Thursday, 31 December 2015

Menghidupkan Kembali Mimpi Menjadi Penulis Novel

Dalam bio twitterku @indriani_taslim aku menuliskan: Penulis novel. Felt-crafter. Sarjana Ekonomi. Mimpi punya rumah yang ada taman kecil di depannya, supaya bisa menyiram bunga tiap jam 4 sore.

Sebenarnya, hal itu sudah merangkum mimpiku secara keseluruhan, bagaiman cara meraihnya dan juga apa yang ingin aku lakukan dalam hidup. Aku ingin menjadi penulis novel.

Menjadi penulis novel bukanlah impian semu yang sewaktu-waktu bisa berubah. Itu adalah grand desain apa yang disebut orang-orang sebagai karier berdasarkan passion. Dengan menulis novel aku jadi punya alasan untuk hidup, terus menulis dan mewujudkan cita-citaku melalui menulis novel. Sepertinya impianku ini mudah untuk diremehkan. Mana mungkin seseorang bisa mewujudkan kesuksesan hanya dengan menulis novel. Apa yang diharapkan dari menulis novel? Aku paham, impian ini terlalu absurd sampai aku bernar-benar bisa mewujudkannya dalam sesuatu yang nyata dalam hidup seperti simbol-simbol kesuksesan. Menulis novel jadi semacam lentera jiwa yang takkan pernah aku padamkan. Sampai aku sampai ketujuan. Aku yakin, siapa yang berjalan di jalannya akan sampai. Inilah jalanku untuk meraih kesuksesan, melalui tulisan. Menulis adalah jalanku untuk bersyukur atas potensi karunia yang telah Allah berikan padaku. Melalui menulis, aku dapat mewujudkan banyak hal.


Selain berkarya, aku juga punya impian untuk membangun rumah dari hasil menulis novel. Muluk? Tidak. Jika aku produktif menulis novel aku bisa merealisasikan impianku tersebut. Aku akan punya rumah yang ada taman kecil di depannya, supaya bisa menyiram bunga tiap jam empat sore (setelah selesai mengajar dari kampus, karena aku sekarang adalah seorang lecturer). Aku merasa hal ini sangat mungkin untuk diwujudkan. Entah kenapa feeling-ku begitu kuat. Ini akan berhasil aku wujudkan, tentunya dengan doa dan kerja keras. Insya Allah. Tidak ada yang tidak mungkin.

Sedangkan menjadi seorang felt crafter adalah sarana bagiku melatih emosi sekaligus menjadi penghasilan sampinganku sampai kapanpun. Jadi, apa yang aku tulis di bio twitter merupakan ungkapan terdalam dari hati tentang mimpi, visi, dan misi, serta passionku. Akan aku perjuangkan untuk mewujudkannya. Semoga. Tahun 2016 adalah tahun untuk nulis, nulis, dan nulis. Sekali lagi, nulis! Nulis! Nulis!

Sunday, 8 November 2015

Mendewasa Bersama Pasangan

Harus diakui, pernikahan bukanlah akhir dari kejombloan semata. Pernikahan adalah tempat untuk berkreativitas, berkarya, belajar, mengamati, mengabdi (kayaknya udah memenuhi tri dharma perguruan tinggi yak?huehehe) dan mengeksplor kemampuan diri. Ada hati yang harus lebih sabar, ada ego yang harus ditekan, ada rasa maklum pada setiap hal yang kurang pas dihati. Karena kita sama-sama masih belajar. Ppasangan kita bukanlah sosok sempurna (seperti hal nya kita). Kita belajar bersamanya, mencari solusi untuk setiap masalah yang hadir dengan sabar dan ikhlas. Mensyukuri setiap nikmat yang Tuhan berikan kepada keluarga kecil kita, supaya kelak Dia melimpahkan keberkahan di dalamnya.

Tepat sebulan setelah pernikahan, saya mengalami kecelakaan motor. Adakalanya kita sudah berhati-hati, namun saat Allah sudah menggariskan nasib maka semua hal bisa terjadi. Termasuk hal yang tak masuk akal pun bisa terjadi. Cerita singkatnya saya pulang kerja dari kampus menuju rumah sekitar pukul 2 siang, dua pertiga perjalanan motor saya tetiba ditabrak sebuah ban lepas dari mobil jeep yang patah as rodanya. Alhasil saya jatuh dan sempat dilarikan ke rumah sakit di Ponorogo.

Hasil rontgen di RS pertama dinyatakan ada fraktur, tapi setelah di bawa ke Madiun, dirontgen ulang dan dicek oleh dokter tulang, ternyata tidak ada fraktur. Hanya kesalahan posisi saat rontgen. Alhamdulillah... Dari sebuah musibah ini saya mengambil banyak sekali hikmah.

1. Kesabaran saya dan suami sedang diuji. Kebetulan motor yang saya pakai adalah kepunyaan suami yang baru dibeli 3 bulan. Saya merasa bersalah pada suami, but, kita berdua sepakat: Aal iz well! Motor rusak bisa diperbaiki, nyawa yang selamat patut disyukuri. Alhamdulillahnya, si pembawa mobil mau bertanggung jawab atas biaya pengobatan dan biaya perbaikan motor saya.
2. Saya jadi tahu orang yang benar-benar peduli sama saya. Terimakasih pada orang tua, keluarga dan sahabat yang setia (spesialnya suami saya tercinta). Saya betul2 merasa dicintai.
3. Saya jadi tahu rasanya selamat dari maut. Betapa hati saya nyeri membayangkan jika saya tidak ada lagi di muka bumi, alangkah sedihnya suami dan keluarga saya. Saya jadi semakin sayang pada mereka.
4. Saya harus lebih bersabar terhadap orang yang tidak benar-benar tulus pada saya. Saya tahu, di dunia ini pasti ada orang yang benar-benar tulus dan sebaliknya, ada yang pura-pura tulus saja. Yah, saya tidak bisa berbuat banyak selain mendoakannya.
5. Saya kini lebih bersemangat untuk bekerja dan berkarya. Saya tidak mau kehilangan waktu saya untuk menggoreskan karya sebelum jatah umur saya habis. Saya ingin kembali produktif menulis.

Berbekal kesabaran dan keikhlasan, saya dapat melewati ujian ini dengan hati tegar (insya Allah). Tidak ada masalah yang tak selesai. Dengan adanya masalah, kita akan mendewasa. Terlebih masalah ini datang di awal-awal pernikahan. Tentunya, hal ini akan menjadi sarana pembelajaran bagi kami pasangan baru untuk berproses mendewasa bersama pasangan.

Selama kita dan pasangan kita sadar bahwa setiap yang ada di dunia ini adalah kepunyaan Allah, maka kita tidak akan merasa sedih. Kita mengadu saja pada-Nya, Zat yang takkan pernah meninggalkan kita saat susah dan senang. Bahkan, justru kita yang sering lari meninggakan-Nya. Padahal kitalah yang membutuhkan Allah, bukan sebaliknya. Hanya kepada Allah saya berpasrah dari semua urusan dunia dan menggantungkan segala harapan.

Semoga, kedewasaan kami semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Semoga sakinah, mawaddah wa rahmah selalu menyertai pernikahan kami. Aamiin.


