Monday, 9 March 2015

Rencana Allah Jauh Lebih Indah

Beberapa waktu lalu, saya merasakan Allah begitu dekat dengan saya. Apa sebab? Saya merasa sebagian doa-doa saya terkabul. Allah menata kehidupan saya dengan begitu indah. Dan saya sangat yakin, Allah Maha Mendengar Semua Doa.

Awalnya saya hanya ingin tetap berdomisili di Ponorogo. Entah mengapa, seiring dengan pemahaman saya, saya memutuskan untuk tinggal di kota kecil ini. Walaupun gemerlapnya kota metropolitan mengajak saya untuk bergelut dengannya, hati saya tetap terpaut di kampung damai ini. Saya tidak ingin cepat-cepat meninggalkan kta dimana saya dan keluarga bersama-sama tumbuh. Di kota ini, hanya perlu niat kuat untuk bisa survive. Insya Alah, ketika kita sudah yakin dengan apa yang Allah pilihkan untuk kita, tidak ada yang sulit. Tidak ada yang tidak mungkin.

Awalnya saya berniat kuat untuk membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia di sini. Namun calon suami seprtinya masih ingin merantau. Saya sebenarnya mau-mau saja ikut dengannya di ibukota. Namun ada dorongan lain yang membuat saya enggan untuk ke sana. Sepertinya hidup saya sudah di sini, di Ponorogo. Akhirnya saya harus memutuskan. Saat itulah kesempatan berkarir si Ponorogo datang. Tentu ini bukan kebetulan. Saya yakin, Allah-lah yang memilihkannya untuk saya.

Saya putuskan untuk tetap di sini. Jika suami nanti ingin tetap merantau, maka saya rela untuk long distance marriage untuk sementara waktu. Tak apa, demi kebaikan bersama. Namun, Allah sepertinya tahu apa yang saya rasakan. Tentu, Allah tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat daripada yang harus ditanggung hamba-Nya. Oleh karena itu, ujian ini datang.

Calon suami saya sakit, sehingga harus dibawa pulang. Orangtuanya yang menjemputnya. Sebenarnya, jika semua berjalan sesuai rencana, maka calon suami akan pulang sekitar bulan Oktober. Cuti seminggu untuk hari pernikahan kami. Namun, lagi-lagi Allah-lah yang Maha Menentukan. Rencana tersebut batal, karena calon suami harus mendapat perawatan. Calon suami akhirnya dibawa pulang ke Ponorogo oleh orangtuanya dan tidak diperbolehkan kembali ke Jakarta.

Allahuakbar!

Saya aykin betul, ini semua terjadi bukan karena kebetulan. Ini semua terjadi karena kehendak Allah SWT. Tiada yang bisa menolak keputusan-Nya ketika dia sudah memutuskan sesuatu. Ada saja jalan yang Dia buat. Dan pastinya semua yang terjadi adalah takdir terbaik dari-Nya.

Hikmah yang bisa saya petik adalah, sebagus apapun manusia berencana, sekuat apapun manusia berusaha, ketika Allah sudah memilihkan jalan terbaik-Nya, maka Dia pasti akan menunjukkan jalan-Nya. Meskipun dengan cara yang tidak pernah kita pikirkan. Saya percaya itu.

Kini, saya hanya berdoa yang terbaik saja. Semoga kedepannya langkah kami menuju jenjang pernikahan dapat berjalan dengan lancar dan Allah ridho. Aamiin.