Monday, 29 June 2015

Meluangkan Waktu Untuk Sholat Dhuha Bagi yang Bekerja di Kantor

Bismillah.
Salah satu cara untuk mendongkrak derajat kehidupan kita secara spiritual adalah dengan menjalankan sholat dhuha. Sudah banyak orang yang merasakan fadhillah sholat dhuha. Sholat Dhuha dapat membuka pintu rezeki kita, sebagai ikhtiar dan doa kepada Allah Swt supaya kita semakin mudah dalam menjalani hari-hari sekaligus menabung pahala untuk bekal di akhirat kelak.

Sayangnya, tidak semua orang punya kesempatan untuk sholat dhuha. Anda yang bekerja di sebuah instansi serinkali merasa tidak ada cukup waktu untuk sholat dhuha. Berangkat pagi-pagi, istirahat siang saat jam makan siang (biasanya untuk sholat dhuhur juga). Mau sholat dhuha sulitnya minta ampun. Nggak ada waktu! Begitulah kira-kira kendala orang yang tidak mampu menunaikan sholat dhuha.

Memang benar, waktu sholat dhuha termasuk jam kerja. Sehingga orang yang bekerja akan merasa "korupsi waktu jika menggunakan jam kerjanya untuk sholat dhuha. Jangankan yang ber-rakaat-rakaat. Untuk sholat 2 rokaat saja tidak bisa. Namun, benarkah kita memang tidak sempat untuk sholat dhuha karena alasan tersebut? Bukankah kita selalu punya waktu untuk sekedar coffebreak?

Sebenarnya, bukan masalah waktu yang membuat kita tidak bisa sholat dhuha. Kuncinya adalah KEMAUAN. Selama kita MAU, maka pasti ada jalan. Tidak percaya?

Oke, silakan dipraktikkan tips berikut.
Saat berangkat kerja, usahakan sudah dalam keadaan berwudhu. Kemudian, sesaat setelah sampai kantor biasanya kita absen dulu, bukan? Nah, kalau absen pada perusahaan saja mau tertib, tentunya Anda tidak mau ketinggalan untuk absen ke Allah dulu. Saat masuk kerja, tentu kita tidak langsung straight ke kerjaan, ada jeda waktu sedikit. Kalau Anda benar-benar mau, segera ke musholla kantor dan dirikan dhuha 2 rakaat. Berapa waktu yang dibutuhkan? Kalau sholat 2 rakaat dengan surat yang pendek plus doanya 5 menit cukup lho. 5 menit saja, kalau kita khusyu', insya Allah pahalanya sama di sisi Allah. Bahkan, Allah akan melihat perjuangan kita untuk menyempatkan sedikit waktu kita untuk sholat dhuha. Maasya Allah! Luar biasa.

Jika cara pertama tidak berhasil, maka gunakanlah waktu coffeebreak Anda untuk sholat Dhuha. Untuk menikmati secangkir kopi, tentunya ada waktu 5-15 menit bukan? Nah, gunakan waktu itu untuk mendirikan Sholat Dhuha. Insya Allah, dengan kemauan keras, Anda akan bisa mengalahkan rasa enggan dan malas untuk Sholat Dhuha di kantor.

Sejatinya, kita akab merugi jika tidak bisa melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Sebab, Allah sudah kasih kita waktu untuk beribadah kepada-Nya. Cuman, kitanya yang NGGAK MAU dan MALAS. Jadinya, rezeki kita ya segitu-segitu aja. Nggak nambah-nambah. Jadi, mulai sekarang cobalah untuk meluangkan waktu untuk sholat dhuha. 5-10 menit cukup untuk kita sholat dan berdoa. Insya Allag, kita akan dimudahkan dalam meraih rezeki dan kehidupan kita akan berubah menjadi lebih baik. Insya Allah.

Sunday, 28 June 2015

Cara Membayar Hutang Supaya Lunas

Bismillah.