Indriani Taslim

Wednesday, 23 September 2015

Pernikahan adalah Universitas Kehidupan

Alhamdulillah, saya resmi menikah dengan Mas Rendra Subianto pada hari Rabu, tanggal 16 September 2015. Baru seminggu yang lalu, namun saya sudah merasakan perbedaan yang mencolok antara sebelum menikah dan sesudah menikah. Saya jadi banyak belajar. Seperti memasuki sebuah universitas bernama Pernikahan, dimana saya dituntut untuk belajar banyak hal baru dan berusaha untuk "Lulus" dari ujian-ujian yang ada di dalamnya. Supaya saya bisa menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu.



Pernikahan adalah sarana untuk beribadah sebanyak-banyaknya, baik ibadah wajib maupun ibadah-ibadah yang lain seperti melayani suami, taat pada suami, berbakti kepada kedua orang tua dan mertua, bekerja, dan kelak mengandung dan melahirkan anak. Fase-fase tersebut insya Allah akan saya lewati dengan menyiapkan ilmu, kesabaran, dan kekuatan. Semoga saya bisa menjalaninya dengan baik. ^_^

Indriani Taslim

Wednesday, 2 September 2015

Persiapan Pernikahanku (H-14)

Dan akhirnya... Tinggal dua minggu lagi aku akan menikah. Buat wanita seusiaku, pernikaham memang menjadi moment yang ditunggu. Tanggal 28 agustus kemarin aku genap berusia 25 tahun. Alhamdulillah, aku akan mendapat kado terindahku di usiaku ini, yakni menikah dengan seseorang yang insya Allah baik dan penyabar. Kalau ditanya gimana perasaanku sekarang, ya, campur aduk. Antara senang, nervous, dan ah pokoknya nggak bisa diungkapikan dengan kata-kata. =)

Hanya syukur yang dapat kuucap atas nikmat Allah yang begitu banyak. Alhamdulillah, sejauh ini persiapan pernikahanku lancar-lancar saja. Undangan udah tersebar 30%, lainnya juga udah mulai dicicil sih. Alhamdulllah, masih bisa melakukan ini itu jadi insya Allah persiapannya makin matang.



Insya Allah pernikahanku akan dilaksanakan tanggal 16 September 2015. Akad nikah jam 9 pagi dan resepsi jam 1 siang.

Minggu ini awal semester ganjil di kampus, jadi aku double persiapan. Ya pernikahan, ya ngajar. Semoga nanti hari ngajarku nggak bertepatan dengan hari pernikahan. Baru awal udah ganti jam kan nggak enak sama mahasiswanya. Hehehe. Alhamdulillah, semester ini masih dipercaya megang 2 mata kuliah.

Udah, gitu aja postingan kali ini. Yang jelas, aku banyak bersyukur. Semoga lancar hingga hari-H nanti dan seterusnya pernikahanku dipenuhi barakah yang akan membawaku menuju ridho-Nya. Aamiin... Doakan ya, Teman-teman. Semoga lancar semua urusannya.


Indriani Taslim

Saturday, 4 July 2015

Belajar Ikhlas dari Ustadz Pondok Moderen Gontor Ponorogo

Beberapa waktu terakhir ini saya mengikuti Kajian Indah yang diselenggarakan oleh UNIDA Gontor. Awalnya saya diajak teman (semoga Allah melimpahkan rahmat padanya), itupun sudah tengah-tengah kajian. Maksudnya dari 17 kali kajian yang diselenggarakan, saya mulai ikut kajian puasa ke 8 (kalau tidak salah). Saya sangat bersyukur bisa mengikuti kajian ini, karena banyak sekali ilmu yang bisa saya dapatkan di sini. Pembicaranya dari ustad-ustad Gontor sendiri yang insya Allah tidak diragukan lagi keilmuannya.

Kemarin, hari Jumat 3 Juli 2015 saya mengikuti kajian di UNIDA bertema "Mengapa Harus Ekonomi Islam?" yang dibawakan oleh Ustad Khairul Umam. Maasya Allah. Saya antusias sekali dengan tema ekonomi islam. Oleh karena itu saya usahakan hadir kemarin. Dan ternyata benar, pembahasannya sangat menarik.

Ekonomi islam adalah fitrah, ilmu yang diciptakan Allah untuk kesejahteraan umat Islam dan seluruh penduduk bumi. Jika sekarang ekonomi islam tidak populer, maka bukan berarti islam itu tidak ada. Ibarat sang surya, ia tetap bersinar. Ketika kita tidak disinari matahari, maka kitalah yang terhalang atau tertutup dari cahaya islam sendiri.

Sistem ekonomi islam berbeda dengan sistem ekonomi konvensional. Misalnya sistem ekonomi Kapitalis (biasanya dianut oleh orang-orang Amerika), hanya melulu soal materi. Yang kuat menindas yang lemah. Sedangkan sistem ekonomi Sosialis (dianut eropa, rusia, china) berprinsip sama rasa sama rasa. Tidak ada persaingan sehingga orang akan malas berusaha. Yang rajin maupun yang tidak mendapat bagian yang sama. Ekonomi islam tidak seperti itu. Ekonomi islam melihat manusia seutuhnya, dimana manusia memiliki kebutuhan untuk bersaing secara sehat, dan jiwa sosial yakni prinsip berbagi dengan sesama. Islam memandang manusia dengan utuh, tidak mengabaikan sisi kemanusiaan yang tidak bisa dipungkiri. Oleh karena itu, dalam islam ada persaingan pasar namun ada pengawasan juga. Orang boleh mengumpulkanharta sebanyak-banyaknya, namun juga tidak lupa berbagi melalui zakat, infaq dan sedekah. Itulah keadilan ekonomi menurut Islam.

Sekilas saya paparkan tentang isi dari kajian yang saya dengarkan kemarin sore. Namun, merujuk pada judul yang saya tuliskan, saya akan mengungkapkan sesuatu yang menarik di sini. Pada saat sesi tanya jawab, ada bagian dimana Ustad Khairul Umam memaparkan tentang sistem yang dijalankan di Pondok Modern Gontor. Saya akan bahas fokus pada sisi keikhlasan.

Ustad yang ada di Gontor, baik di pondok maupun di universitasnya tidak ada yang digaji, karena gontor memang tidak menerapkan sistem gaji. Kekuatan Gontor dibangun dengan sistem wakaf. Bukan hanya materi seperti tanah dan bangunan saja, bahkan ada wakaf orang. Ustad yang mengabdi di Gontor ada yang telah mewakafkan dirinya, berjuang untuk pondok. Itulah mengapa, Gontor bisa besar, karena dana yang biasanya banyak dialokasikan untuk gaji digunakan untuk mengembangkan pondok. Maasya Allah! Kalau bukan atas dasar keikhlasan, tentu hal ini tidak bisa berjalan.

