Wednesday, 12 December 2012

Karena Berdagang Itu Juga Ibadah

Pagi teman-teman..

Pagi ini kita akan membahas tentang kaitan antara berdagang dan beribadah. Ketika kita memutuskan untuk berdagang baik sebagai penjual atau pemasar, sebenarnya kita sedang melakukan suatu aktivitas dalam mata rantai distribusi rezeki. Bayangkan, ketika kita berdagang apapun, tentunya banyak pihak yang terlibat. Seperti produsen, konsumen, suplier, jasa pengiriman, perbankan, operator seluler, dan tentunya kita sendiri sebagai penggeraknya. Intinya, ketika kita bergerak, perekonomian akan bergerak secara massive. ketika kita diam atau tidak melakukan kegiatan bisnis, maka perekonomian juga akan berhenti. Sesuatu yang mikro, akan berdampak pada yang makro. Oleh karena itu, entrepreneur, sekecil apapun ia telah menggerakkan perekonomian.

Dengan adanya kita yang bergerak, maka perekonomian umat akan membaik. Seiring dengan niat kita untuk membantu sesama menyediakan apa yang mereka butuhkan, maka kegiatan berdagang tentu saja bernilai ibadah. Karena manfaat yang kita berikan akan dihitung pahala ibadahnya.

Jelas, banyak yang akan berubah saat kita mau bergerak. Rezeki akan terdistribusikan dengan baik.

So, libatkan diri dalam aktivitas bisnis. Yang bergerak dinamis akan lebih hidup. Karena diam identik dengan mati!


Salam Aktif,

Wednesday, 24 October 2012

Bicara Tentang Calon

Bismillah, ba'da tahmid wa shalawat.

Mau jadi apa kita?

Ayolah, ngaku, sebenaranya mau jadi apa kita?

Bagi yang sedang menapaki jenjang pendidikan menjadi seorang tenaga pendidik, Calon Guru adalah sebutan yang tepat. Yang suka berentrepreneur, istilah Calon Pengusaha Sukses akrab di telinga. Dan masih banyak calon-calon yang lain, misal calon istri, calon suami, calon ibu, calon ayah, calon haji, calon mati... (lho?) Rata2 akan ditambah kata "Sukses" dibelakangnya. Calon direktur sukses, calon penulis sukses, calon dokter sukses, calon pedagang sukses, calon apalah sukses. Ngomong-ngomong soal calon, dimana kita berpijak sekarang, apa yang kita lakukan, dan siapa orang-orang di sekitar kita (baca: relasi) semuanya tadi akan berpengaruh pada kehidupan kita 3 sampai 10 tahun mendatang. Suatu titik yang kita lalui, pasti akan menjadi rekam jejak perjalanan hidup dan karir seseorang. Terangkai menjadi episode-episode yang kadang.... yah, tak terduga jalan ceritanya.

Lalu di manakah kita sekarang? Itu yang menjadi perkara.

Serius deh, demi apapun yang kita percayai, beneran itu berpengaruh pada kehidupan kita. Apakah itu sesuatu yang baik, atau sesuatu yang buruk, yang terpenting adalah kita dapat mengambil hikmahnya dan menjadikannya sebagai bekal kita saat kita sudah "jadi" nanti. Bukan "calon" lagi, karena tidak selamanya kita menjadi calon. Suatu saat kita akan menjadi apa yang kita cita-citakan. Buat impian menjadi nyata.

Setiap orang memiliki langkah yang berbeda untuk mewujudkan impian. Ada yang gigih, ada yang cenderung santai. Ah, masih ada waktu. Namun, semua ada prosesnya Tinggal kita pandai-pandai menjalani proses, sederhanakan yang rumit. Urai solusi dalam setiap masalah. Saya sudah berusaha keras, namun mengapa masih belum berhasil? Bangun atmosfer, bergaul dengan orang-orang yang berhasil. Bahasa kanan-nya, jangan pilih-pilih teman. Calon orang sukses akan selalu membangun sekelilingnya agar mendukung apa yang ia cita-citakan. Bukan yang melemahkannya.

So, apapun pilihan kita sekarang, pastikan itu dapat membuat kita menjadi ideal, sesuai impian kita. Saya yakin, kita selalu berharap untuk meraih keberhasilan di kemudian hari. Ingatlah, masa depan tidak ditentukan saat kita sudah sampai di sana, namun dimulai dari sekarang, saat ini juga.


Sampai Jumpa,
See u at the top.


Khoni Indriani

Sunday, 30 September 2012

Harga Sebuah Kerukunan


Kerukunan.

Kalo denger kata yang satu ini, pasti keinget sama pelajaran PKn. Di sana seringkali dibahas tentang kerukunan, dari kerukunan dalam keluarga smpai kerukunan antarumat beragama. Yah, tentunya kita semua mahfum, untuk apa sih kita di ajarin tentang kerukunan?

Kadangkala, untuk mencapai tingkatan rukun yang kita kehendaki, diperlukan upaya-upaya yang cenderung ekstrim. Karena cara yang lembut, sudah tak bisa ditempuh karena terlalu lama efeknya dan menimbulkan berbagai macam grundelan (apa ya bahasa lainnya? mmm, semacam penyakit hati yang bikin mangkel di dada). Sentakan kecil mungkin salah stu cara alamiah agar tercipta kerukunan yang lebih baik dari sebelumnya. Kadang, saya malah ingin disentak, agar dapat memerbaiki kehidupan saya, daripada disentak langsung oleh yang Maha Kuasa.

Kerukunan itu mahal harganya.

Oleh karena itu, fikirlah sekali lagi. Jikalau anda ditegur untuk perubahan yang lebih baik bagi anda dan orang lain, maka bersyukurlah masih ada yang menegur. Jangan diperbudak egoisme, ah, aku gak seneng kayak gini. Ah, apa hak lo negor2 gue? Hey,, bersyukurlah! Jika tak ada yang menegurmu, hidupmu kan begitu2 aja. gak ada perubahan. So, bersyukurlah, kita masih dikasih kesempatan untuk berubah lebih maju. Hilangkan egoisme, sifat ke-AKU-an yang akan mematikan perubahanmu sendiri.