Sharing ilmu tentang melunasi hutang. Wah, gaya... Emang situ bebas hutang? Ya belum sih. Nih, ya, saya sekarang juga sedang dalam tahap melunasi hutang juga. Sekalian lah, belajar sambi bagiin ilmunya biar bisa lunas hutang beneran. Hutang itu kalau nggak dibayar, nggak papa. Insya Allah tuh, bakal ditagih diakhirat! Hehe, jadi, selama masih di dunia kewajiban kita memang melunasi hutang. Lalu, gimana caranya bebas utang? Sebenarnya kita nggak butuh seribu tips. Satu-satunya solusi buat bebas hutang yaitu: DIBAYAR. Nggak ada cara lain. Hehe.

Ah, kirain bakalan ada tips yang menggelegar di postingan ini. Emang sih, cara lunasin hutang ya dibayar. Namun tahapan-tahapan ikhtiarnya yang bakalan saya share di sini.

Awalnya, saya ini termasuk entengan kalau soal hutang. Maksudnya, kalau uang kurang ya minjem. Sama sodara, temen. Kecuali bank ya, Alhamdulillah, sampai sekarang saya nggak sampai terlibat hutang bank atau kartu kredit. Buat yang nyari artikel ini karena punya hutang bank, insya Allah tipsnya berlaku juga kok. Minjemnya gampang, namun bayarnya yang susah. Seret pas ditagih. Ini murni salah saya, karena ketidaktahuan saya. Secara saya telat belajar kecerdasan financial.

Okelah, anggap saja dosa masa lalu saya adalah gampang berhutang. Saya lalu mikir. Gimana ini, kok hutang kayaknya muterin saya kayak tali. Ngiket kenceeeeeeng, gitu. Ruwet, kagak lepas-lepas. Ternyata, ketemu jawabannya. Saya masih salah dalam membayar hutang. Dulu, saya bayar hutang pakai hutang juga. Ya nggak selesai-selesai dong. Gimana mau selesai coba, orang habis lunas satu utang, muncul utang baru. Gali lobang tutup lobang lah istilahnya. Bodohnya saya, utang kedua lebih besar dari utang pertama. Jadi misalnya saya perlu bayar utang 800 ribu nih, saya utang sama orang lain 1 juta. Kan nggak bener itu. Utang saya nggak berkurang, justru nambah 200 ribu.

Tapi alhamdulillah, sekarang sudah mulai sadar kesalahan dalam membayar hutang itu. Akhirnya saya ber-azzam untuk TIDAK BAYAR HUTANG PAKAI HUTANG.

Caranya, dari hutang terakhir, saya udah nggak berhutang lagi untuk bayar hutang-hutang saya. Saya cicil semampu saya dari penghasilan yang saya dapatkan. Kalau kata financial planner sih cicilan hutang nggak boleh lebih besar dari 30% penghasilan kita. Tapi saya mah kalau ada ya saya bayarin dulu utang. Eneg liat utang numpuk soalnya. Jadilah saya cicil hutang-hutang saya pakai penghasilan. Kalau ada yang nagih dan kebetulan nggak ada duit cash sama sekali, saya jual aset. Kemarin saya jual dah ponsel saya. Smartphone murah sih, tapi berharga juga kalau lagi kepepet bayar utang. Bayar utang pakai uang penjualan asset ini salah satu trik biar nggak hutang lagi, sekaligus memangkas liabilitas kita (ohya, sebenarnya ponsel itu masuk liabilitas, bukan aset. Tapi biar paham, saya tulis aset aja).

Setelah nggak ada benda berharga lagi, penghasilan juga nggak mencukupi, saya bilang dah sama yang nagih: "Beneran, udah nggak ada duit sama sekali nih. Saya cariin dulu ya..." Cariin kemana? Cara berikutnya yang saya tempuh adalah dengan mencari penghasilan tambahan. Ada barang temen kita jualin. Uangnya buat nyicil utang. Bikin gantungan-gantungan kunci, bros-bros dari kain, jualin. Uangnya buat nutup utang. Insya Allah, akhirnya kebayar semua utang kita. Insya Allah. Karena kita sudah beritikad untuk lunas hutang dengan ikhtiar semaksimal mungkin. Nggak pake ngutang lagi.