Saya sangat mengagumi keikhlasan para ustad di gontor (asatid). Asatid berjuang mengorbankan waktu dan tenaga dengan penuh keikhlasan, demi mendidik generasi yang pandai ilmu agama. Tidak ada tujuan materi dalam mengajar, karena memang sudah diniatkan jihad fi sabilillah. Subhanallah. Jika ada jabatan di Gontor, mereka meraih amanah itu bukan karena uang (karena emmang tidak ada gaji dan insentifnya). Mereka mengambil amanah tersebut karena merasa butuh untuk berjuang untuk pondok. Sekali lagi, kalau bukan karena keikhlasan demi meraih ridho Allah, mana mungkin hal ini bisa terjadi?

Namun, insya Allah, Gontor juga memberikan penghidupan yang layak pada para ustadnya. Memuliakan pada ustadnya dengan memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Itulah kekuatan dan kemandirian yang dimiliki Pondok Modern Gontor yang membuat pondok tersebut bisa jaya dan besar seperti sekarang ini. Bahkan, universitas dari luar negeri seperti Malaysia pun datang, Rektor, wakil dan para ketua di universitas tersebut datang ke UNIDA untuk belajar bagaimana bisa mandiri seperti Gontor. Maasya Allah!

Kiranya, saya malu dengan para ustad di gontor ini. Karena saya belum bisa sepenugnya seperti ustad di gontor yang penuh dnegan keikhlasan. Namun, saya banyak belajar dari mereka. Insya Allah, keteladanan terseut akan saya aplikasikan dalam kehidupan saya sehari-hari, terutama di tempat kerja saya sekarang ini. Semoga amal baik pimpinan dan asatid Pondok Modern Gontor diterima di sisi Allah dan berbuah pahala di surga kelak. Aamiin.

Thursday, 2 July 2015

Jangan Lupa Membuat List Hutang Sekecil Apapun Jumlahnya

Setelah menulis Cara Membayar Hutang Supaya Lunas saya ingin mengingatkan sekali lagi pada diri saya bahwa hutang, sekecil apapun akan ditagih di akhirat nanti. Oleh karena itu, mumpung masih ingat segera cata hutang-hutang Anda dalam sebuah buku atau di laptop Anda. Boleh saja di tempat tersembunyi, namun akan lebih baik di tempat yang bisa ditemukan orang. Mengapa?

Karena kita tidak pernah tahu kapan kita meninggal dunia. Jangan sampai saat kita meningal, kita meninggalkan hutang yang tidak tercatat, sehingga menyulitkan ahli waris untuk membayarkan hutang kita. Kalau bisa, Anda titipkan catatan tersebut pada ahli waris atau orang yang dipercaya sebagai wasiat. Apabila seiring waktu ada penambahan atau pengurangan utang, harap segera perbaharui.

Saya sendiri tidak segan-segan membuat list hutang dan sailnan catatan tersebut. Buat saya, selain memotivasi untuk segera membayarnya, saya juga merasa lebih tenang jika nyawa saya sewaktu-waktu diambil Yang Maha Kuasa. Syukur Alhamdulillah, sebelum meninggal saya sudah melunasi hutang tersebut.

Cobalah untuk duduk diam sejenak, merenung dan mengingat kepada siapa saja kita perna berhutang. Tulislah, baik hutang yang kecil maupun yang besar. Bahkan hutang yang sekecil-kecilnya, walau jumlahnya hanya beberapa ribu rupiah. Setelah itu, leakkan ditempat dimana orang bisa menemukannya. Jika sudah ditulis, kita akan termotivasi untuk membayar hutang kita, mulai dari yang kecil, kemudian mencicil hutang yang besar nominalnya sehingga lama kelamaan list hutang kita akan habis kita coret dan benar-benar lunas. Alhamdulillah.

Itulah sedikit pengingat bagi kita semua khususnya untuk saya sendiri agar tidak malas membuat list hutang. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk membayar hutang, dan dijauhkan dari siksa api neraka akibat hutang yang tidak terbayar. Aamiin...

Monday, 29 June 2015

Meluangkan Waktu Untuk Sholat Dhuha Bagi yang Bekerja di Kantor

Bismillah.
Salah satu cara untuk mendongkrak derajat kehidupan kita secara spiritual adalah dengan menjalankan sholat dhuha. Sudah banyak orang yang merasakan fadhillah sholat dhuha. Sholat Dhuha dapat membuka pintu rezeki kita, sebagai ikhtiar dan doa kepada Allah Swt supaya kita semakin mudah dalam menjalani hari-hari sekaligus menabung pahala untuk bekal di akhirat kelak.

Sayangnya, tidak semua orang punya kesempatan untuk sholat dhuha. Anda yang bekerja di sebuah instansi serinkali merasa tidak ada cukup waktu untuk sholat dhuha. Berangkat pagi-pagi, istirahat siang saat jam makan siang (biasanya untuk sholat dhuhur juga). Mau sholat dhuha sulitnya minta ampun. Nggak ada waktu! Begitulah kira-kira kendala orang yang tidak mampu menunaikan sholat dhuha.

Memang benar, waktu sholat dhuha termasuk jam kerja. Sehingga orang yang bekerja akan merasa "korupsi waktu jika menggunakan jam kerjanya untuk sholat dhuha. Jangankan yang ber-rakaat-rakaat. Untuk sholat 2 rokaat saja tidak bisa. Namun, benarkah kita memang tidak sempat untuk sholat dhuha karena alasan tersebut? Bukankah kita selalu punya waktu untuk sekedar coffebreak?

Sebenarnya, bukan masalah waktu yang membuat kita tidak bisa sholat dhuha. Kuncinya adalah KEMAUAN. Selama kita MAU, maka pasti ada jalan. Tidak percaya?

Oke, silakan dipraktikkan tips berikut.
Saat berangkat kerja, usahakan sudah dalam keadaan berwudhu. Kemudian, sesaat setelah sampai kantor biasanya kita absen dulu, bukan? Nah, kalau absen pada perusahaan saja mau tertib, tentunya Anda tidak mau ketinggalan untuk absen ke Allah dulu. Saat masuk kerja, tentu kita tidak langsung straight ke kerjaan, ada jeda waktu sedikit. Kalau Anda benar-benar mau, segera ke musholla kantor dan dirikan dhuha 2 rakaat. Berapa waktu yang dibutuhkan? Kalau sholat 2 rakaat dengan surat yang pendek plus doanya 5 menit cukup lho. 5 menit saja, kalau kita khusyu', insya Allah pahalanya sama di sisi Allah. Bahkan, Allah akan melihat perjuangan kita untuk menyempatkan sedikit waktu kita untuk sholat dhuha. Maasya Allah! Luar biasa.

Jika cara pertama tidak berhasil, maka gunakanlah waktu coffeebreak Anda untuk sholat Dhuha. Untuk menikmati secangkir kopi, tentunya ada waktu 5-15 menit bukan? Nah, gunakan waktu itu untuk mendirikan Sholat Dhuha. Insya Allah, dengan kemauan keras, Anda akan bisa mengalahkan rasa enggan dan malas untuk Sholat Dhuha di kantor.

Sejatinya, kita akab merugi jika tidak bisa melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Sebab, Allah sudah kasih kita waktu untuk beribadah kepada-Nya. Cuman, kitanya yang NGGAK MAU dan MALAS. Jadinya, rezeki kita ya segitu-segitu aja. Nggak nambah-nambah. Jadi, mulai sekarang cobalah untuk meluangkan waktu untuk sholat dhuha. 5-10 menit cukup untuk kita sholat dan berdoa. Insya Allag, kita akan dimudahkan dalam meraih rezeki dan kehidupan kita akan berubah menjadi lebih baik. Insya Allah.

