Saturday, 4 July 2015

Belajar Ikhlas dari Ustadz Pondok Moderen Gontor Ponorogo

Beberapa waktu terakhir ini saya mengikuti Kajian Indah yang diselenggarakan oleh UNIDA Gontor. Awalnya saya diajak teman (semoga Allah melimpahkan rahmat padanya), itupun sudah tengah-tengah kajian. Maksudnya dari 17 kali kajian yang diselenggarakan, saya mulai ikut kajian puasa ke 8 (kalau tidak salah). Saya sangat bersyukur bisa mengikuti kajian ini, karena banyak sekali ilmu yang bisa saya dapatkan di sini. Pembicaranya dari ustad-ustad Gontor sendiri yang insya Allah tidak diragukan lagi keilmuannya.

Kemarin, hari Jumat 3 Juli 2015 saya mengikuti kajian di UNIDA bertema "Mengapa Harus Ekonomi Islam?" yang dibawakan oleh Ustad Khairul Umam. Maasya Allah. Saya antusias sekali dengan tema ekonomi islam. Oleh karena itu saya usahakan hadir kemarin. Dan ternyata benar, pembahasannya sangat menarik.

Ekonomi islam adalah fitrah, ilmu yang diciptakan Allah untuk kesejahteraan umat Islam dan seluruh penduduk bumi. Jika sekarang ekonomi islam tidak populer, maka bukan berarti islam itu tidak ada. Ibarat sang surya, ia tetap bersinar. Ketika kita tidak disinari matahari, maka kitalah yang terhalang atau tertutup dari cahaya islam sendiri.

Sistem ekonomi islam berbeda dengan sistem ekonomi konvensional. Misalnya sistem ekonomi Kapitalis (biasanya dianut oleh orang-orang Amerika), hanya melulu soal materi. Yang kuat menindas yang lemah. Sedangkan sistem ekonomi Sosialis (dianut eropa, rusia, china) berprinsip sama rasa sama rasa. Tidak ada persaingan sehingga orang akan malas berusaha. Yang rajin maupun yang tidak mendapat bagian yang sama. Ekonomi islam tidak seperti itu. Ekonomi islam melihat manusia seutuhnya, dimana manusia memiliki kebutuhan untuk bersaing secara sehat, dan jiwa sosial yakni prinsip berbagi dengan sesama. Islam memandang manusia dengan utuh, tidak mengabaikan sisi kemanusiaan yang tidak bisa dipungkiri. Oleh karena itu, dalam islam ada persaingan pasar namun ada pengawasan juga. Orang boleh mengumpulkanharta sebanyak-banyaknya, namun juga tidak lupa berbagi melalui zakat, infaq dan sedekah. Itulah keadilan ekonomi menurut Islam.

Sekilas saya paparkan tentang isi dari kajian yang saya dengarkan kemarin sore. Namun, merujuk pada judul yang saya tuliskan, saya akan mengungkapkan sesuatu yang menarik di sini. Pada saat sesi tanya jawab, ada bagian dimana Ustad Khairul Umam memaparkan tentang sistem yang dijalankan di Pondok Modern Gontor. Saya akan bahas fokus pada sisi keikhlasan.

Ustad yang ada di Gontor, baik di pondok maupun di universitasnya tidak ada yang digaji, karena gontor memang tidak menerapkan sistem gaji. Kekuatan Gontor dibangun dengan sistem wakaf. Bukan hanya materi seperti tanah dan bangunan saja, bahkan ada wakaf orang. Ustad yang mengabdi di Gontor ada yang telah mewakafkan dirinya, berjuang untuk pondok. Itulah mengapa, Gontor bisa besar, karena dana yang biasanya banyak dialokasikan untuk gaji digunakan untuk mengembangkan pondok. Maasya Allah! Kalau bukan atas dasar keikhlasan, tentu hal ini tidak bisa berjalan.

