya yang bermanfaat). Saya doakan yang baca ini juga mendapat rahmat dari Allah untuk bisa maju, sukses jadi pengusaha. Aamiin. Terimakasih sudah membaca.

Indriani Taslim

Monday, 18 January 2016

Inilah Mengapa Kita Butuh Mendengarkan Ceramah Para Ulama

Saya adalah tipe orang yang sangat mendengarkan omongan, anjuran, dan saran dari ulama yang saya percaya pada beliau. Sebenarnya tidak boleh begitu juga. Karena kita disuruh untuk mendengarkan apa yang dibicarakan, bukan melihat orang yang bicara. Namun, bagi saya pribadi mendengarkan para ulama berceramah adalah sebuah keberuntungan yang menyejukkan hati.

Ibaratnya kita mendengar seorang dokter yang memberikan anjuran untuk kita mengenai obat yang harus kita minum supaya kita sembuh dari penyakit yang kita idap. Jika yang bicara adalah seorang juru masak, maka kita tidak mungkin langsung percaya seperti kala kita mendengan anjuran resep dokter. Begitu pula dengan ulama. Saya mendengar dan percaya omongan ulama tertentu karena sudah terbangun trust kepada ulama tersebut. Jika saya tidak mengenal profil beliau, belum tentu saya langsung mendengar dan manut, meski yang dibicarakan kontennya sama.

Setelah saya simpulkan, saya sangat mendengarkan beberapa ceramah ustad yang saya dapatkan baik dari youtube, audio, artikel, status, buku, dan lainnya. Pertama adalah Ustad Yusuf Mansur, kemudian Aa Gym, Ustad Felix Siauw, dan Ustad Syafiq Reza Basalamah. Kalau tokoh lainnya dari bidang disiplin ilmu dan motivator yang saya dengarkan adalah Ippho Santosa, Syafi'i Antonio, Rhenald Kasali, Fikri Fatullah, Saptuari Sughiharto, Bambang Trim, dan Jamil Azzaini. Yang lainnya masih saya ingat-ingat lagi ada beberapa nama yang masih terlewat.

Saya rutin mendengarkan apa yang beliau-beliau di atas sampaikan (dari berbagai media). Saya seneng gitu lho, meskipun ceramahnya sudah tahun kapan gitu tetap saya ikuti selama kontennya masih cocok dengan apa yang saya butuhkan. Karena setiap orang kan cenderung mencari jawaban serta solusi dari permasalahan hidupnya. Begitu pula dengan saya. Saya bersaha mencari jawaban dari permasalahan hidup saya dengan mendengarkan ceramah para ulama ini.

Walaupun yang kita dengar sudah pernah kita dengar, tiga kali, empat kali, bahkan sepuluh kali, tidak masalah. Justru itu akan memperkuat pesan yang kita pelajari dari para ulama tersebut. Misalnya saya belajar tentang sedekah, tentang ngapal qur'an, tentang sholat dhuha dan tahajjud, tentang menulis, tentang bisnis, tentang uang (dan utang , hehehe) dan banyak topik lainnya. Semakin banyak diulang, kita akan semakin paham. Oleh karena itu, kita selalu butuh siraman ruhani berupa ceramah dan tulisan dakwah/ilmu dari para ulama. Jika tidak, kita akan kering dan jauh dari cahaya ilmu.

Semoga kita istiqomah berada di jalur para penuntut ilmu, khususnya ilmu agama supaya kita jadi orang yang beruntung. Semoga. Allahuma aamiin...

Thursday, 14 January 2016

Pindah ke Rumah Kontrakan

Awal tahun 2016 ini saya isi dengan melakukan beberapa gebrakan dalam hidup saya. Sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya memutuskan untuk tinggal di rumah kontrakan. Belum sih, masih belum. Namun rumah sudah saya DP 30%. Itu berarti sudah 30% saya mantap untuk tinggal di rumah kontrakan, hidup terpisah dari mertua. Ada beberapa alasan saya pindah, dan biarlah alasan-alasan itu menjadi rahasia pribadi saya dan suami saya.

Rasanya tidak terbayangkan kami harus pindah secepat ini. Namun, inilah hidup. Kami tidak tahu juga sebelumnya akan mengalami hal ini. Namun, kami yakin, Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Kami mungkin tidak menduganya, namun jika yang mengatur ini semua adalah Allah, mengapa kami harus menolaknya? Bukankah Dia tidak pernah menganiaya hamba-Nya?

Oleh karena itu, saya mantap untuk pindah awal bulan depan. 1 Februari 2016 akan menjadi saksi kami berdua untuk memulai hidup baru. Menjalani rumah tangga berdua, tanpa campur tangan siapapun lagi. Oke, orang tua pasti tetap ada campur angan, namun urusan rumah tangga kami biarlah menjadi urusan kami berdua. Kami sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan urusan kami, tidak perlu didikte lagi, sehingga kami bisa menjalani kehidupan dengan nyaman, aman dan tenang.