Sunday, 28 June 2015

Cara Membayar Hutang Supaya Lunas

Bismillah.

Sharing ilmu tentang melunasi hutang. Wah, gaya... Emang situ bebas hutang? Ya belum sih. Nih, ya, saya sekarang juga sedang dalam tahap melunasi hutang juga. Sekalian lah, belajar sambi bagiin ilmunya biar bisa lunas hutang beneran. Hutang itu kalau nggak dibayar, nggak papa. Insya Allah tuh, bakal ditagih diakhirat! Hehe, jadi, selama masih di dunia kewajiban kita memang melunasi hutang. Lalu, gimana caranya bebas utang? Sebenarnya kita nggak butuh seribu tips. Satu-satunya solusi buat bebas hutang yaitu: DIBAYAR. Nggak ada cara lain. Hehe.

Ah, kirain bakalan ada tips yang menggelegar di postingan ini. Emang sih, cara lunasin hutang ya dibayar. Namun tahapan-tahapan ikhtiarnya yang bakalan saya share di sini.

Awalnya, saya ini termasuk entengan kalau soal hutang. Maksudnya, kalau uang kurang ya minjem. Sama sodara, temen. Kecuali bank ya, Alhamdulillah, sampai sekarang saya nggak sampai terlibat hutang bank atau kartu kredit. Buat yang nyari artikel ini karena punya hutang bank, insya Allah tipsnya berlaku juga kok. Minjemnya gampang, namun bayarnya yang susah. Seret pas ditagih. Ini murni salah saya, karena ketidaktahuan saya. Secara saya telat belajar kecerdasan financial.

Okelah, anggap saja dosa masa lalu saya adalah gampang berhutang. Saya lalu mikir. Gimana ini, kok hutang kayaknya muterin saya kayak tali. Ngiket kenceeeeeeng, gitu. Ruwet, kagak lepas-lepas. Ternyata, ketemu jawabannya. Saya masih salah dalam membayar hutang. Dulu, saya bayar hutang pakai hutang juga. Ya nggak selesai-selesai dong. Gimana mau selesai coba, orang habis lunas satu utang, muncul utang baru. Gali lobang tutup lobang lah istilahnya. Bodohnya saya, utang kedua lebih besar dari utang pertama. Jadi misalnya saya perlu bayar utang 800 ribu nih, saya utang sama orang lain 1 juta. Kan nggak bener itu. Utang saya nggak berkurang, justru nambah 200 ribu.

Tapi alhamdulillah, sekarang sudah mulai sadar kesalahan dalam membayar hutang itu. Akhirnya saya ber-azzam untuk TIDAK BAYAR HUTANG PAKAI HUTANG.

Caranya, dari hutang terakhir, saya udah nggak berhutang lagi untuk bayar hutang-hutang saya. Saya cicil semampu saya dari penghasilan yang saya dapatkan. Kalau kata financial planner sih cicilan hutang nggak boleh lebih besar dari 30% penghasilan kita. Tapi saya mah kalau ada ya saya bayarin dulu utang. Eneg liat utang numpuk soalnya. Jadilah saya cicil hutang-hutang saya pakai penghasilan. Kalau ada yang nagih dan kebetulan nggak ada duit cash sama sekali, saya jual aset. Kemarin saya jual dah ponsel saya. Smartphone murah sih, tapi berharga juga kalau lagi kepepet bayar utang. Bayar utang pakai uang penjualan asset ini salah satu trik biar nggak hutang lagi, sekaligus memangkas liabilitas kita (ohya, sebenarnya ponsel itu masuk liabilitas, bukan aset. Tapi biar paham, saya tulis aset aja).

Setelah nggak ada benda berharga lagi, penghasilan juga nggak mencukupi, saya bilang dah sama yang nagih: "Beneran, udah nggak ada duit sama sekali nih. Saya cariin dulu ya..." Cariin kemana? Cara berikutnya yang saya tempuh adalah dengan mencari penghasilan tambahan. Ada barang temen kita jualin. Uangnya buat nyicil utang. Bikin gantungan-gantungan kunci, bros-bros dari kain, jualin. Uangnya buat nutup utang. Insya Allah, akhirnya kebayar semua utang kita. Insya Allah. Karena kita sudah beritikad untuk lunas hutang dengan ikhtiar semaksimal mungkin. Nggak pake ngutang lagi.

Nah, supaya lebih jos lagi, pake kekuatan doa. Ya Allah, pengen bebas utang nih. Empet lama-lama ditagihin mulu sama orang... Baca doa: Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani, wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasali, wa a'udzubika minal jubni wal buhli, wa a'udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijal... Baca deh pagi sore. Kalau bisa habis sholat fardhu juga.

Tambahin lagi ikhtiar langitnya pakai dhuha. Biar pintu rizqi terbuka. Kalau rizqi kita melimpah, Insya Allah bisa lunas hutang. Tahajjudnya juga. Lalu baca itu surat Al Waqiah, pagi sore. Atau minimal sehari sekali. Yakin, Allah bakalan iba liat kita sudah berusaha doa dan ikhtiar. Nggak ada yang Allah sia-siain.

Banyakin istighfar, mohon ampun sama Allah. Barangkali seretnya rezeki kita juga karena dosa-dosa yang kita lakukan. Dosa bisa jadi penghalang rezeki kita. Dengan banyak istighfar, Insya Allah, Allah akan bukakan pintu rizqi kita lebih besar lagi.

Doain juga orang-orang yang kita hutangi (yang memberi piutang) supaya disabarkan hatinya, penuh maklum pas kita minta tambah tenggat waktu, makin banyak rezekinya (jadi nggak inget nagih, hehe). Minta supaya dilembutin hati dan lisan mereka. Walau keliatannya kita nggak langsung dikasih rezeki banyak, minimal kita dikasih ketenangan hati. Yang harusnya kita digedor pintu buat bayar utang, mereka nggak jadi menggedor pintu kita. Sebab rizkinya sudah cukup. Mereka bantu kita dengan cara tidak menekan kita buat bayar hutang, atas izin Allah. Lumayan, kta bisa lebih konsentrasi nyari duit buat bayar hutang kepada mereka. Kalau bisa nih, sebelum ditagih sudah kita bayar. Syukur-syukur kita lebihin dah. Maasya Allah!

Nah, segitu dulu ya tipsnya. Jangan nggak dipraktekin, percuma mau lunas hutang kalau nggak ada prakteknya. Harus ikhtiar dan doa bener-bener. Sebagai penutup, kalau ingin lebih kenceng lagi dapet pertolongan dari Allah buat bayarin hutang kita: SEDEKAH. Berapapun nominalnya, niatin ikhlas. Kan dobel tuh beratnya. Udah nggak punya duit banyak, banyak utang, eh, sedekah pula. Jangan lupa doa: Ya Allah, ini saya masih punya utang segambreng, duit ngepas, tapi buat Engkau Ya Rabb, saya bagi dah. Insya Allah tuh, Allah bakal melihat usaha kita dalam melunasi hutang dan mengangkat derajat kita. Insya Allah.