Maka dari itu kawan, jika ada yang menegur, percayalah, pasti kekeliruan itu ada dalam diri kita sendiri. jika sudah tidak mau ditegur, hiduplah sendirian. Jangan bergaul dengan manusia. Dirimu tidak hebat, jika menyombongkan egoisme diri yang kau junjung. Padahal itu tak berguna sama sekali bagi perubahan diri. Dunia tak butuh orang yang malas untuk berubah. Belajarlah mendengar kritikan.

Salam Rukun,


Khoni Indriani.

Friday, 28 September 2012

Rasa Puas


Dalam teori konsumsi kita mengenal adanya tingkat kepuasan, dimana semakin banyak barang x (misal bakso) yang dikonsumsi, maka akan semakin tinggi tingkat kepuasn. Setelah konsumsi bakso mencapai tingkat tertentu, kepuasan akan berada di titik maksimum, dimana kepuasan akan semakin menurun (disebut Law Deminishing of Marginal Utility). Jadi, jika makan baksonya diteruskan mungkin 2 sampai 3 mangkok lagi, bukannya makin puas, tapi makin eneg bahkan (maaf) muntah.

Tingkat kepuasan dalam konsep islam tidak hanya melibatkan jumlah barang yang dikonsumsi, akan tetapi juga memperhatikan variabel syukur. Semakin tinggi rasa syukur yang dihadirkan ketika mengonsumsi bakso, maka grafik kepuasan akan semakin naik. Ini berarti rasa syukur sebagai leverage atau daya ungkit pada aktiitas konsumsi kita. Selain rasa syukur, berbagi juga berfungsi sebagai daya ungkit. Apabila kita membagikan bakso kepada seseorang misalnya adik kita, tingkat kepuasaan akan semakin meningkat. Disini rasa ikhlas otomatis  juga turut berperan. Kit lihat bahwa dengan menambahkan variabel-variabel seperti syukur, berbagi (sedekah) dan ikhlas, ternyata kegiatan konsumsi kita lebih bernilai. Kepuasn akan lebih cepat atau mudah dicapai, meskipun jumlah barang yang kita konsumsi berkurang (sedikit).

Disini saya menggarisbawahi, ternyata ketika ajaran islam yang mulia kita masukkan dalam tiap sendi kehidupan kita, termasuk dalam kegiatan konsumsi, ada kebahagiaan-kebahagiaan (baca:kepuasan) yang tidak hanya diukur dengan kuantitas material belaka. Aplikasikan rasa syukur, ikhlas, dan semangat berbagi agar hidup lebih berkualitas. Meskipun, materi yang kita miliki terbatas adanya.

Disini, bagi ekonom muslim maupun calon ekonom muslim seperti saya, perlu ada suatu pemikiran yang serius bagaimana agar rumusan tentang teori konsumsi berbasis islam dapat dikembangkan, tentunya dengan melibatkan variabel-variabel seperti yang saya contohkan diatas. Semoga Allah membukakan pintu pemahaman kepada kita agar senantiasa berfikir dan menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat begi sesama.


Semoga bermanfaat.
Salam,


Khoni Indriani

P.S.: terinspirasi setelah membaca sebuah artikel yang membahas tentang teori konsumsi dan hubungannya dengan rasa syukur pada Koran Republika tanggal 27 September 2012.

Monday, 24 September 2012

Catatan dari Kenangan Masa Kanak-kanak

image by google
Korea, gangnam style, gingseng...

Jadi teringat sebuah cerpen/dongeng yang saya baca semasa kanak2 di majalah Mentari. Ada seorang anak yang sedang belajar kejujuran. Dia dipesani oleh kakeknya untuk tidak memakan gingseng yang sedang direbus di atas bukit, dia hanya disuruh menjaganya. konon, gingsengnya berkasiat bisa awet muda sampe ratusan tahun. Tapi si anak yang semakin dilarang semakin pengen tau, maka diicipnya sedikit tuh ginseng. Eeeh, malah ketagihan dimakan sedikit demi sedikit sampai habis. Ketika kakeknya kembali, dia terkejut dan menyesal si anak telah memakan gingseng yang ternyata adalah jelmaan dari sahabatnya si anak tadi. Akhirnya anak itu sangat menyesal, dan selama ratusan tahun hidup, dia tidak bahagia.

Hahaha, ceritanya agak konyol mungkkin ya. Tapi saya ingat terus sampai sekarang. Karena dulu bacanya sampai ratusan kali, sampai hapal. (hobi baca yang terbatas oleh buku yang sedikit).

Pesan moralnya bagus:
1. Harus amanah
2. Jangan suka penasaran, karena penasaran dengan sesuatu bakal menyeret kita mencari tahu dan setelah tahu, who knows, kita bakalan ngapain dengan hasil penyelidikan kita. Kurang lebih, jangan mencari2 tahu sesuatu,  apalagi kesalahan orang lain... Yang ada, kita akan menyesal nantinya karena hidup takkan pernah tenang dikejar rasa bersalah.
3. Jangan mencuri (atau korupsi). Sekali korupsi, meskipun kecil, akan bikin ketagihan dan berlanjut kepada korupsi yang lebih besar.

Semoga catatan kecil ini bisa membawa hikmah bagi semuanya....

Wednesday, 12 September 2012

Seberkas Cahaya Ilmu yang Aku Syukuri....

doc pribadi
Bismillah...
"Anak bermata cokelat itu, sekali ngomong menenangkan hati. Mungkin karena ilmunya berkah, cahaya ilmunya terpancar. Omongan yang bisa 'digugu', dianut. Perkataanya itu tanpa tendensi, tidak setiap orang bisa setulus dia. Bisa dibuktikan saat ketemu, dia msih sama ketika di SMS atau dimanapun. Bicaranya tidak menyakiti hati." Kata Ochan, mengenang saat pertama kali kami berkenalan dengan anak bermata cokelat itu, bersama tiga orang lainnya yang senantiasa menjaga silaturahim. — with Khalila Indriana at Ekonomi Islam .
Hanya ingin berbagi sebuah status yang bru saya buat, namun ingin saya abadikan di blog ini. Mengenang persahbtn bersama empat orang yang baik-baik, dan saya sangat bersyukur pernah mengenal mereka. Disatukan dengan tali ukhuwah bernama Ekonomi Islm, kami merajut ukuwah dalam dakwah bernuansa ilmiah.
Ingin sekali setulus anak bermata cokelat ini. Awesome. Semoga kami senantiasa istiqomah mengamalkan ilmu yang kami dapatkan dan kami tekuni. Semoga Allah tetap menautkan hati kami dalam rabithah yang kuat.... Meski sudah jarang bertemu. Amiin..
Salam Ekonom Rabbani

Khoni Indriani.

