Friday, 27 July 2012

Niat Produktif Berbuah Berkah

Jika kita sungguh-sungguh berniat, maka Allah akan mudah menggerakkan seluruh makhluk dan alam semesta untuk mendukung niat kita.

image by http://komikmuslimah.blogspot.com


Berawal dari sebuah niatan untuk produktif selama bulan Ramadhan, ketika saya ngobrol di twitter dengan seorang kawan. Ternyata, niat itu dikabulkan oleh Allah dengan memberikan banyak orderan flanel di awal-awal ramadhan ini. Subhanallah! Gabungan dari niat yang kuat, silaturahi, sedekah dan doa menghasilkan prodiktivitas luar biasa.

Mulai dari menyiapkan barang untuk bazaar, mengecek barang di outlet sampai pesanan perorangan. Sungguh, saya sangat bersyukur dan merasa termotivasi sekali untuk menjadikan moment ini sebagai titik tolak saya agar lebih meyakini akan dahsyatnya kekuatan niat. Jika sudah berniat, Allah yang akan mengurus kita. Tentunya dengan diiringi upaya yang optimal. Ikhtiar juga harus pol.

Semoga teman-teman juga makin produktif di bulan yang penuh barokah ini. Amin...

Salam Produktif,



Khoni Indriani.

Wednesday, 18 July 2012

Agar Muamalah Berbuah Barokah


image by google

Teringat perkataan seorang kawan kala berbincang di suatu malam....

"Mbak harus yakin... Ketika bermuamalah dengan orang-orang yang berada di jalan-Nya, yang ikhlas dalam berjuang membela agama Allah, maka insyaAllah apa yang kita dapat entah sedikit ataupun banyak akan barokah..."

Saya terdiam... Mencoba mencerna kata-kata yang mengalir dari lisannya.

"Nih, saya kasih contoh ya, ada seorang ibu-ibu yang setiap hari masakin buat kita.." Kebetulan kawan saya ini adalah seorang ustad yang mengebdi di sebuah pondok modern di kota saya...

"...tau nggak, kenapa beliau setia masakin buat kita selama puluhan tahun? Padahal, beliau sudah punya usaha yang cukup mapan. Dari segi finansial mungkin udah nggak kekuranganlah. Namun beliau masih mau mengorbankan waktunya untuk memasak, 3 kali sehari untuk kami. Ketika kami tanya, beliau bilang, 'Saya nyari barokahnya, Ustad... Ustad semua kan membutuhkan makan agar punya energi yang cukup untuk mengajar, dan aktivitas lainnya. InsyaAllah, nanti saya juga kecipratan barokahnya...'. Begitu Mbak..." tuturnya.

"Subhanallah..." saya hanya dapat mengungkapkan demikian ketika mendengar kisah tersebut.

"Jadi, Mbak jangan pernah takut untuk bermuamalah dengan kami. InsyaAlah, apapun yang kami kerjakan, untuk kemakmuran pondok..."

"Iya, Ustad..."

"Subhanallahnya lagi, kemarin waktu saya mau mengantarkan bahan makanan untuk beliau masak, eeeh, taunya rumahnya sudah pindah, Mbak! Ya Allah, bagus rumahnya yang baru. Lebih gede... Hehe.."

Saya tertawa. Pasti itu tuh yang dimaksud barokahnya. Salah stunya mungkin. Ikhlasnya beliau diganjar oleh Allah berkali-kali lipat, sesuai dengan apa yang Dia janjikan.