Saturday, 27 June 2015

Berhijab Syari, Langkah Awal Memperbaiki Diri

Bismillah.

Seringkali dalam hidup saya dihinggapi pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu. Pertanyaan itu tetiba muncul, menimbulkan rasa penasaran untuk menjawabnya. Salah satu pertanyaan yang sering mengganggu saya akhir-akhir ini adalah: bagaimana cara menjadi insan yang lebih baik?

Pertanyaan itu berkecamuk dalam diri, meminta jawaban. Saya berpikir, usia yang semakin bertambah (atau berkurang?), mengharuskan saya memilih langkah-langkah tegas dalam hidup. Apa yang akan saya lakukan dalam hidup? Bagaimana nasib saya selanjutnya? Apa bekal yang akan saya bawa ke akhirat kelak? Pertanyaan berikutnya muncul, menyeruak membuat pikiran dan hati saya kusut.

Tentunya ada hal mendasar yang perlu saya selesaikan terlebih dahulu. Menjadi manusia yang lebih baik ada banyak caranya. Seperti memulai kebiasaan baru yang baik. Memutuskan hal yang akan dilakukan dalam hidup adalah langkah berikutnya supaya saya bisa mencapai tahap manusia yang lebih baik dari hari ke hari.

Salah satu yang bisa saya lakukan adalah dengan mulai berhijab syari. Karena saya seorang muslimah, tentu langkah ini adalah tepat. Berhijab adalah sebuah perintah yang diturunkan oleh Allah SWT langsung di dalam Al Qur'an. Jika saya ingin menjadi orang yang bertaqwa (definisinya menjalankan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya), maka saya wajib untuk memenuhi perintah berjilbab ini.

Selama ini saya sudah menutup aurat, namun belum sempurna. Saya melihat, kemudian menimbang-nimbang, jenis pakaian apakah yang cocok untuk saya? Ternyata jawabannya sederhana saja. Pakaian yang menutup aurat seluruhnya (jilbab/gamis+khimar+kaoskaki) dan sederhana. Saya mendapatkan pemahaman tentang jilbab ini secara bertahap, tidak langsung paham. Meski saya sudah berusaha mengenakan hijab sejak sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, tidak berarti saya langsung mantap untuk behijab syari. Pun hingga detik ini, Namun, saya yakin, lambat laun saya akan mencapai tahap tersebut dimana saya sudah tidak nyaman lagi untuk memakai pakaian yang tidak syari.

Dan kini bibit itu sudah muncul. Saya tidak mau menia-nyiakan hidayah ini. Saya merasa Allah sedang melihat saya, sabar menunggu saya berubah untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jika saya tidak menggapai hidayah yang telah Allah berikan, maka saya akan merugi. Belum tentu kesadaran semacam ini akan timbul lagi.

Nah, oleh karena itu mulai saat ini saya berusaha untuk perlahan mengganti pakaian saya yang tidak syari menjadi lebih tertutup lagi. Meskipun saya akui itu sangat berat. Saya belum memiliki pakaian-pakaian yang longgar untuk menutup aurat. Sebagian besar pakaian saya masih "biasa", karena itu saya katakan berat. Saya harus berjuang. Saya harus menabung untuk mendapatkan pakaian yang akan saya pakai terus nantinya. Mengganti keseluruhan isi lemari bukan perkara mudah untuk saat ini.

Tapi saya tidak putus asa. Saya malah memilih jalan yang berbeda. Saya terus berdoa kepada Allah SWT supaya dilimpahkan rizki untuk mengganti pakaian-pakaian saya. Saya berusaha menjadi reseller baju syari supaya saya bisa mendekati orang-orang yang sudah berhijab syari (kan kalau mau wangi harus dekat-dekat penjual parfum). Setidaknya saya bisa ikut kena aura positifnya, sehingga lama-lama saya bisa berhijab syari. Saya menjualnya, berarti saya berusha mencocokkan frekuensi dengan hijab syari. Dengan menjualnya saya bisa mengajak orang lain untuk berhijab syari. Terakhir, apabila ada kelebihan rezeki dari hasil penjualan, saya bisa membeli baju-baju syari sehingga saya bisa total memakainya.

Saya sangat bersyukur sekali, memiliki calon suami yang mendukung saya untuk berhijab syari. Bahkan dia juga salah satu yang sangat setuju jika suatu saat saya memakai cadar. Mungkin itulah cara dia supaya bisa menjaga saya. Saya berharap bisa memenuhi keinginan beliau. Insya Allah, dengan izin Allah, saya akan melaksanakannya semampu saya. Lillahi ta'ala.

Thursday, 25 June 2015

Mengawas Ujian, Sejatinya Manusia Setiap Hari Diawasi dalam Ujian Kehidupan

Bismillah.
Pekan ini, saya mulai mengawas ujian akhir semester di kampus saya. Perjalanan belajar selama satu semester harus dibayar dengan melampaui ujian ini. Ibarat mengendara di jalan tol, kita akhirnya harus keluar melalui gerbang tol. Jika tidak, maka kita tidak akan bisa melanjutkan perjalanan.

Ini pengalaman kedua saya mengawas. Kemarin saya pernah mengawas ujian tengah semester juga. JAdi sudah ada sedikit pengalaman. Mengawas UAS sepertinya lebih santai daripada UTS. Ini dari sudut pandang pengawasnya sih. Kalau dari sudut pandang mahasiswa tentu berbeda. Ada debar yang tak terelakkan karena jika tidak lulus atau niai jeblok akan berpengaruh kepada IPK dan harus mengulang di semester berikutnya.

Saat ujian, kita tidak boleh melihat ke textbook atau catatan apapun. Kalau kita melihat, maka kita disebut mencontek. Kemungkinan kita akan didiskualifikasi dari ujian. Teman-teman lainpun akan menganggap kita tidak fair dalam menjalani ujian. Oleh karena itu, sebelum ujian kita harus belajar terlebih dahulu.

Kepada pengaws pun kita takutnya tidak benar-benar takut. Hanya berusaha tidak melanggar saja. Kita lebih takut pada yang memberi nilai, yakni dosen penguji. Oleh karena itu, kita akan mati-matian berusaha supaya bisa mendapat nilai setidaknya B. Paling sering kita minta bantuan teman dengan cara-cara yang kreatif sekali. Saya sendiri waktu mengaawas sering dibuat tersenyum dengan tingkah anak yang mengandalkan temannya. Segala macam cara dilakukan supaya lembar jawab terisi.

Ujian semester di kampus berbeda dengan ujian dalam kehidupan. Dalam ujian kehidupan, kita seringkali harus ujian dahulu, baru belajar. Kita hanya bisa berusaha belajar, dan tidak tahu soal yang manakah yang akan keluar. Ujian yang diberikan Allah Swt selalu unik, berbeda satu sama lain. Bagi seseorang persoalan A menjadi masalah besar, namun, bagi orang lain bisa jadi itu masalah gawat. Cara menyelesaikan persoalan tersebut juga berbeda-beda. Tergantung bagaimana sesorang itu menyikapinya.