Friday, 7 September 2012

Merangkai Hikmah yang Terserak Hari Ini

image by google

Bismillah.
Ba'da tahmid wa shalawat.

Ya Allah, Yang Maha Tahu. Sesungguhnya mengamalkan ilmu itu butuh perjuangan. Butuh waktu dan kesempatan yang engkau berikan. Banyak bertebaran ilmu, namun terkadang kita tak memahami, apalagi mengamalkan. Itu karena, masing2 dari kita menunggu anugerah dari Allah untuk diberi "soal" yang harus kita selesaikan dengan mengamalkan ilmu yang kita miliki. Kesempatan emas itu seringkali kita sia-siakan, karena belum mampu dan mau untuk menggunakan senjata ilmu tersebut. Pada akhirnya, kita disuruh mengulang, remidi.

Hari ini, saya diberi kesempatan untuk mengamalkan beberapa ilmu..

Pertama, tetaplah tersenyum, separah apapun keadaannya.. Walaupun kita malu, kesal, gemas, dan ingin marah. Namun jika senyum kita dapat menenangkan kita dan orang-orang di sekitar, maka lakukanlah. Itu lebih baik untuk dikerjakan.

Kedua, niat baik yang dilaksanakan akan dibalas dengan 10 kebaikan. Saya meniatkan suatu tidakan agar dicatat sebagai kebaikan di sisi Allah. Dan Allah adalah Dzat Yang Anti Ingkar janji. Janjinya selalu benar. Dan sepanjang hari, saya merasa tenang.... Berkah dari niat baik yang dilaksanakan. Allah, Aku percaya. Janji-Mu selalu benar...

Ketiga, menahan amarah itu adalah hal yang paling sulit saya lakukan. Saya akui, saya ini pemarah. Pertanyaan yang sering saya gumamkan adalah, bagaimana menggunakan ilmu "Laa Taghdob" yang diulang oleh Rasulullah sampai 3x itu... Bagaimana Ya Allah? Saya selalu kalah, saya lemah karena tak bisa menahan amarah. Namun malam ini, saya berhasil mengendalikan marah. Marah yang sangat, emosi yang membara. Saya redam dengan satu tarikan nafas panjang........ Allah..... Beginilah rasanya memenangkan perang dengan diri sendiri... Dahsyat. Belum pernah aku rasakan hati ini begitu ringan untuk memaafkan. Baru kali ini saya benar-benar secara sadar memenangkan pertarungan dengan hawa nafsu bernama marah. Saya pun tergugu... T_T

Keempat, rizqum minallah min haitsu laa yahtahsib alias rizki Allah dari arah yang tak disangka-sangka itu benar-benar ada. Entah berkah dari amal baik kita yang mana..
Keep silaturahim, keep shadaqoh.

Jadikan shalat dan sabar sebagai penolongmu...
Salam,


Khoni Indriani.

Wednesday, 5 September 2012

Ambil yang Baik-baik, yang Buruk, Lupakan. (sejauh mana Anda bisa menerapkannya?)


image by google
Bismillah, ba'da tahmid dan sholawat.

Perjalanan ini dimulai dari niatan menyambung silaturahim. Kami sekeluarga mengunjungi salah seorang kerabat jauh, lalu mampir ke rumah seorang rekan ayah saya. Seorang bapak pensiunan guru, yang kini menjabat sebagai anggota MPR (Momong Putu lan Resik2 (Mengasuh cucu dan bersih2))

Rumahnya sederhana, di dekat sebuah pasar di beberapa kilometer arah barat jantung kota Ponorogo.
Dikatakan sederhana, karena lantainya biasa saja. Ubin yang jamak dipakai orang desa. Kata beliau, kalo lantai yang basgus, orang sungkan mendatangi rumah kita. Dikit-dikit di pel. Dindingnya ada sebagian yang 'gedhek' (anyaman bambu). Kata beliau selanjutnya, yang penting sejuk dan nyaman.

Beberapa waktu di rumah itu, saya mendapat pelajaran hidup yang akan saya rangkum buat nasihat saya sendiri khususnya dan semoga bermanfaat bagi pembaca. Karena beliau sudah lebih dulu mengecap asam garam kehidupan, tak ada salahnya ditulis. Sedikit-sedikit saya bisa menyerapnya. Biar lebih nempel.

Pertama, hidup itu harus dipenuhi dengan syukur. Tanpa syukur, sebanyak apapun yang kita miliki tidak akan menjadi rezeki. Ingat, yang kita miliki itu bukan rezeki. Rezeki adalah apa yang kita nikmati, sebatas penuhnya perut dan apa yang melekat di badan. Selebihnya? Wallahua'lam. Kapapun Allah mengambilnya, kita takkan kuasa melarangnya. Syukur, Chon. Catat.

Kedua, berbagi. Apa saja yang bisa kita bagi? Apakah menunggu kita cukup baru berbagi? Persimpel hidupmu kawan... Berbagilah dengan apa yang kita miliki saat ini, bukan menginginkan untuk berderma dengan apa yang kita belum punyai. Sesederhana itu cara berbagi dengantindakan nyata. Lakukanlah. Bukan bayangkanlah.

Ketiga, baca judul postingan ini.

Melihat kesederhanaan yang beliau, yang terpatri dalam otak saya adalah beliau berhasil memelajari prinsip hidup yang baik, yang dijalankan dengan baik pula. Ada satu kalimat indah, yang beliau ucapkan...

"Wong urip kuwi, ora usah ngelokne marang liyo... Sing ngatur iku Gusti Alloh, adewe ora nduwe hak ngelokke,"
(Orang hidup itu, nggak perlu mencemooh orang lain... Yang mengatur itu Allah, kita nggak berhak mencemooh.)