Yang dapat saya simpulkan dari obrolan tadi ada 4 poin:
  1. Ketika berniat bermuamalah dengan orang lain, niatkanlah untuk ibadah. Semata-mata untuk meraih ridho Allah.
  2. Jika kita bermuamalah, usahakan dengan orang-orang yang amanah, ikhlas dan jujur. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk berkumpul/bergaul dengan orang-orang shalih. Selain menjaga kita, hal tersebut dimaksudkan agar kita dapat  menghindari marabahaya dan menghindari hal-hal yang haram/syubhat. Bukankah menghindari bahaya lebih baik daripada mengatasi ketika sudah tertimpa petaka?
  3. Keberkahan akan datang, seiring dengan lurusnya niat dan cara kita bermuamalah (baik/buruk).
  4. Jangan pernah takut untuk membela agama Allah. Bahkan jika kita merasa takcukup mampu, carilah cara yang bernar-benar kita kuasai dan kita lakukan. Ini lebih baik daripada beralasan untuk menghindar. Yakinlah, ketika kita menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita. Tindakan boleh sederhana, namun niat dan keyakinan harus 100%.

Demikianlah yang dapat saya bagikan. Semoga bermanfaat dan berkah.

Salam,


Khoni Indriani.

Sakit Gigi, Sabar dan Syukur

Bismillahirrahmanirrahim....

Alhamdulillah....

Ya Nabi, Salaam 'alaika....

google images
Bangun pagi ini seger banget di badan, Alhamdulillah rehat tadi malam begitu tenang. Sungguh, nikmat yang amat mahal harganya! Beberapa waktu yang lalu, saya ada keluhan sakit. Gigi. MasyaAllah, untuk istirahat yang seperti ini saja tak bisa. Namun begitulah manusia, baru biasa merasakan betapa nikmat Allah yang satu ini mudah terlupa. Kesehatan. Mahal dan tak bisa dipaksa. Ketika sakit saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluh. Dan Alhamdulillah, masih mengeluh juga... Hehehe :)

Mencoba untuk bersaabar, bersabar, dan bersabar. Bersyukur juga, akhinya bisa lebih menghargai apa itu kesehatan. Sekecil apapun nikmat sehat itu, jika kita abai, maka tak sulit bagi Allah untuk mengambilnya kembali. Alhamdulillah, berkat karunianya, doa dari teman-teman dan sedikit usaha untuk menyembuhkan (ke dokter dan minum obat), akhirnya kini kesembuhan datang. Ternyata, ada yang membuat saya lebih  cepat sembuh, yakni sedekah dan keyakinan 100% akan pertolongan Allah.

Saya yakin betul, Allah akan menolong saya. Semenjak saya tekankan itu, kesmbuhanpun datang. Saat saya mengluh, justru nggak sembuh-sembuh tu gigi. Subhanallah. Dia yang nyiptain sakit, pasti Dia pula yang dapat menghilangkan sakitnya. Ternyata betul itu. Percaya deh!

Alhamdulillah ya Allah, kini aku bisa beraktifitas kembali tanpa merasakan sakit. Terlebih lagi menjelang bulan Ramadhan, Alhamdulillah, saya bisa menjalankan ibadah dengan lancar dan fokus. Setiap kataku, untuk hanya ingin bersyukur pada-Mu ya Rabbi...

Semoga hari ini berkah, bermanfaat.


Salam,



Khoni Indriani

Sunday, 15 July 2012

Trio Penghambat Rezeki: 3D (Dengki-Dongkol-Dendam)

Bismillah.
Alhamdulillahirabbil'alaimin...
Allahumma shalli 'ala Muhammad.

Pagi ini saya mengunduh video-video kajian Mas Ippho Santosa (terimakasih kepada beliau). Sudah lama ingin mendengar kajiannya secara langsung, tapi Allah belum memberikan rezeki untuk bersilaturrahim dengan beliau. Padahal banyak seminar beliau yang digelar di kota-kota yang lumayan dekat dengan kota saya semisal Solo, Jogjakarta dan Surabaya. Semoga tak lama lagi saya bisa mengikuti sharing ilmu beliau. Amin...

google images

Banyak ilmu yang saya dapatkan baik setelah membaca buku beliau (7Keajaiban Rezeki the series) maupun setelah menonton videonya di Youtube. Kebanyakan adalah tayangan beliau di acara Pintu Rezeki di Trans7. Saya hanya 2-3 kali mengikuti, namun sepertinya sekarang sudah tidak tayang lagi. Makanya saya berusaha nyari videonya. Hampir sama seperti di buku, penyampaian beliau  sangat bersemangat dan enak diterima.