Ujian semester hanya berlangsung 1-2 minggu, 2-3 jam sehari. Namun, ujian kehidupan berlangsung 24 jam. Kita diuji saat sedih, kena musibah, miskin dan tidak punya apapun. Kita juga diuji dengan kesenangan, harta berlimpah, kedamaian dan kekayaan. Setiap apa yang diberikan Tuhan pada kita hakikatnya adalah ujian. Saat kita ditimpa kemalangan, apakah kita akan bersabar? Saat dikaruniai kebahagiaan, akankah kita bersyukur. Sejatinya itulah yang akan dilihat oleh "penguji" sekaligus "pengawas" ujian kehidupan kita yakni Allah Swt. Kita harus merasa selalu diawasi oleh-Nya, supaya kita selalu belajar dan berhati hati dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari.

Adapun gelisah, takut tidak bisa menjalani ujian, keputusasaan, harus kita kalahkan dengan optimisme bahwa pertolongan Allah itu dekat. Mendekatlah kepada Allah dengan cara beribadah. Buka Al Quran dan temukan jawaban dari setiap persoalan yang kita hadapi. Insya Allah, Alah akan memberikan pertolongan pada kita semua.

Salam,


Indriani Taslim

Sunday, 21 June 2015

4 Inspirasi untuk Penyemangat Hari-hari

Bismillah.
Setidaknya ada 4 hal yang bisa saya bagikan hari ini melalui tulisan.

Pertama, dalam kajian kewirausahaan bersama Ust. Agus Yahya, beliau mengatakan dengan jelas bahwa untuk menjadi seorang pengusaha upayakan untuk berdaya dengan modal kita sendiri. Modal berbisnis itu ada 2: diri kita sendiri dan materi. Untuk modal materi itu gampang, asalkan ada kemauan dari diri kita untuk menjadi pengusaha sukses. Sebab, modal utama berbisnis adalah diri kita sendiri (yang tak ternilai harganya). Untuk modal materi, usahakan untuk memakai modal sendiri sebelum berpartner atau pinjam bank. Berapa yang Anda butuhkan? 3 juta misalnya. Bekerjalah (apa saja aslal halal) dah tabunglah hasilnya hingga mencapai jumlah modal yang kita butuhkan. Jangan buru-buru pinjam modal ke temana atau perbankan. Yakinlah, Anda bisa mendapatkan modal itu dari kemampuan Anda sendiri. Nasehat ini sangat 'ngena' di hati saya, karena umumnya motivator bisnis akan merekomendasikan bisnis tanpa modal. Namun beliau bilang, tidak ada bisnis tanpa modal. Cara membangun bisnis dengan ide bagus yang kita miliki adalah percaya bahwa kita bisa mandiri untuk masalah modal awal.

Kedua, saya mendengar nasehat dari seorang teman yang entah kenapa saya merasa beliau dipertemukan dengan saya hari ini untuk menginspirasi saya. Kali ini, nasehatnya tentang doa. Bagi seorang muslim, doa dalah senjata untuk meraih kesuksesan. Jika kita bersungguh-sungguh memohon kepada Allah SWT, maka Dia akan mengabulkan permohonan kita. Allah mengabulkan doa dengan 3 cara: seketika, diganti yang lebih baik dan diakhirkan. Jika kita tidak mendapatkan 2 cara pertama, setidaknya kita harus sabar dalam berdoa, karena Allah mungkin sedang menyiapkan kado terbaik di akhir. Saat kita sabar dalam berdoa, insyaAllah Allah akan mengabulkan doa kita tepat pada waktunya (dan tentu saja dengan cara yang terindah). Terimakasih, teman. Tiada yang lebih berharga dari seorang teman kecuali nasehat yang bermanfaat seperti yang engkau berikan hari ini.

Ketiga, saya berusaha menyisihkan berapapun penghasilan saya untuk membeli buku. Karena buku merupakan sumber ilmu bagi saya, dan investasi yang sangat baik. Saat saya memiliki uang 100 ribu, kemudian saya berniat membelikannya buku seharga 50 ribu maka saya akan mencari buku terbaik yang bermanfaat bagi saya. Sayangnya, saat itu buku terbaik versi saya saat itu harganya 70 ribu. Maka, saya memutuskan untuk tetap membeli buku tersebut karena uang 20 ribu (yang bukan anggaran saya untuk beli buku) itu kalau tetap berbentuk uang akan "ngleles" atau habis juga. Kadang malah saya tidak tahu kemana larinya uang tersebut. Alhasil, 20 ribu itu akan menjadi sumber inspirasi saya yang tentu lebih awet daripada tetap menjadi lembaran uang. Tiada merugi beli buku, percayalah, itulah yang lebih awet baik dari segi barangnya maupun manfaatnya bagi otak kita.

Keempat, saya melihat progres yang sangat baik seorang "mompreneur" yang hebat luar biasa. Saya melihat perkembangan uasaha beliau sangat pesat, tentunya ini menginspirasi saya untuk bisa mencontoh hal-hal baik dari apa yang telah beliau kerjakan selama ini. Rasanya bahagia saat melihat orang lain sukses dengan caranya masing-masing. Alhamdulillah, semoga selalu mendapatkan berkah silaturrahimnya.

Tetap semangat. Sukses mulia di jalan Allah.

#RamadhanPenuhManfaat

Monday, 9 March 2015

Rencana Allah Jauh Lebih Indah

Beberapa waktu lalu, saya merasakan Allah begitu dekat dengan saya. Apa sebab? Saya merasa sebagian doa-doa saya terkabul. Allah menata kehidupan saya dengan begitu indah. Dan saya sangat yakin, Allah Maha Mendengar Semua Doa.

Awalnya saya hanya ingin tetap berdomisili di Ponorogo. Entah mengapa, seiring dengan pemahaman saya, saya memutuskan untuk tinggal di kota kecil ini. Walaupun gemerlapnya kota metropolitan mengajak saya untuk bergelut dengannya, hati saya tetap terpaut di kampung damai ini. Saya tidak ingin cepat-cepat meninggalkan kta dimana saya dan keluarga bersama-sama tumbuh. Di kota ini, hanya perlu niat kuat untuk bisa survive. Insya Alah, ketika kita sudah yakin dengan apa yang Allah pilihkan untuk kita, tidak ada yang sulit. Tidak ada yang tidak mungkin.

Awalnya saya berniat kuat untuk membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia di sini. Namun calon suami seprtinya masih ingin merantau. Saya sebenarnya mau-mau saja ikut dengannya di ibukota. Namun ada dorongan lain yang membuat saya enggan untuk ke sana. Sepertinya hidup saya sudah di sini, di Ponorogo. Akhirnya saya harus memutuskan. Saat itulah kesempatan berkarir si Ponorogo datang. Tentu ini bukan kebetulan. Saya yakin, Allah-lah yang memilihkannya untuk saya.

Saya putuskan untuk tetap di sini. Jika suami nanti ingin tetap merantau, maka saya rela untuk long distance marriage untuk sementara waktu. Tak apa, demi kebaikan bersama. Namun, Allah sepertinya tahu apa yang saya rasakan. Tentu, Allah tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat daripada yang harus ditanggung hamba-Nya. Oleh karena itu, ujian ini datang.