Terimakasih Bapak, telah mengajari saya sesuatu.
Meski ada beberapa hal yang tak saya sepakati dari Anda, saya merasa mendapatkan mutiara di pelosok sebuah desa. Saya yakin, ilmu itu bertebaran. Dengar apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan.

Semoga hikmahnya menjadi amal jariyah.

Wallahua'lam bish Showwab.

Ponorogo, 04/09/2012 23:50



Khoni Indriani.

Thursday, 30 August 2012

Sejauh Mata Memandang

doc. pribadi
sejauh mata memandang
lentera terang
membagikan pendar di kejauhan
hati ini perlu penerangan
atau keterangan
yang terus terang
mengakhirkan yang pernah ada
di: awal

hanya saja,
hati tak pandai menerangkan
hanya meniadakan
yang sudah pernah ada
pasti menjadi usang
dan usang itu
kini terlihat
:sejauh mata memandang


di temaram siang, 30-08-2012
Be Honest, Be Bright







Khoni Indriani

Sunday, 12 August 2012

Makna Ramadhan Tahun Ini

image by http://irwanrizadi.wordpress.com
Tak terasa sudah masuk minggu terakhir bulan Ramadhan. Aktivitas yang padat, membuat saya merasa bulan puasa kali ini sangat singkat. Berniat untu produktif di bulan yang penuh berkah ini, saya dikasih sama Allah kerjaan yang bikin saya terus bergerak, bergerak dan bergerak. Subhanallah! Masya Allah!

Sangat indah, berbeda dan luar biasa yang saya rasakan. Berbeda dari tahun lalu, saya sangat beruntung dikasih kesempatan untuk melakukan peningkatan. Saya berharap tahun-tahun mendatang, Allah beri umur agar dapat lebih produktif lagi di bulan Ramadhan.

Doa saya pagi ini...

"Ya Allah, beri hamba kekuatan... Beri hamba ilham untuk senantiasa bersyukur... Beri hamba rezeki dan kemudahan. Tolonglah hamba, hanya kepada Engkau-lah hamba memohon. Tiada tempat bergantung selain-Mu ya Allah....... Alhamdulillahi rabbil 'alamin..."

Thursday, 9 August 2012

Semua Ada Prosesnya

Bismillah.
image by google
Ba'da tahmid dan sholawat...

Dalam setiap tingkatan kehidupan, selalu kita dihadapkan dengan yang namanya proses. Entah itu mudah maupun berliku, yang namanya proses pastilah kita lewati.


Begitupun dengan saya. Kemarin, rasanya proses kehidupan sedang sulit-sulitnya. Sampai bernapaspun sesak dibuatnya.... Namun sekarang dada mulai longgar bernapas. Proses kehidupan harus tetap dijalani, karena mendung tak selamanya hitam. Terkadang ia menggantung untuk menderaskan bulir-bulir hujan. Dimana hujan kan menjadi anugerah bagi kehidupan agar bersemi dan bertumbuh....


Semoga selalu dikasihi oleh Allah SWT agar Dia tetap melimpahkan curahan hujannya agar kita merasakan karunianya di dunia dan di akhirat. Amin...


Salam semangat,


Khoni Indriani.

Sunday, 5 August 2012

Semangat Itu.....

doc. pribadi
Bismillah.
ba'da tahmid dan shalawat.

Pernahkah anda merasa sangat bersemangat?

Kapan?

Saya sangat bersemangat sekarang, karena saya sedang mencoba sesuatu yang baru. mengerjakan kebiasaan beru. Menambah pengetahuan baru. memiliki mimpi baru. Memiliki rencana baru.


Semangat.

Semangat itu butuh energi. energi untuk bangkit dan menjajal kemampuan diri. mengerahkan seluruh potensi, agar semuanya jadi berbalik mendukung anda agar lebih bersemangat. Lebih berenergi. Suatu saat, usaha anda akan membuahkan hasil menjadi percikan pengalaman dari aliran sungai kehidupan yang anda telusuri.

 Begitu banyak hal yang baru.

Saya memiliki bisnis baru.

Saya bersemangat!

Saya memiliki kebiasaan baru.

Saya bersemangat!!

Saya memiliki impian baru.

 Saya bersemangat!!!

Itulah mengapa, kita harus senantiasa dinamis dalam hidup. Dinamis. Bergerak. Move On.

Semoga bermanfaat.


Semangat meraih kesuksesan,



Khoni Indriani.

Friday, 27 July 2012

Niat Produktif Berbuah Berkah

Jika kita sungguh-sungguh berniat, maka Allah akan mudah menggerakkan seluruh makhluk dan alam semesta untuk mendukung niat kita.

image by http://komikmuslimah.blogspot.com


Berawal dari sebuah niatan untuk produktif selama bulan Ramadhan, ketika saya ngobrol di twitter dengan seorang kawan. Ternyata, niat itu dikabulkan oleh Allah dengan memberikan banyak orderan flanel di awal-awal ramadhan ini. Subhanallah! Gabungan dari niat yang kuat, silaturahi, sedekah dan doa menghasilkan prodiktivitas luar biasa.

Mulai dari menyiapkan barang untuk bazaar, mengecek barang di outlet sampai pesanan perorangan. Sungguh, saya sangat bersyukur dan merasa termotivasi sekali untuk menjadikan moment ini sebagai titik tolak saya agar lebih meyakini akan dahsyatnya kekuatan niat. Jika sudah berniat, Allah yang akan mengurus kita. Tentunya dengan diiringi upaya yang optimal. Ikhtiar juga harus pol.

Semoga teman-teman juga makin produktif di bulan yang penuh barokah ini. Amin...

Salam Produktif,



Khoni Indriani.

Wednesday, 18 July 2012

Agar Muamalah Berbuah Barokah


image by google

Teringat perkataan seorang kawan kala berbincang di suatu malam....

"Mbak harus yakin... Ketika bermuamalah dengan orang-orang yang berada di jalan-Nya, yang ikhlas dalam berjuang membela agama Allah, maka insyaAllah apa yang kita dapat entah sedikit ataupun banyak akan barokah..."

