Saturday, 27 June 2015

Berhijab Syari, Langkah Awal Memperbaiki Diri

Bismillah.

Seringkali dalam hidup saya dihinggapi pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu. Pertanyaan itu tetiba muncul, menimbulkan rasa penasaran untuk menjawabnya. Salah satu pertanyaan yang sering mengganggu saya akhir-akhir ini adalah: bagaimana cara menjadi insan yang lebih baik?

Pertanyaan itu berkecamuk dalam diri, meminta jawaban. Saya berpikir, usia yang semakin bertambah (atau berkurang?), mengharuskan saya memilih langkah-langkah tegas dalam hidup. Apa yang akan saya lakukan dalam hidup? Bagaimana nasib saya selanjutnya? Apa bekal yang akan saya bawa ke akhirat kelak? Pertanyaan berikutnya muncul, menyeruak membuat pikiran dan hati saya kusut.

Tentunya ada hal mendasar yang perlu saya selesaikan terlebih dahulu. Menjadi manusia yang lebih baik ada banyak caranya. Seperti memulai kebiasaan baru yang baik. Memutuskan hal yang akan dilakukan dalam hidup adalah langkah berikutnya supaya saya bisa mencapai tahap manusia yang lebih baik dari hari ke hari.

Salah satu yang bisa saya lakukan adalah dengan mulai berhijab syari. Karena saya seorang muslimah, tentu langkah ini adalah tepat. Berhijab adalah sebuah perintah yang diturunkan oleh Allah SWT langsung di dalam Al Qur'an. Jika saya ingin menjadi orang yang bertaqwa (definisinya menjalankan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya), maka saya wajib untuk memenuhi perintah berjilbab ini.

Selama ini saya sudah menutup aurat, namun belum sempurna. Saya melihat, kemudian menimbang-nimbang, jenis pakaian apakah yang cocok untuk saya? Ternyata jawabannya sederhana saja. Pakaian yang menutup aurat seluruhnya (jilbab/gamis+khimar+kaoskaki) dan sederhana. Saya mendapatkan pemahaman tentang jilbab ini secara bertahap, tidak langsung paham. Meski saya sudah berusaha mengenakan hijab sejak sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, tidak berarti saya langsung mantap untuk behijab syari. Pun hingga detik ini, Namun, saya yakin, lambat laun saya akan mencapai tahap tersebut dimana saya sudah tidak nyaman lagi untuk memakai pakaian yang tidak syari.

Dan kini bibit itu sudah muncul. Saya tidak mau menia-nyiakan hidayah ini. Saya merasa Allah sedang melihat saya, sabar menunggu saya berubah untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jika saya tidak menggapai hidayah yang telah Allah berikan, maka saya akan merugi. Belum tentu kesadaran semacam ini akan timbul lagi.

Nah, oleh karena itu mulai saat ini saya berusaha untuk perlahan mengganti pakaian saya yang tidak syari menjadi lebih tertutup lagi. Meskipun saya akui itu sangat berat. Saya belum memiliki pakaian-pakaian yang longgar untuk menutup aurat. Sebagian besar pakaian saya masih "biasa", karena itu saya katakan berat. Saya harus berjuang. Saya harus menabung untuk mendapatkan pakaian yang akan saya pakai terus nantinya. Mengganti keseluruhan isi lemari bukan perkara mudah untuk saat ini.

Tapi saya tidak putus asa. Saya malah memilih jalan yang berbeda. Saya terus berdoa kepada Allah SWT supaya dilimpahkan rizki untuk mengganti pakaian-pakaian saya. Saya berusaha menjadi reseller baju syari supaya saya bisa mendekati orang-orang yang sudah berhijab syari (kan kalau mau wangi harus dekat-dekat penjual parfum). Setidaknya saya bisa ikut kena aura positifnya, sehingga lama-lama saya bisa berhijab syari. Saya menjualnya, berarti saya berusha mencocokkan frekuensi dengan hijab syari. Dengan menjualnya saya bisa mengajak orang lain untuk berhijab syari. Terakhir, apabila ada kelebihan rezeki dari hasil penjualan, saya bisa membeli baju-baju syari sehingga saya bisa total memakainya.

Saya sangat bersyukur sekali, memiliki calon suami yang mendukung saya untuk berhijab syari. Bahkan dia juga salah satu yang sangat setuju jika suatu saat saya memakai cadar. Mungkin itulah cara dia supaya bisa menjaga saya. Saya berharap bisa memenuhi keinginan beliau. Insya Allah, dengan izin Allah, saya akan melaksanakannya semampu saya. Lillahi ta'ala.

No comments:

Post a Comment