Calon suami saya sakit, sehingga harus dibawa pulang. Orangtuanya yang menjemputnya. Sebenarnya, jika semua berjalan sesuai rencana, maka calon suami akan pulang sekitar bulan Oktober. Cuti seminggu untuk hari pernikahan kami. Namun, lagi-lagi Allah-lah yang Maha Menentukan. Rencana tersebut batal, karena calon suami harus mendapat perawatan. Calon suami akhirnya dibawa pulang ke Ponorogo oleh orangtuanya dan tidak diperbolehkan kembali ke Jakarta.

Allahuakbar!

Saya aykin betul, ini semua terjadi bukan karena kebetulan. Ini semua terjadi karena kehendak Allah SWT. Tiada yang bisa menolak keputusan-Nya ketika dia sudah memutuskan sesuatu. Ada saja jalan yang Dia buat. Dan pastinya semua yang terjadi adalah takdir terbaik dari-Nya.

Hikmah yang bisa saya petik adalah, sebagus apapun manusia berencana, sekuat apapun manusia berusaha, ketika Allah sudah memilihkan jalan terbaik-Nya, maka Dia pasti akan menunjukkan jalan-Nya. Meskipun dengan cara yang tidak pernah kita pikirkan. Saya percaya itu.

Kini, saya hanya berdoa yang terbaik saja. Semoga kedepannya langkah kami menuju jenjang pernikahan dapat berjalan dengan lancar dan Allah ridho. Aamiin.

Friday, 27 February 2015

Saya Ingin Jadi Orang Kaya

Menjadi orang kaya. Mungkin impian saya ini terlalu mainstream. Siapa juga yang tak mau menjadi orang kaya? Semua orang ingin jadi orang kaya. Namun, kali ini serius deh, saya pengen banget jadi orang kaya. Saya ingin jadi orang kaya plus plus.
Mengenai latar belakang saya ingin jadi orang kaya, sebenarnya ada motivator saya yaitu Ustad Yusuf Mansur. Saya beberapa kali sengaja buka youtube dengan kata kunci ceramah yusuf mansur. Alhamdulillah, ketemu banyak. Banyak yang ngupload, sehingga saat saya tahu begitu saya ngomong, "Yaa Allah, kemana saja saya selama ini?
Saya termotivasi menjadi orang kaya bukan karena saya ingin hidup senang di dunia saja. Saya ingin lebih dari itu. Saya tahu dunia ini sementara, maka dari itu saya ingin menguasai dunia biar saya selamat di akhirat. Untuk selamat di akhirat kan nggak terbatas orang miskin saja yang bisa masuk surga. Tidak selamanya orang kaya itu mulia, dan tidak selamanya orang miskin itu hina. Namun juga tidak selamanya orang kaya masuk neraka, orang miskin masuk surga. Belum tentu.
Apa yang membedakannya? Apa yang membuat orang kaya busa enak di dunia, di akhirat juga selamat? Inilah yang saya cari tahu jawabannya.
Menjadi orang kaya yang selamat di dunia dan akhirat jalannya cuman 2:
1. Mintanya bener. Minta kekayaan pada yang Maha Kaya langsung! Jangan berharap kekayaan dari manusia. Tauhidnya dibenerin.
2. Bersyukur. Nggak usah pelit sama orang lain, toh harta yg Allah berikan itu hanya titipan semata. Maka jangan segan jangan "eman" kalau diminta Allah untuk dinafkahkan di jalan-Nya.
Oleh karena itu saya ingin jadi orang kaya. Saya ingin jadi orang kaya tang pandai bersyukur. Saya ingin jadi orang kaya yang ahli sedekah. Saya ingin sekali jadi ahli syukur yang selamat dari siksa api neraka. Saya ingin jadi orang kaya yang bahagia di dunia bahagia di syurga.
Enak bener ngomongnya? Apa nggak ketinggian tuh mimpinya?
Ya biarin aja. Masa iya kita doanya setengah-setengah... Mau kaya tapi ujungnya di neraka, siapa yang mau coba? Makanya doa saya komplit aja, satu paket. Kaya di dunia, di akhirat masuk syurga. Emang bisa? Bisa banget... Tinggal akhlaknya dibenerin supaya itu semua bukan hanya mimpi.
Mulai sekarang itu jadi doa saya. Semoga terkabul dan kalau sudah kaya saya kabari Anda semua. :)
Salam,
Indriani Taslim

Monday, 16 February 2015

Saat Kegembiraan Menyapa, Saat Itulah Ujian Datang

Bersyukur dan bersabar. Ya, itulah yang selalu ada di setiap kehidupan. Saat kita dilimpahi begitu banyak kesenangan, rasanya tak pantas jika kita tak bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan. Namun, saat kita lengah sedikit saja, maka akan ada celah dimana kinikmatan itu dicerabut dan digantikan ujian kesabaran.

Hal itulah yang saya alami baru-baru ini. Saya menekuni pekerjaan menulis, dan karena itulah saya membutuhkan perangkat yang dapat menunjang aktivitas saya tersebut. Laptop sudah bukan lagi menjad keinginan, namun sebagai kebutuhan. Saya sangat kerepotan saat tak memiliki laptop pribadi. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memilikinya segera.

Setelah melalui berbagai macam pertimbangan, akhirnya saya membeli sebuah laptop (Asus, 12 Inch) seharga IDR3,450,000. Namun, karena uang saya belum cukup, saya memutuskan untuk membelinya dengan cara mencicil di BMT Latansa. Berbekal perhiasan emas 5 gram (sebagai jaminan), uang muka 500K dan biaya administrasi 50K, maka saya sudah bisa membawa pulang laptop idaman saya dalam waktu 3 hari saja. Berikutnya saya harus mencicil tiap bulan 288K selama 12 bulan. Sungguh, percepatan ini saya lakukan semata-mata untuk menunjang aktivitas saya sebagai penulis.

Namun, sesaat setelah kegembiraan itu terjadi, ujian pun menerpa saya di hari yang sama. Pekerjaan menulis saya di salah satu web harus berhenti. Alhamdulillah. Mungkin Allah punya rencana lain dibalik itu semua. Kemudian, satu web lagi juga ada sedikit kendala (semoga Allah mudahkan, sehingga bisa terus berjalan seperti biasa). Terjadi di waktu yang sama. Antara bersyukur dan bersabar, ternyata saya mendapat ujiannya di hari yang sama.

Tentu saya harus realistis. Saya harus mendapatkan sumber pemasukan lain, karena saya sudah menyatakan sanggup untuk mencicil laptop tersebut setahun ke depan. Oleh karena itu, saya perbanyak kesyukuran saya akan laptop yang sudah ada di tangan, dan memperbesar sabar saya karena harus mencari sumber pemasukan baru. Insya Allah, dengan dua modal tadi (bersyukur dan bersabar) saya siap menjalani hari-hari ke depan. Utamanya sebagai penulis.

Oleh karena itu, saya berharap, saya diberikan keistiqomahan (keajegan) untuk menjalankan profesi saya sebagai penulis. Semoga laptop ini dapat memberikan kemanfaatan yang besar bagi saya, dan dapat menemani perjuangan saya kedepannya untuk bekerja dan menuntut ilmu. Aamiin.