Saya terdiam... Mencoba mencerna kata-kata yang mengalir dari lisannya.

"Nih, saya kasih contoh ya, ada seorang ibu-ibu yang setiap hari masakin buat kita.." Kebetulan kawan saya ini adalah seorang ustad yang mengebdi di sebuah pondok modern di kota saya...

"...tau nggak, kenapa beliau setia masakin buat kita selama puluhan tahun? Padahal, beliau sudah punya usaha yang cukup mapan. Dari segi finansial mungkin udah nggak kekuranganlah. Namun beliau masih mau mengorbankan waktunya untuk memasak, 3 kali sehari untuk kami. Ketika kami tanya, beliau bilang, 'Saya nyari barokahnya, Ustad... Ustad semua kan membutuhkan makan agar punya energi yang cukup untuk mengajar, dan aktivitas lainnya. InsyaAllah, nanti saya juga kecipratan barokahnya...'. Begitu Mbak..." tuturnya.

"Subhanallah..." saya hanya dapat mengungkapkan demikian ketika mendengar kisah tersebut.

"Jadi, Mbak jangan pernah takut untuk bermuamalah dengan kami. InsyaAlah, apapun yang kami kerjakan, untuk kemakmuran pondok..."

"Iya, Ustad..."

"Subhanallahnya lagi, kemarin waktu saya mau mengantarkan bahan makanan untuk beliau masak, eeeh, taunya rumahnya sudah pindah, Mbak! Ya Allah, bagus rumahnya yang baru. Lebih gede... Hehe.."

Saya tertawa. Pasti itu tuh yang dimaksud barokahnya. Salah stunya mungkin. Ikhlasnya beliau diganjar oleh Allah berkali-kali lipat, sesuai dengan apa yang Dia janjikan.

Yang dapat saya simpulkan dari obrolan tadi ada 4 poin:
  1. Ketika berniat bermuamalah dengan orang lain, niatkanlah untuk ibadah. Semata-mata untuk meraih ridho Allah.
  2. Jika kita bermuamalah, usahakan dengan orang-orang yang amanah, ikhlas dan jujur. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk berkumpul/bergaul dengan orang-orang shalih. Selain menjaga kita, hal tersebut dimaksudkan agar kita dapat  menghindari marabahaya dan menghindari hal-hal yang haram/syubhat. Bukankah menghindari bahaya lebih baik daripada mengatasi ketika sudah tertimpa petaka?
  3. Keberkahan akan datang, seiring dengan lurusnya niat dan cara kita bermuamalah (baik/buruk).
  4. Jangan pernah takut untuk membela agama Allah. Bahkan jika kita merasa takcukup mampu, carilah cara yang bernar-benar kita kuasai dan kita lakukan. Ini lebih baik daripada beralasan untuk menghindar. Yakinlah, ketika kita menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita. Tindakan boleh sederhana, namun niat dan keyakinan harus 100%.

Demikianlah yang dapat saya bagikan. Semoga bermanfaat dan berkah.

Salam,


Khoni Indriani.

Sakit Gigi, Sabar dan Syukur

Bismillahirrahmanirrahim....

Alhamdulillah....

Ya Nabi, Salaam 'alaika....

google images
Bangun pagi ini seger banget di badan, Alhamdulillah rehat tadi malam begitu tenang. Sungguh, nikmat yang amat mahal harganya! Beberapa waktu yang lalu, saya ada keluhan sakit. Gigi. MasyaAllah, untuk istirahat yang seperti ini saja tak bisa. Namun begitulah manusia, baru biasa merasakan betapa nikmat Allah yang satu ini mudah terlupa. Kesehatan. Mahal dan tak bisa dipaksa. Ketika sakit saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluh. Dan Alhamdulillah, masih mengeluh juga... Hehehe :)

Mencoba untuk bersaabar, bersabar, dan bersabar. Bersyukur juga, akhinya bisa lebih menghargai apa itu kesehatan. Sekecil apapun nikmat sehat itu, jika kita abai, maka tak sulit bagi Allah untuk mengambilnya kembali. Alhamdulillah, berkat karunianya, doa dari teman-teman dan sedikit usaha untuk menyembuhkan (ke dokter dan minum obat), akhirnya kini kesembuhan datang. Ternyata, ada yang membuat saya lebih  cepat sembuh, yakni sedekah dan keyakinan 100% akan pertolongan Allah.

Saya yakin betul, Allah akan menolong saya. Semenjak saya tekankan itu, kesmbuhanpun datang. Saat saya mengluh, justru nggak sembuh-sembuh tu gigi. Subhanallah. Dia yang nyiptain sakit, pasti Dia pula yang dapat menghilangkan sakitnya. Ternyata betul itu. Percaya deh!

Alhamdulillah ya Allah, kini aku bisa beraktifitas kembali tanpa merasakan sakit. Terlebih lagi menjelang bulan Ramadhan, Alhamdulillah, saya bisa menjalankan ibadah dengan lancar dan fokus. Setiap kataku, untuk hanya ingin bersyukur pada-Mu ya Rabbi...

Semoga hari ini berkah, bermanfaat.


Salam,



Khoni Indriani

Sunday, 15 July 2012

Trio Penghambat Rezeki: 3D (Dengki-Dongkol-Dendam)

Bismillah.
Alhamdulillahirabbil'alaimin...
Allahumma shalli 'ala Muhammad.

Pagi ini saya mengunduh video-video kajian Mas Ippho Santosa (terimakasih kepada beliau). Sudah lama ingin mendengar kajiannya secara langsung, tapi Allah belum memberikan rezeki untuk bersilaturrahim dengan beliau. Padahal banyak seminar beliau yang digelar di kota-kota yang lumayan dekat dengan kota saya semisal Solo, Jogjakarta dan Surabaya. Semoga tak lama lagi saya bisa mengikuti sharing ilmu beliau. Amin...

google images

Banyak ilmu yang saya dapatkan baik setelah membaca buku beliau (7Keajaiban Rezeki the series) maupun setelah menonton videonya di Youtube. Kebanyakan adalah tayangan beliau di acara Pintu Rezeki di Trans7. Saya hanya 2-3 kali mengikuti, namun sepertinya sekarang sudah tidak tayang lagi. Makanya saya berusaha nyari videonya. Hampir sama seperti di buku, penyampaian beliau  sangat bersemangat dan enak diterima.