Nah, supaya lebih jos lagi, pake kekuatan doa. Ya Allah, pengen bebas utang nih. Empet lama-lama ditagihin mulu sama orang... Baca doa: Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani, wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasali, wa a'udzubika minal jubni wal buhli, wa a'udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijal... Baca deh pagi sore. Kalau bisa habis sholat fardhu juga.

Tambahin lagi ikhtiar langitnya pakai dhuha. Biar pintu rizqi terbuka. Kalau rizqi kita melimpah, Insya Allah bisa lunas hutang. Tahajjudnya juga. Lalu baca itu surat Al Waqiah, pagi sore. Atau minimal sehari sekali. Yakin, Allah bakalan iba liat kita sudah berusaha doa dan ikhtiar. Nggak ada yang Allah sia-siain.

Banyakin istighfar, mohon ampun sama Allah. Barangkali seretnya rezeki kita juga karena dosa-dosa yang kita lakukan. Dosa bisa jadi penghalang rezeki kita. Dengan banyak istighfar, Insya Allah, Allah akan bukakan pintu rizqi kita lebih besar lagi.

Doain juga orang-orang yang kita hutangi (yang memberi piutang) supaya disabarkan hatinya, penuh maklum pas kita minta tambah tenggat waktu, makin banyak rezekinya (jadi nggak inget nagih, hehe). Minta supaya dilembutin hati dan lisan mereka. Walau keliatannya kita nggak langsung dikasih rezeki banyak, minimal kita dikasih ketenangan hati. Yang harusnya kita digedor pintu buat bayar utang, mereka nggak jadi menggedor pintu kita. Sebab rizkinya sudah cukup. Mereka bantu kita dengan cara tidak menekan kita buat bayar hutang, atas izin Allah. Lumayan, kta bisa lebih konsentrasi nyari duit buat bayar hutang kepada mereka. Kalau bisa nih, sebelum ditagih sudah kita bayar. Syukur-syukur kita lebihin dah. Maasya Allah!

Nah, segitu dulu ya tipsnya. Jangan nggak dipraktekin, percuma mau lunas hutang kalau nggak ada prakteknya. Harus ikhtiar dan doa bener-bener. Sebagai penutup, kalau ingin lebih kenceng lagi dapet pertolongan dari Allah buat bayarin hutang kita: SEDEKAH. Berapapun nominalnya, niatin ikhlas. Kan dobel tuh beratnya. Udah nggak punya duit banyak, banyak utang, eh, sedekah pula. Jangan lupa doa: Ya Allah, ini saya masih punya utang segambreng, duit ngepas, tapi buat Engkau Ya Rabb, saya bagi dah. Insya Allah tuh, Allah bakal melihat usaha kita dalam melunasi hutang dan mengangkat derajat kita. Insya Allah.

Saturday, 27 June 2015

Berhijab Syari, Langkah Awal Memperbaiki Diri

Bismillah.

Seringkali dalam hidup saya dihinggapi pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu. Pertanyaan itu tetiba muncul, menimbulkan rasa penasaran untuk menjawabnya. Salah satu pertanyaan yang sering mengganggu saya akhir-akhir ini adalah: bagaimana cara menjadi insan yang lebih baik?

Pertanyaan itu berkecamuk dalam diri, meminta jawaban. Saya berpikir, usia yang semakin bertambah (atau berkurang?), mengharuskan saya memilih langkah-langkah tegas dalam hidup. Apa yang akan saya lakukan dalam hidup? Bagaimana nasib saya selanjutnya? Apa bekal yang akan saya bawa ke akhirat kelak? Pertanyaan berikutnya muncul, menyeruak membuat pikiran dan hati saya kusut.