Thursday, 5 February 2015

(Mau Tak Mau) Selalu Ada Fase Tak Nyaman dalam Hidup Kita

Waktu terus bergulir dengan cepatnya. Tak terasa februari telah menyapa, sedangkan belum banyak karya yang telah tercipta. Saya merasa banyak perubahan yang terjadi setelah saya lulus kuliah. Alhamdulillah, pekerjaan saya yang di rumah saja seperti ini cukup untuk membiayai kebutuhan hidup saya selama ini. Setidaknya tak minta orang tua lah. Dulu sewaktu kuliah saya juga sudah mulai mandiri, namun tetap saja, usai pendidikan, tanggung jawab terhadap diri sendiri jadi semakin besar pula. Menghidupi diri sendiri sekaligus menyiapkan dana untuk masa depan (baca: menikah, hehehe).

Akhir-akhir ini saya sibuk menulis, eh, tapi bukan alasan ding kalau jadi nggak update di blog ini. Soalnya saya masih sempet tuh window shopping di instagram :D Jadi, saya tidak akan beralasan kenapa saya hampir nggak pernah update blog ini. Lupa dan malassss...

Sepertinya, saya harus lebih sering berjalan-jalan. Ini atas usulan beberapa orang yang mengetahui pekerjaan baru saya sebagai penulis artikel web. Misalnya Pak Zul, "Kalau menulis bukan lagi hobby, maka perlu sering jalan-jalan supaya tidak capek dan stress. Jalan-jalan bisa menimbulkan inspirasi."

Ada lagi Pak Imam, "Sekarang sibuk apa? (saya jawab nulis) O... berarti harus sering jalan-jalan itu." Whew, beda orang tapi komentarnya sama. Memang benar sih, kalau seorang penulis cuman nulis aja tanpa diselingi dengan jalan-jalan, maka rawan terkena stress. Apalagi jika nulisnya di depan layar laptop melulu. Asli, stress bro.

Makanya, saya memilih jalan tengah. Jalan-jalan tak kalah penting dengan menulis itu sendiri. Setiap ada kesempatan jalan (walau cuma ngambil baju di laundry misalnya), saya optimalkan untuk menyegarkan pikiran.

Setiap perubahan dalam hidup memang menimbulkan konsekuensi yang tak mengenakkan. Dulu saya asyik di dunia craft, hampir 7 tahun. Namun setelah saya merenung, nggak baik juga kalau saya nggak keluar dari zona nyaman saya. Maka saya putuskan nyemplung di dunia penulisan online. Jika tak memaksakan diri untuk pindah, maka mungkin saat ini saya masih asyik saja dengan jarum benang.

Menulis merupaan salah satu passion saya. Setelah dijalani, ternyata menulis tak semulus kedengarannya. Passion yang membawa saya kesini bukan berarti 100% menyenangkan. Pasti ada ketidaknyamanan dari semua itu. Namun, seperti yang tertera di judul ini (mau tak mau) selalu ada fase tak nyaman dalam hidup kita. Tinggal sikap kita saja, mau menyerah dengan ketidaknyamanan tersebut dan hengkang, atau bertahan dan menemukan zona nyaman yag baru.

Nikmati sajalah. Right?

Monday, 12 January 2015

Rasa Rindu

Entahlah.
Jika cinta sudah berbicara, maka tak ada yang sanggup tuk mengungkapkan bagaimana rasa mencinta. Gugup, resah dan rindu adalah rasa yang selalu ada dari orang-orang yang mencintai dengan segenap jiwa. Ada perasaan yang sulit diungkapkan, namun nyata adanya di lubuk hati terdalam. Menggelisahkan hati sang pecinta.
Aku baru merasakannya. Jika setiap detik yang biasanya dilalui bersama tetiba tak ada sosoknya. Rindu tak terperi menyerang akal sehat menjadi menggila. Rindu membuat sosoknya makin nyata dalam ingatan. Rindu membuat hati tak sanggup untuk berbohong, bahwa rindulah yang menelusup jauh dalam ruang hati.
Terlalu banyak kata rindu yang kuumbar malam ini. Tapi teranglah sudah, aku memang sedang rindu kamu.
Hey, dimana kamu?

Wednesday, 7 January 2015

Mengingatkan Saudara

Mengingatkan saudara/keluarga yang dekat ternyata lebih rumit daripada mengingatkan orang lain. Saya mengalaminya sendiri. Saat saudara kita merasa jauh dari Allah, ingin rasanya merangkul mereka sehingga dapat menjadi manusia yang lebih dekat dengan Tuhannya. Indikasinya adalah dengan melihat "isi kepala" mereka di kronologi media sosial seperti Facebook. Memang di FB semuanya belum tentu murni pemikiran mereka. Bisa jadi mereka terpengaruh dari luar. Namun, gejala awal penyimpangan dapat diindikasikan dengan melihat apa yang mereka bagikan di FB. Sungguh sangat disayangkan jika kita, khususnya saya, hanya bisa merangkul orang lain untuk diajak kepada kebaikan namun adik/kakak sendiri malah jauh dari kebaikan. Mau mengingatkan ada perasaan rikuh. Bukan karena apa-apa, kebenaran harus tetaplah disampaikan. Saat saudara kita ada yang melakukan perbuatan yang jauh dari ajaran Allah, kewajiban kita adalah mengingatkan. Perkara dia mau marah, atau hubungan kita retak adalah perkara kita dalam menyampaikan. Jika kita sudah menyampaikan dengan baik, maka tinggal responnya bagaimana. Jika responnya negatif, maka berpotensi unruk memicu keretakan persaudaraan. Maka dari itu, kita bisa mengingatkan orang lain dengan mudah. Namun kita belum tentu bisa mengingatkan saudara kita sendiri. Semoga lisan kita dimudahkan untuk menyampaikan kebaikan pada keluarga kita dan orang lain. P.S. Saya menyayangi keluarga saya, maka dari itu saya peduli.

Thursday, 1 January 2015

Sahabat yang Baik

Menjadi sahabat yang baik.
Menemukan sahabat yang baik.
Sahabat adalah teman yang senantiasa ada meski dia jauh. Sahabat adalah kawan yang selalu memberi perhatian meski kita cuek padanya.
Sahabat adalah yang selalu memberi tanpa berharap pada kita.
Saya sangat beruntung memiliki seorang sahabat yang senantiasa baik kepada saya. Namanya Inna Yetty Octavia. Saya sangat menyukai kepribadiannya yang santun, lembut dan baik hati

Inna

Saya belajar banyak dari sahabat saya yang shalihat ini. Begitu banyak sifat baik yang dapat saya teladani darinya. Yang paling menonjol adalah kecantikan hatinya yg tercermin dari tingkah lakunya.
Saya berharap selalu dipertemukan dengan orang-orang yang baik sama saya. Dunia ini terlalu singkat untuk sekedar bermusuhan. Lebih baik mencari sahabat baik sebanyak-banyaknya dan saling memberi manfaat.
InsyaAllah, saya masih terus belajar menjadi sahabat yang baik bagi siapa saya. Terimakasih, Mbak Inna... Kau yang mengajarkanku arti seorang sahabat sejati.