Salah satu yang mengena di hati saya adalah kajian tentang penghambat rezeki. 3D, begitu beliau menyebutnya. 3D itu adalah Dengki-Dongkol-Dendam. Nah yang terakhir itu, serasa "mak jleb2" nih, bagi saya. Kenapa Khon? Masalah buat looo?? Saya akui, iya. Maybe, inilah salah satu sebab masalah keuangan saya nggak selesai-selesai. Harus ada perubahan, begitu saran Mas Iphho. Lupain aja dendam, biarlah ada orang yang ngelakuin sesuatu yang gak bener sama kita (dzalim). Tapi jangan dendam. Sekali lagi, jangan dendam. Bismillahirrahmanirrahim.... Saya harus mulai melupakan seluruh dendam yang mungkin masih kokoh mengaar di hati saya. Saya yakin, jika saya mampu melakukannya, Allah akan menolong saya dalam menghadapi segala kesulitan. Menganugrahkan rezeki yang baik dan cukup. Menyelesaikan semuanya dengan mudah sekali. InsyaAllah, mudah bagi Allah untuk mengubahnya!

Alhamdulillah, buku dan motivasi Mas Ippho sangat berguna bagi saya. Semoga Anda juga bisa merasakannya. Saran saya, baca buku 7 Keajaiban Rezeki, Percepatan Rezeki dan Hanya 2 menit. Baca, dan terapkan. InsyaAllah, banyak solusi dari dalam ketiga buku tersebut. 


google images
Atau ikutilah seminarnya (jika longgar, doakan saya juga segera bisa ikut). Dibawah ini hanya salah satu contoh poster seminar beliau.

google images


Sekian catatan saya pagi ini, semoga bermanfaat.
Semoga berkah, berlimpah. :-)


Salam,


Khoni Indriani


Saturday, 14 July 2012

Dilarang Membentak Bapak Saya!

Bismillah. 
Alhamdulillahirabbil'alamin, Shallu 'ala Habibii.

Seorang anak, akan bereaksi ketika orangtuanya disakiti, disinggung atau dizhalimi tanpa alasan yang jelas. Pun dengan saya.

Hari ini ada kunjungan orangtua/wali ke universitas tempat saya menimba ilmu. Keperluan untuk silaturahim dengan rektorat, dalam rangka penyerahan beasiswa (alhamdulilah). Ketika saya sampai di kampus, saya coba memarkir sepeda motor yang mana saya dibonceng saudara kembar saya dan Ayah saya neik motor yang lain. Saat akan memarkir sepeda motor, saya dikejutkan oleh teriakan seorang security (saya kurang tahu, apakah dia satpam baru atau bagaimana) yang melarang kami memarkir di situ. Tapi yang sangat saya sesalkan dia berteriak setengah membentak kepada Ayah saya. Saya dan kembaran saya kaget, dong! Apa-apaan nih satpam?? nggak sopan banget sama orang tua... Astaghfirullah.

Langsung saya hentikan "omelan"-nya.

"Sudah, Pak. Iya, kami dengar! Tidak usah berteriak-teriak begitu." ujar saudara saya menyuruhnya diam.

"Lha nanti kalo nggak keras nggak dengar... " (sependengaran saya begitu, karena dianya bicara agak lirih).

"Tapi tidak perlu teriak begitu lah! Galak banget sih jadi security!" Saya (yang cenderung tempramental menghadapi situasi semacam itu) mencoba membela. Tak pantas lah dia membntak saya, apalagi Ayah saya. Padahal saat itu saya yakin dia tak tahu saya adalah salah satu  mahasiswa universitas. Dikiranya saya adalah calon mahasiswa baru kali ya.

Saat itu cukup banyak orang-orang di sekitar lokasi melihat kejadian itu. Memalukan.

Lalu saudara saya dan Ayah memindahkan ke parkiran belakang.

Benar saja, si Satpam tadi menyangka saya adalah mahasiswa baru yang akan melakukan pendaftaran. Sangat disayangkan sekali, apapun posisi saya di kampus, bahkan calon mahasiswa baru sekalipun, dia tidak berhak membentak orang seenaknya. Apalagi kepada orang tua saya. Inilah yang saya sebut dengan sopan santun yang tak lagi diindahkan. Selayaknya seorang security kampus, melayani dengan tulus. Siapapun yang datang. Dosen, mahasiswa, rektor, mahasiswa baru, terlebih lagi tamu! First impressed itulah yang akan mnentukan pencitraan kampus.

Sekedar koreksi, pelayanan yang optimal pasti akan diupayakan oleh universitas yang ingin dianggap kredibel. Bahkan "hanya" untuk urusan menyambut tamu. Jangan sampai satu kekecewaan menimbulkan pencitraan yang buruk pada keseluruhan universitas.

Hormatilah orangtuamu. Muliakanlah tamumu.

Salam,

Khoni Indriani.

doc. pribadi

P.S. : tulisan ini adalah pengalaman pribadi saya, bukan untuk menjelekkan salah satu pihak, namun untuk bahan koreksi dan perenungan bagi pembaca.

Jalani Hari-Hari, Enjoy Aja!

Bismillah.
 Ba'da tahmid dan shalawat.