Tentunya ada hal mendasar yang perlu saya selesaikan terlebih dahulu. Menjadi manusia yang lebih baik ada banyak caranya. Seperti memulai kebiasaan baru yang baik. Memutuskan hal yang akan dilakukan dalam hidup adalah langkah berikutnya supaya saya bisa mencapai tahap manusia yang lebih baik dari hari ke hari.

Salah satu yang bisa saya lakukan adalah dengan mulai berhijab syari. Karena saya seorang muslimah, tentu langkah ini adalah tepat. Berhijab adalah sebuah perintah yang diturunkan oleh Allah SWT langsung di dalam Al Qur'an. Jika saya ingin menjadi orang yang bertaqwa (definisinya menjalankan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya), maka saya wajib untuk memenuhi perintah berjilbab ini.

Selama ini saya sudah menutup aurat, namun belum sempurna. Saya melihat, kemudian menimbang-nimbang, jenis pakaian apakah yang cocok untuk saya? Ternyata jawabannya sederhana saja. Pakaian yang menutup aurat seluruhnya (jilbab/gamis+khimar+kaoskaki) dan sederhana. Saya mendapatkan pemahaman tentang jilbab ini secara bertahap, tidak langsung paham. Meski saya sudah berusaha mengenakan hijab sejak sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, tidak berarti saya langsung mantap untuk behijab syari. Pun hingga detik ini, Namun, saya yakin, lambat laun saya akan mencapai tahap tersebut dimana saya sudah tidak nyaman lagi untuk memakai pakaian yang tidak syari.

Dan kini bibit itu sudah muncul. Saya tidak mau menia-nyiakan hidayah ini. Saya merasa Allah sedang melihat saya, sabar menunggu saya berubah untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jika saya tidak menggapai hidayah yang telah Allah berikan, maka saya akan merugi. Belum tentu kesadaran semacam ini akan timbul lagi.

Nah, oleh karena itu mulai saat ini saya berusaha untuk perlahan mengganti pakaian saya yang tidak syari menjadi lebih tertutup lagi. Meskipun saya akui itu sangat berat. Saya belum memiliki pakaian-pakaian yang longgar untuk menutup aurat. Sebagian besar pakaian saya masih "biasa", karena itu saya katakan berat. Saya harus berjuang. Saya harus menabung untuk mendapatkan pakaian yang akan saya pakai terus nantinya. Mengganti keseluruhan isi lemari bukan perkara mudah untuk saat ini.

Tapi saya tidak putus asa. Saya malah memilih jalan yang berbeda. Saya terus berdoa kepada Allah SWT supaya dilimpahkan rizki untuk mengganti pakaian-pakaian saya. Saya berusaha menjadi reseller baju syari supaya saya bisa mendekati orang-orang yang sudah berhijab syari (kan kalau mau wangi harus dekat-dekat penjual parfum). Setidaknya saya bisa ikut kena aura positifnya, sehingga lama-lama saya bisa berhijab syari. Saya menjualnya, berarti saya berusha mencocokkan frekuensi dengan hijab syari. Dengan menjualnya saya bisa mengajak orang lain untuk berhijab syari. Terakhir, apabila ada kelebihan rezeki dari hasil penjualan, saya bisa membeli baju-baju syari sehingga saya bisa total memakainya.

Saya sangat bersyukur sekali, memiliki calon suami yang mendukung saya untuk berhijab syari. Bahkan dia juga salah satu yang sangat setuju jika suatu saat saya memakai cadar. Mungkin itulah cara dia supaya bisa menjaga saya. Saya berharap bisa memenuhi keinginan beliau. Insya Allah, dengan izin Allah, saya akan melaksanakannya semampu saya. Lillahi ta'ala.