Salah satu yang mengena di hati saya adalah kajian tentang penghambat rezeki. 3D, begitu beliau menyebutnya. 3D itu adalah Dengki-Dongkol-Dendam. Nah yang terakhir itu, serasa "mak jleb2" nih, bagi saya. Kenapa Khon? Masalah buat looo?? Saya akui, iya. Maybe, inilah salah satu sebab masalah keuangan saya nggak selesai-selesai. Harus ada perubahan, begitu saran Mas Iphho. Lupain aja dendam, biarlah ada orang yang ngelakuin sesuatu yang gak bener sama kita (dzalim). Tapi jangan dendam. Sekali lagi, jangan dendam. Bismillahirrahmanirrahim.... Saya harus mulai melupakan seluruh dendam yang mungkin masih kokoh mengaar di hati saya. Saya yakin, jika saya mampu melakukannya, Allah akan menolong saya dalam menghadapi segala kesulitan. Menganugrahkan rezeki yang baik dan cukup. Menyelesaikan semuanya dengan mudah sekali. InsyaAllah, mudah bagi Allah untuk mengubahnya!

Alhamdulillah, buku dan motivasi Mas Ippho sangat berguna bagi saya. Semoga Anda juga bisa merasakannya. Saran saya, baca buku 7 Keajaiban Rezeki, Percepatan Rezeki dan Hanya 2 menit. Baca, dan terapkan. InsyaAllah, banyak solusi dari dalam ketiga buku tersebut. 


google images
Atau ikutilah seminarnya (jika longgar, doakan saya juga segera bisa ikut). Dibawah ini hanya salah satu contoh poster seminar beliau.

google images


Sekian catatan saya pagi ini, semoga bermanfaat.
Semoga berkah, berlimpah. :-)


Salam,


Khoni Indriani


Saturday, 14 July 2012

Dilarang Membentak Bapak Saya!

Bismillah. 
Alhamdulillahirabbil'alamin, Shallu 'ala Habibii.

Seorang anak, akan bereaksi ketika orangtuanya disakiti, disinggung atau dizhalimi tanpa alasan yang jelas. Pun dengan saya.

Hari ini ada kunjungan orangtua/wali ke universitas tempat saya menimba ilmu. Keperluan untuk silaturahim dengan rektorat, dalam rangka penyerahan beasiswa (alhamdulilah). Ketika saya sampai di kampus, saya coba memarkir sepeda motor yang mana saya dibonceng saudara kembar saya dan Ayah saya neik motor yang lain. Saat akan memarkir sepeda motor, saya dikejutkan oleh teriakan seorang security (saya kurang tahu, apakah dia satpam baru atau bagaimana) yang melarang kami memarkir di situ. Tapi yang sangat saya sesalkan dia berteriak setengah membentak kepada Ayah saya. Saya dan kembaran saya kaget, dong! Apa-apaan nih satpam?? nggak sopan banget sama orang tua... Astaghfirullah.

Langsung saya hentikan "omelan"-nya.

"Sudah, Pak. Iya, kami dengar! Tidak usah berteriak-teriak begitu." ujar saudara saya menyuruhnya diam.

"Lha nanti kalo nggak keras nggak dengar... " (sependengaran saya begitu, karena dianya bicara agak lirih).

"Tapi tidak perlu teriak begitu lah! Galak banget sih jadi security!" Saya (yang cenderung tempramental menghadapi situasi semacam itu) mencoba membela. Tak pantas lah dia membntak saya, apalagi Ayah saya. Padahal saat itu saya yakin dia tak tahu saya adalah salah satu  mahasiswa universitas. Dikiranya saya adalah calon mahasiswa baru kali ya.

Saat itu cukup banyak orang-orang di sekitar lokasi melihat kejadian itu. Memalukan.