Mungkin, menurut sebagian orang, tidak banyak aktivitas menarik yang dapat dilakukan di kota kecil seperti Ponorogo. Namun setidaknya, di sini saya sudah hampir 22 tahun tinggal di sini, menikmati segala dinamika hidup di kota Reyog ini. Suasana kota yang cukup tenang, membuat saya dapat berkreasi, dan menghasilkan karya-karya. Aktivitas akademik pun saya kerjakan di sebuah universitas setempat, sepuluh menit dari rumah. So, saya sangat happy di sini. Dekat dengan orang tua dan tenang.....

doc. pribadi
Saya menghabiskan waktu dengan membaca, menghasilkan karya flanel dan sedikit banyak belajar dari interaksi sosial sehari-hari. Adakalanya bosan datang, namun itu adalah hal yang wajar. Ketika bosan, saya beralih kepada hal yang lain, kemudian setelah semuanya membaik, saya kembali ke aktifitas semula. Memang diperlukan suatu fokus agar apa yang pernah kita mulai selesai dengan benar dan tuntas. Sekecil apapun hal itu. Maka tidak benar jika ada yang mengatakan hidup di kota yang jauh dari hiruk pikuk (dibandingkan di beberapa ibukota) membuat orang-orangnya santai. Bahkan sebagian harus bekerja keras. Bayangkan, saya seringkali mengallami perputaran waktu yang cukup cepat. Bangun pagi, nanti sebentar kemudian sudah dzuhur, lalu isya' menjelang tidur. Lalu bangun lagi. Hal ini membuat saya berfikir, 24 jam yang Allah berikan ternyata selalu tak cukup jika digunakan hanya murni untuk urusan keduniaan. Suatu waktu, pernah juga hidup berjalan dengan lambat. Ritme yang dilalui menjadi trasa amat  panjang, dan ini biasanya terjadi ktika saya banyak melakukan perenungan.

Begitulah, saya berusaha menjadikan waktu yang saya miliki menjadi bermanfaat. Baik untuk belajar, bekerja maupun ibadah. Dimanapun lokasi kita, tempat tinggal kita, just enjoy it and you can feel enjoy everyday. Gak usah nunggu kita kaya raya, untuk membuat kita bahagia. Kini, berbahagialah dengan apapun yang kita jalani saat ini. insyaAllah, suatu saat kita kan memetik mafaat yang lebih besar, buah dari kesyukuran kita.

Selamat menjalani hari dengan semangat. Allah with us.

Salam,


Khoni Indriani.

Wednesday, 16 May 2012

Jangan Tunggu Hingga Kelak

Bismillahirrahmanirrahim.
Ba’da tahmid dan shalawat.
Berbicara tentang bakti kepada orangtua, seringkali yang terfikirkan hanyalah bagaimana membalas budi orangtua yang telah melahirkan, merawat dan membiayai kita selama ini. Aduh, saya harus sukses, supaya kelak dapat membahagiakan ortu.
Kelak.
Bagaimana jika yang kita sebut ‘kelak’ itu tak sempat kita capai? Bisakah kita mempercepat balas budi tadi, sehingga tak pernah ada kata menyesal, merasa belum pernah membahagiakan ortu?
doc. pribadi
Jawabannya adalah tergantung cara pandang kita terhadap bentuk balasan yang kita berikan. Balasan berupa materi mustahil kita berikan jikalau kita memang belum memiliki seuatu yang dapat kita persembahkan. Namun, balasan immaterial, kapan saja bisa kita kadokan buat orangtua kita.
Banggakah seorang ibu, melihat anaknya berprestasi dalam akademik?
Bahagiakah seorang ayah, yang anaknya mau menyajikan segelas kopi panas setelah penat bekerja?
Harukah orangtua jika anaknya mau berpamitan, mengucap salam dan mencium tangan keduanya saat berangkat kuliah maupun setiap keluar rumah?
Ya, setiap akhlaq mulia seorang anak, yang menunjukkan keshalihan pribadinya, akan membuat orangtua bahagia dan merasa cukup telah memiliki anak yang shaleh. Karena keshalihan akan melahirkan manusia yang berkualitas, yang tidak akan menyusahkan mereka. Yang menjadi cahaya dikala mendung menggelayut di kehidupan mereka. Ibumu, akan memelukmu bangga saat kau mencapai prestasimu. Ayahmu, akan menepuk pundakmu dan tersenyum. Matanya menyiratkan kalimat, “Anakku, ayah bangga padamu.”
Menjadi anak yang perhatian lagi peka terhadap kebutuhan orangtua, tanggap dalam mencairkan suasana, akan menjadi peringan beban bagi orang tua. Menghidupkan rumah, mengondisikannya menjadi syurga bagi seluruh penghuni, juga termasuk dari bakti yang bisa disegerakan melakukannya. Pandai-pandailah mengambil peran dalam keluarga. Bantuan sekecil apapun, akan sangat bermanfaat jika diberikan di saat yang tepat. Meredam ketegangan saat ada selisih pendapat juga merupakan penawar yang menolong. Ucapan yang baik, lantunan ayat suci, dan sapaan salam yang terjaga, akan menimbulkan ketenteraman bagi orangtua.
Bakti kepada orangtua, jangan engkau tunda-tunda.
Ibuku pernah berkata, “Sebanyak apapun uang yang dihasilkan oleh anak-anakku, aku tak ingin memintanya. Melihat kalian dapat mengurus diri sendiri, menjadi anak-anak yang shalihah, adalah kebahagianan terbesar ibu. Ibu sudah marem(puas). Ada yang bisa mendoakan ibu dan bapak ketika nanti sudah tiada,” Subhanallah.
Jadi, persiapkan hidupmu untuk beramal shalih. Terutama kepada kedua orangtuamu. Ibumu. Ayahmu. Siapalah yang paling berhak menerima bakti kita selain mereka? Untuk para muslimah, yang akan mengabdi pada suaminya, manfaatkan masa lajangmu tuk memberikan bakti terbaik bagi orang tua. Dan tetap rawatlah ibu bapakmu ketika senja membayangi mereka.
Kiranya, jika kita diberi kelimpahan materi kelak, orangtua takkan meminta seluruhnya untuk mereka nikmati. Meski segalanya telah mereka korbankan untuk kita sebelum kita berjaya. Saat kita masih papa. Olehkarena itu, sedekah terbaik adalah untuk kerabat dekatmu. Ibumu. Ayahmu. Saudaramu. Jangan kikir kepada orang terdekat kita. Jangan bermuka manis di depan khalayak, tapi bermuram di depan pera kerabat. Berikan mereka haknya, yang sepantasnya kita limpahkan dengan penuh kasih sayang.
Sudahkah kau memberikan senyum terbaikmu pada kedua orangtuamu hari ini?
Salam,


Khoni Indriani.

Ponorogo, 4 Mei 2012.
Untuk Ibuku yang senantiasa beraktivitas.
Inspiratorku untuk terus bergerak.