Saya sangat mengagumi keikhlasan para ustad di gontor (asatid). Asatid berjuang mengorbankan waktu dan tenaga dengan penuh keikhlasan, demi mendidik generasi yang pandai ilmu agama. Tidak ada tujuan materi dalam mengajar, karena memang sudah diniatkan jihad fi sabilillah. Subhanallah. Jika ada jabatan di Gontor, mereka meraih amanah itu bukan karena uang (karena emmang tidak ada gaji dan insentifnya). Mereka mengambil amanah tersebut karena merasa butuh untuk berjuang untuk pondok. Sekali lagi, kalau bukan karena keikhlasan demi meraih ridho Allah, mana mungkin hal ini bisa terjadi?

Namun, insya Allah, Gontor juga memberikan penghidupan yang layak pada para ustadnya. Memuliakan pada ustadnya dengan memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Itulah kekuatan dan kemandirian yang dimiliki Pondok Modern Gontor yang membuat pondok tersebut bisa jaya dan besar seperti sekarang ini. Bahkan, universitas dari luar negeri seperti Malaysia pun datang, Rektor, wakil dan para ketua di universitas tersebut datang ke UNIDA untuk belajar bagaimana bisa mandiri seperti Gontor. Maasya Allah!

Kiranya, saya malu dengan para ustad di gontor ini. Karena saya belum bisa sepenugnya seperti ustad di gontor yang penuh dnegan keikhlasan. Namun, saya banyak belajar dari mereka. Insya Allah, keteladanan terseut akan saya aplikasikan dalam kehidupan saya sehari-hari, terutama di tempat kerja saya sekarang ini. Semoga amal baik pimpinan dan asatid Pondok Modern Gontor diterima di sisi Allah dan berbuah pahala di surga kelak. Aamiin.

Thursday, 2 July 2015

Jangan Lupa Membuat List Hutang Sekecil Apapun Jumlahnya

Setelah menulis Cara Membayar Hutang Supaya Lunas saya ingin mengingatkan sekali lagi pada diri saya bahwa hutang, sekecil apapun akan ditagih di akhirat nanti. Oleh karena itu, mumpung masih ingat segera cata hutang-hutang Anda dalam sebuah buku atau di laptop Anda. Boleh saja di tempat tersembunyi, namun akan lebih baik di tempat yang bisa ditemukan orang. Mengapa?

Karena kita tidak pernah tahu kapan kita meninggal dunia. Jangan sampai saat kita meningal, kita meninggalkan hutang yang tidak tercatat, sehingga menyulitkan ahli waris untuk membayarkan hutang kita. Kalau bisa, Anda titipkan catatan tersebut pada ahli waris atau orang yang dipercaya sebagai wasiat. Apabila seiring waktu ada penambahan atau pengurangan utang, harap segera perbaharui.

Saya sendiri tidak segan-segan membuat list hutang dan sailnan catatan tersebut. Buat saya, selain memotivasi untuk segera membayarnya, saya juga merasa lebih tenang jika nyawa saya sewaktu-waktu diambil Yang Maha Kuasa. Syukur Alhamdulillah, sebelum meninggal saya sudah melunasi hutang tersebut.

Cobalah untuk duduk diam sejenak, merenung dan mengingat kepada siapa saja kita perna berhutang. Tulislah, baik hutang yang kecil maupun yang besar. Bahkan hutang yang sekecil-kecilnya, walau jumlahnya hanya beberapa ribu rupiah. Setelah itu, leakkan ditempat dimana orang bisa menemukannya. Jika sudah ditulis, kita akan termotivasi untuk membayar hutang kita, mulai dari yang kecil, kemudian mencicil hutang yang besar nominalnya sehingga lama kelamaan list hutang kita akan habis kita coret dan benar-benar lunas. Alhamdulillah.

Itulah sedikit pengingat bagi kita semua khususnya untuk saya sendiri agar tidak malas membuat list hutang. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk membayar hutang, dan dijauhkan dari siksa api neraka akibat hutang yang tidak terbayar. Aamiin...