Lalu saudara saya dan Ayah memindahkan ke parkiran belakang.

Benar saja, si Satpam tadi menyangka saya adalah mahasiswa baru yang akan melakukan pendaftaran. Sangat disayangkan sekali, apapun posisi saya di kampus, bahkan calon mahasiswa baru sekalipun, dia tidak berhak membentak orang seenaknya. Apalagi kepada orang tua saya. Inilah yang saya sebut dengan sopan santun yang tak lagi diindahkan. Selayaknya seorang security kampus, melayani dengan tulus. Siapapun yang datang. Dosen, mahasiswa, rektor, mahasiswa baru, terlebih lagi tamu! First impressed itulah yang akan mnentukan pencitraan kampus.

Sekedar koreksi, pelayanan yang optimal pasti akan diupayakan oleh universitas yang ingin dianggap kredibel. Bahkan "hanya" untuk urusan menyambut tamu. Jangan sampai satu kekecewaan menimbulkan pencitraan yang buruk pada keseluruhan universitas.

Hormatilah orangtuamu. Muliakanlah tamumu.

Salam,

Khoni Indriani.

doc. pribadi

P.S. : tulisan ini adalah pengalaman pribadi saya, bukan untuk menjelekkan salah satu pihak, namun untuk bahan koreksi dan perenungan bagi pembaca.

Jalani Hari-Hari, Enjoy Aja!

Bismillah.
 Ba'da tahmid dan shalawat.

Mungkin, menurut sebagian orang, tidak banyak aktivitas menarik yang dapat dilakukan di kota kecil seperti Ponorogo. Namun setidaknya, di sini saya sudah hampir 22 tahun tinggal di sini, menikmati segala dinamika hidup di kota Reyog ini. Suasana kota yang cukup tenang, membuat saya dapat berkreasi, dan menghasilkan karya-karya. Aktivitas akademik pun saya kerjakan di sebuah universitas setempat, sepuluh menit dari rumah. So, saya sangat happy di sini. Dekat dengan orang tua dan tenang.....

doc. pribadi
Saya menghabiskan waktu dengan membaca, menghasilkan karya flanel dan sedikit banyak belajar dari interaksi sosial sehari-hari. Adakalanya bosan datang, namun itu adalah hal yang wajar. Ketika bosan, saya beralih kepada hal yang lain, kemudian setelah semuanya membaik, saya kembali ke aktifitas semula. Memang diperlukan suatu fokus agar apa yang pernah kita mulai selesai dengan benar dan tuntas. Sekecil apapun hal itu. Maka tidak benar jika ada yang mengatakan hidup di kota yang jauh dari hiruk pikuk (dibandingkan di beberapa ibukota) membuat orang-orangnya santai. Bahkan sebagian harus bekerja keras. Bayangkan, saya seringkali mengallami perputaran waktu yang cukup cepat. Bangun pagi, nanti sebentar kemudian sudah dzuhur, lalu isya' menjelang tidur. Lalu bangun lagi. Hal ini membuat saya berfikir, 24 jam yang Allah berikan ternyata selalu tak cukup jika digunakan hanya murni untuk urusan keduniaan. Suatu waktu, pernah juga hidup berjalan dengan lambat. Ritme yang dilalui menjadi trasa amat  panjang, dan ini biasanya terjadi ktika saya banyak melakukan perenungan.

Begitulah, saya berusaha menjadikan waktu yang saya miliki menjadi bermanfaat. Baik untuk belajar, bekerja maupun ibadah. Dimanapun lokasi kita, tempat tinggal kita, just enjoy it and you can feel enjoy everyday. Gak usah nunggu kita kaya raya, untuk membuat kita bahagia. Kini, berbahagialah dengan apapun yang kita jalani saat ini. insyaAllah, suatu saat kita kan memetik mafaat yang lebih besar, buah dari kesyukuran kita.

Selamat menjalani hari dengan semangat. Allah with us.

Salam,


Khoni Indriani.