Thursday, 25 June 2015

Mengawas Ujian, Sejatinya Manusia Setiap Hari Diawasi dalam Ujian Kehidupan

Bismillah.
Pekan ini, saya mulai mengawas ujian akhir semester di kampus saya. Perjalanan belajar selama satu semester harus dibayar dengan melampaui ujian ini. Ibarat mengendara di jalan tol, kita akhirnya harus keluar melalui gerbang tol. Jika tidak, maka kita tidak akan bisa melanjutkan perjalanan.

Ini pengalaman kedua saya mengawas. Kemarin saya pernah mengawas ujian tengah semester juga. JAdi sudah ada sedikit pengalaman. Mengawas UAS sepertinya lebih santai daripada UTS. Ini dari sudut pandang pengawasnya sih. Kalau dari sudut pandang mahasiswa tentu berbeda. Ada debar yang tak terelakkan karena jika tidak lulus atau niai jeblok akan berpengaruh kepada IPK dan harus mengulang di semester berikutnya.

Saat ujian, kita tidak boleh melihat ke textbook atau catatan apapun. Kalau kita melihat, maka kita disebut mencontek. Kemungkinan kita akan didiskualifikasi dari ujian. Teman-teman lainpun akan menganggap kita tidak fair dalam menjalani ujian. Oleh karena itu, sebelum ujian kita harus belajar terlebih dahulu.

Kepada pengaws pun kita takutnya tidak benar-benar takut. Hanya berusaha tidak melanggar saja. Kita lebih takut pada yang memberi nilai, yakni dosen penguji. Oleh karena itu, kita akan mati-matian berusaha supaya bisa mendapat nilai setidaknya B. Paling sering kita minta bantuan teman dengan cara-cara yang kreatif sekali. Saya sendiri waktu mengaawas sering dibuat tersenyum dengan tingkah anak yang mengandalkan temannya. Segala macam cara dilakukan supaya lembar jawab terisi.

Ujian semester di kampus berbeda dengan ujian dalam kehidupan. Dalam ujian kehidupan, kita seringkali harus ujian dahulu, baru belajar. Kita hanya bisa berusaha belajar, dan tidak tahu soal yang manakah yang akan keluar. Ujian yang diberikan Allah Swt selalu unik, berbeda satu sama lain. Bagi seseorang persoalan A menjadi masalah besar, namun, bagi orang lain bisa jadi itu masalah gawat. Cara menyelesaikan persoalan tersebut juga berbeda-beda. Tergantung bagaimana sesorang itu menyikapinya.

Ujian semester hanya berlangsung 1-2 minggu, 2-3 jam sehari. Namun, ujian kehidupan berlangsung 24 jam. Kita diuji saat sedih, kena musibah, miskin dan tidak punya apapun. Kita juga diuji dengan kesenangan, harta berlimpah, kedamaian dan kekayaan. Setiap apa yang diberikan Tuhan pada kita hakikatnya adalah ujian. Saat kita ditimpa kemalangan, apakah kita akan bersabar? Saat dikaruniai kebahagiaan, akankah kita bersyukur. Sejatinya itulah yang akan dilihat oleh "penguji" sekaligus "pengawas" ujian kehidupan kita yakni Allah Swt. Kita harus merasa selalu diawasi oleh-Nya, supaya kita selalu belajar dan berhati hati dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari.

Adapun gelisah, takut tidak bisa menjalani ujian, keputusasaan, harus kita kalahkan dengan optimisme bahwa pertolongan Allah itu dekat. Mendekatlah kepada Allah dengan cara beribadah. Buka Al Quran dan temukan jawaban dari setiap persoalan yang kita hadapi. Insya Allah, Alah akan memberikan pertolongan pada kita semua.

Salam,


Indriani Taslim

Sunday, 21 June 2015

4 Inspirasi untuk Penyemangat Hari-hari

Bismillah.
Setidaknya ada 4 hal yang bisa saya bagikan hari ini melalui tulisan.