Mungkin, banyak yang harus kami korbankan. Mungkin, banyak biaya yang harus kami bayarkan. Namun, itu semua merupakan bagian dari pilihan hidup. Ada harga yang harus dibayar dan saya yakin Allah tidak akan pernah membiarkan hambanya menangung ujian yang lebih berat dari batas kemampuannya. Begitupula dengan kami, kami pasti bisa menghadapi ini semua dengan tegar. Karena saya yakin bahwa Allah bersama kami, tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan Allah SWT. Jika Dia berkehendak, maka tidak ada satupun kekuatan manusia yang sanggup menyaingi kekuasaaannya. Aku pasrahkan diriku dan suamiku pada Allah. Biarlah kami diurus oleh-Nya.

TIdak ada pula yang sanggup merusak mitsaqon ghaliza yang telah mas ikrarkan 16 September 2015 yang lalu. Tidak ada satupun kekuatan manusia yang sanggup merusak ikatan suci yang Allah saksikan, karena Dia-lah sebaik-baik pelindung. Aku memohon perlindungan-Nya, dari segala marabahaya dansifat buruk manusia. Aku berlindung dari kesewenang-wenangan manusia. Hanya ia lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik pemberi pertolongan.

Thursday, 7 January 2016

Akankah Aku Melanjutkan Karir Sebagai Dosen? Inilah Kegalauanku Menjelang S2

Saat ini aku bekerja di almamaterku dulu, sebagai DTT (dosen tidak tetap). Hal ini karena statusku belum mengenyam dan lulus pendidikan S2, sehingga di sini aku direkrut dan diberdayakan untuk S2 dan menjadi dosen di jurusan Ekonomi Pembangunan. Nah, ini adalah tahun peramaku di sini, semester ganjil sudah hampir beakhir (aku menulis catatan ini saat menjaga ujian akhir semester ganjil). Di sinilah aku mulai banyak berpikir dan galau karena sudah saatnya tahun 2016 ini aku harus melanjutkan studi S2-ku.

 Kegalauanku ini beralsan, dan alasan satu-satunya yang membuatku gundah adalah masalah biaya. Aku berencana untuk studi lanjut di universitas yang ada di kotaku, yang kebetulan ada jurusan Magister Ekonomi Islam. Sudah sangat sesuai dengan apa yang aku inginkan: Ekonomi Islam, dekat dengan rumah dan tempat kerja dan biaya sangat terjangkau bila dibandingkan dengan jika aku harus kuliah di luar kota Ponorogo. Namun, biaya yang sangat terjangkau itu kini tak bisa aku remehkan. Menimbang kekuatanku dalam membayar biaya pendidikan S2, rasa-rasanya aku belum mampu untuk melakukannya.

Aku bilang masih rasa-rasanya. Karena belum tentu juga aku tidak mampu. Pendaftaran S2 biasanya antara bulan Mei-Agustus. Dari sekarang aku punya waktu sekitar 3-7 bulan untuk menyiapkan dana pendidikan S2-ku. Aku berncana untuk menanggung biaya secara mandiri, karena tidak memungkinkan untuk mengambil beasiswa (sekali lagi, aku mengukur kemampuanku saat ini). Aku bingung, saat ini kondisi keuanganku tidaklah baik. Jika aku punya penghasilan (dan juga penghasilan suamiku), maka itu "hanya cukup" untuk biaya hidup sehari-hari dan membayar berbagai cicilan. Untuk mengupayakan uang pendaftaran dan uang kuliahku nantinya, aku belum bisa menjamin.

Saat ini, aku sudah sedikit agak tenang setelah sharing dengan suami dan juga rekan kerjaku (yang saat ini juga masih melanjutkan studi S2 di Solo). Akhirnya aku sampai pada keputusan bahwa aku akan berusaha untuk mengumpulkan dana dan nanti aku akan berkonsultasi dengan pimpinanku di fakultas. Entah, nanti selanjutnya aku masih bekerja sebagai dosen atau tidak, aku pasrah pada Yang Maha Kuasa. Karena aku yakin, apapun itu, itulah yang terbaik bagiku yang sudah digariskan untukku oleh Allah SWT.

Alternatif selanjutnya jika aku tidak meneruskan karirku sebagai dosen, aku akan bekerja di tempat lain jika memnag itu yang terbaik bagiku. Aku akan menjalaninya, dengan bahagia juga.

Sekarang, saatnya aku melanjutkan kehidupanku, hidup hari ini dan tidak lupa bahagia. Bismillah. Insya Allah, semua pasti ada solusinya. (Jadi keingat lagunya mamah dan aa'). Doakan saya, teman-teman.