Monday, 28 October 2013

Belajar Sampai Mau Mati



Kisah ini berawal dari sebuah ketidakpastian hidup. Dia yang terus berpeluh melawan nasib buruk tak pernah berhenti mempertanyakan. Inikah jalan yang semestinya? Mengapa aku di sini? Kemana keadilan yang arif itu singgah hingga tak kunjung sampai padaku?

Suatu ketika dia bertemu seseorang yang menurutnya kurang ajar. Beraninya orang itu memandangnya sebagai sampah. Apa? Mengapa aku sampah? Bukankah aku tak memilih dilahirkan seperti ini? Bukankah aku tak meminta nasib menggulingkanku ke selokan?

Tentu saja kau sampah! Teriaknya tertahan, dengan gerak mulut dan mata yang membuat siapa saja tersinggung karenanya.

Bahkan jika kita tak cukup layak hidup di dunia, kau bisa mengubahnya. Hanya puas meraung kenapa begini-kenapa begitu, selamanya takkan mengubah daun yang terlanjur jatuh bersemi kembali di dahannya. Sampah hanya akan terima diinjak, tanpa mau bergerak dan berubah. Ia laksana pengecut yang hanya bisa bilang, yah inilah aku. Inilah keadaan keluargaku. Sikap yang memandang rendah diri sendiri, bagaimana ia bisa dipandang sejajar jika ia terus memeluk kaki orang lain? Terseret dunia yang diciptakan oleh kepalanya sendiri.

Akhirnya sampailah dia pada satu pilihan. Belajar keras hingga titik darah penghabisan. Belajar superkeras hingga rasanya mau mati. Melawan ketidak mampuan, melawan keterbatasan dengan semangat juang. Mengubah dunia dengan mengubah isi kepalanya. Dari sampah menjadi batu mirah.

Kini, ia belajar memahami . Dunia yang biasanya ia rasakan begitu sempit, melapang seiring kerasnya ia belajar. Semakin ia lunak pada dunia, semakin keras dunia menghajarnya. Semakin keras ia berjuang, maka duna melunak dengan sendirinya. 

*terinspirasi dari drama seri  Master Of Study