Tuesday, 16 July 2013

[Re Post*] Berkah: Ketika Cukup Lebih Bermanfaat dari Sekedar Banyak

Oleh: Khoni Indriani
Mahasiswi Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Ponorogo

“Tidaklah kelapangan rezeki dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi, kelapangan rezeki dan umur diukur dengan keberkahannya.” (Ibnu Qayyim)
Berapa penghasilan kita per bulan? Berapa omzet usaha kita? Banyak, sedikit, atau cukup?
Kaya sama dengan banyak. Sebagian orang menafsirkan demikian, bahwa orang kaya adalah yang banyak duitnya. Rumah mewah dan mobil yang bederet. Kekayaan ditampakkan pula dengan segala macam yang melekat di badan seperti pakaian, perhiasan dan aksesoris pendukung. Dimana kita nongkrong juga menjadi penanda level kekayaan. Namun, benarkah segala macam kelimpahan yang  kita miliki berbatas materi fisik? Adakah kekayaan yang jauh lebih dahsyat dari itu semua?
Dalam sudut pandang penulis, kaya bukan sekedar memiliki banyak harta.  Kekayaan yang melimpah akan terasa sedikit jika kebutuhan kita juga banyak. Beban hutang juga banyak. Lain lagi ketika penghasilan minim, namun kebutuhan hanya sedikit dan masih bisa sedekah atau menabung. Pendapatan yang minim tadi pun akan terasa cukup. Ini berarti, banyak belum tentu cukup. Sedikit belum tentu kurang. Relatif. Bisa jadi, orang yang berpenghasilan minim tersebut malah merasa lebih kaya dari pada orang kaya tapi  pengeluarannya juga gila-gilaan. Seyogyanya, yang dicari di dunia ini bukan sekedar harta yang banyak, juga bukan harta yang sedikit, melainkan harta yang cukup dan bermanfaat. Itulah yang disebut berkah.
Sebagian besar ulama sepakat mengartikan ‘berkah’ itu adalah ‘ziyadatul khair’ yakni bertambahnya kebaikan. Ya, itulah harta yang berkah. Meski sedikit harta yang ada, selalu berikan manfaat dan bertambah-tambah untuk tebarkan kebaikan. Apalagi jika banyak. Maka harta yang berkah, akan menjadikan pemiliknya menjadi baik dan akan terus menambahkan kebaikan pada dirinya dan orang lain. Begitu pun sebaliknya. Jika harta itu tidak berkah, akan memberikan keburukan pada yang memilikinya dan juga keburukan bagi orang-orang di sekitarnya.
Konsep berkah yang perlu kita tanamkan dalam hati adalah segala sesuatu yang mendatangkan ketenangan, kebahagiaan, dan kesyukuran. Apabila kita bersyukur, maka akan betambah pula rezeki yang kita dapatkan kemudian hari. Jika kita memiliki harta yang banyak namun kita malah gelisah (seperti terbelit hutang yang besar, dirundung permasalahan keluarga serta musibah penyakit), maka kita perlu mengevaluasi seberapa berkah harta yang kita miliki? Apakah banyaknya harta sudah membuat kita merasa cukup dan bersyukur? Jangan-jangan kita ini ibarat meminum air laut. Makin banyak yang diminum kita semakin haus. Kering akan makna. Tujuan minum untuk menghilankan dahaga tidak tercapai. Tujuan kita untuk bahagia setelah kita kaya tidak teraih.
Kunci mendapatkan keberkahan adalah dengan bersyukur. Apapun yang kita dapatkan, banyak atau sedikit, jika kita bersyukur kala menerimanya semuanya akan menjadi berkah dalam kehidupan kita. Merasa cukup dengan rezeki yang diterima akan membuat kita merasa lebih bahagia. Bahkan, jika kita ingin merasa lebih dari cukup, kita bisa berbagi kepada sesama tanpa menunggu kita kaya. Karena, berbagi membuat diri kita merasa berdaya dan lebih kaya. Bebagi, menyuburkan keberkahan dalam hidup kita.

Jadi, sudahkah anda bersyukur dan berbagi hari ini?

*tulisan ini dimuat di PONOROGO POS nO.587. TH XII, 06-12-JUNI-2012