Pertama, dalam kajian kewirausahaan bersama Ust. Agus Yahya, beliau mengatakan dengan jelas bahwa untuk menjadi seorang pengusaha upayakan untuk berdaya dengan modal kita sendiri. Modal berbisnis itu ada 2: diri kita sendiri dan materi. Untuk modal materi itu gampang, asalkan ada kemauan dari diri kita untuk menjadi pengusaha sukses. Sebab, modal utama berbisnis adalah diri kita sendiri (yang tak ternilai harganya). Untuk modal materi, usahakan untuk memakai modal sendiri sebelum berpartner atau pinjam bank. Berapa yang Anda butuhkan? 3 juta misalnya. Bekerjalah (apa saja aslal halal) dah tabunglah hasilnya hingga mencapai jumlah modal yang kita butuhkan. Jangan buru-buru pinjam modal ke temana atau perbankan. Yakinlah, Anda bisa mendapatkan modal itu dari kemampuan Anda sendiri. Nasehat ini sangat 'ngena' di hati saya, karena umumnya motivator bisnis akan merekomendasikan bisnis tanpa modal. Namun beliau bilang, tidak ada bisnis tanpa modal. Cara membangun bisnis dengan ide bagus yang kita miliki adalah percaya bahwa kita bisa mandiri untuk masalah modal awal.

Kedua, saya mendengar nasehat dari seorang teman yang entah kenapa saya merasa beliau dipertemukan dengan saya hari ini untuk menginspirasi saya. Kali ini, nasehatnya tentang doa. Bagi seorang muslim, doa dalah senjata untuk meraih kesuksesan. Jika kita bersungguh-sungguh memohon kepada Allah SWT, maka Dia akan mengabulkan permohonan kita. Allah mengabulkan doa dengan 3 cara: seketika, diganti yang lebih baik dan diakhirkan. Jika kita tidak mendapatkan 2 cara pertama, setidaknya kita harus sabar dalam berdoa, karena Allah mungkin sedang menyiapkan kado terbaik di akhir. Saat kita sabar dalam berdoa, insyaAllah Allah akan mengabulkan doa kita tepat pada waktunya (dan tentu saja dengan cara yang terindah). Terimakasih, teman. Tiada yang lebih berharga dari seorang teman kecuali nasehat yang bermanfaat seperti yang engkau berikan hari ini.

Ketiga, saya berusaha menyisihkan berapapun penghasilan saya untuk membeli buku. Karena buku merupakan sumber ilmu bagi saya, dan investasi yang sangat baik. Saat saya memiliki uang 100 ribu, kemudian saya berniat membelikannya buku seharga 50 ribu maka saya akan mencari buku terbaik yang bermanfaat bagi saya. Sayangnya, saat itu buku terbaik versi saya saat itu harganya 70 ribu. Maka, saya memutuskan untuk tetap membeli buku tersebut karena uang 20 ribu (yang bukan anggaran saya untuk beli buku) itu kalau tetap berbentuk uang akan "ngleles" atau habis juga. Kadang malah saya tidak tahu kemana larinya uang tersebut. Alhasil, 20 ribu itu akan menjadi sumber inspirasi saya yang tentu lebih awet daripada tetap menjadi lembaran uang. Tiada merugi beli buku, percayalah, itulah yang lebih awet baik dari segi barangnya maupun manfaatnya bagi otak kita.

Keempat, saya melihat progres yang sangat baik seorang "mompreneur" yang hebat luar biasa. Saya melihat perkembangan uasaha beliau sangat pesat, tentunya ini menginspirasi saya untuk bisa mencontoh hal-hal baik dari apa yang telah beliau kerjakan selama ini. Rasanya bahagia saat melihat orang lain sukses dengan caranya masing-masing. Alhamdulillah, semoga selalu mendapatkan berkah silaturrahimnya.

Tetap semangat. Sukses mulia di jalan Allah.

#RamadhanPenuhManfaat