Kapan Kita “Bisa” Memberi?

photo by google
Memberi itu harus ikhlas, kalau tidak mending tidak usah...
Memberinya pas sudah berlebih saja, kalau sudah kaya...
Apakah dalam pikiran anda masih setuju dengan dua kalimat diatas? Kalau iya, segera ubah cara berfikir anda mulai sekarang! Asahlah sifat dermawan anda dengan mulai berbagi kepada sesama. Sekecil apapun, meski keadaan anda serba terbatas. Pas-pasan. Orang kaya memberi itu biasa, kata Pak Rhenald Kasali. Kalau orang miskin memberi, itu baru luar biasa. Pemberian yang paling indah, justru yang datang dari orang-orang susah.
Lho, bagaimana bisa berbagi? Saya kan masih kekurangan, masih pantas menerima pemberian. Ingatlah Sobat, kita sendirilah yang berhak menentukan tingkat kepantasan kita. Jika belum kaya, pantaskanlah diri menjadi orang dermawan dengan mulai berbagi. Berapapun nilainya. Allah memerintahkan untuk menafkahkan harta bukan hanya kepada orang-orang kaya, namun juga kepada orang miskin. Sebenarnya, kata-kata saya masih kekurangan, saya masih miskin, nanti saja berbaginya kalau sudah kaya, kalau sudah ikhlas, dan lain sebagainya hanyalah dalih yang menghalangi kita berbuat kebaikan. Kita yang tidak memantaskan diri menjadi seorang yang dermawan. Kita yang menghalangi rejeki kita sendiri.
Padahal dengan bersedekah, Allahlah yang akan mencukupi kebutuhan kita. Allah yang akan mengayakan kita. Memang, hanya sedikit orang yang beruntung, bisa berfikir dan meyakini bahwa janji Allah selalu ditepati. Suatu ketika saya menulis status di Facebook, kira kira isinya begini: “Jika kamu takut miskin, bersedekahlah. Maka Allah akan mengayakanmu.. #yuk, sedekah!” Saya menulis status ini setelah membaca sebuah hadits. Kemudian ada seseorang yang meninggalkan komentar, yang mengutip sepotong ayat, “Janganlah kamu memberi dengan mengharapkan imbalan yang lebih besar.” Hmmm, begitukah?
Okelah, Insya Allah ayat tersebut juga benar adanya. Dari sini, paling tidak saya bisa mengambil dua kesimpulan.
Pertama, mengimani janji Allah itu butuh suatu usaha yang tidak mudah. Ada saja yang berusaha melemahkan iman. Barangkali dengan ‘cara yang kurang tepat’ dan ‘tidak kontekstual’, menurut saya. Jika kita cermati, ajakan saya untuk bersedekah amat sangat mudah dipatahkan dengan sepenggal ayat. Kalo begitu, nggak usah bersedekah aja dong? Kan saya masih ingin kaya, mengharapkan imbalan yang Allah janjikan? Sedekah saya nanti  sia-sia dong? Yah, kalau saya menelan komentar tersebut mentah-mentah, mungkin saya urung bersedekah, dan tidak pernah mengajak orang lain untuk bersedekah.
Saya selalu berusaha menanamkan sikap positif dalam diri saya. Mungkin pendapat sahabat saya ini memang berbeda dengan apa yang saya yakini selama ini. Silakan saja, tidak masalah. Biar Allah yang menilai. Jika saya yang keliru, saya berdoa kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang paling benar. Amin.
 Kala itu saya hanya menjawab singkat, “Yupz, betul itu. Dan kita pun dilarang mengharap selain kepada Allah.” Maksud saya, sedekahnya tetep, mengharapkan rizki pun tak apa, asal berharapnya sama Allah. Yang tidak boleh kan kekeuh tidak sedekah dan berharap selain kepada Allah. Hehehe.. Iya, tho? =D
Yang kedua, tetaplah berbagi saat kita dilanda kesusahan. Hidup kita tak selamanya dalam posisi nyaman. Seringkali kita pailit, muflis. Tentunya kita jadi semakin rajin berdo’a kepada Allah. Memohon agar dikeluarkan dari kesulitan. Saat itu kita dilema. Mau berbagi, saya kan masih kekurangan. Kalo tidak berbagi, kita akan semakin terpuruk. Sudah miskin, pelit lagi. Sobat, ingatlah. Agar Allah menolong kita dari kesulitan, Allah memerintahkan kita untuk meringankan beban orang lain. Yakin deh, dengan tetap berbagi kita akan ditolong oleh Allah. Ingat, berharaplah hanya kepada Allah! Kalau kita berharapnya hanya kepada makhluk (misalnya hanya mengharapkan bantuan dari manusia atau bahkan menjurus ke syirik), tentu kita akan kecewa.
Sedikit renungan untuk kita. Manakah yang lebih kaya? Orang kaya yang tidak mau berbagi, atau orang miskin (baca: pas-pasan) yang masih mau berbagi kepada sesama?
Kalau saya boleh berpendapat, selama orang mau berbagi, dialah orang kaya yang sebenarnya. Sebanyak apapun harta yang ia miliki, ia belum disebut kaya jika kekayaannya hanya ditumpuk. Kekayaan bukanlah apa yang dimiliki, melainkan apa yang dinikmati. Selebihnya? Tidak berarti apa-apa jika tidak mau berbagi. Seperti kata Ippho Santosa, sejatinya kekayaan itu bukan soal mengumpulkan, melainkan soal membagikan.
Nah, bagaimana dengan Anda?

Kamar Renung, 15 Mei 2012.
Khoni Indriani

Tetap Berbagi di Kala Sempit

photo by google
Hidup tak selamanya diatas angin. Terkadang, kita juga mengalami masa berada di keadaan yang seba kekurangan. Ketika hal itu terjadi, apa yang kita lakukan?
Tak memiliki harta, jangan lantas kita pelit. Tetaplah berbagi, mekipun yang kita bagikan jauh lebih sedikit dari biasanya. Karena, inilah perang kita yang sesungguhnya. Perang melawan kekikiran, saat kemiskinan membelenggu kita.
Allah memerintahkan kita untuk bersedekah bukan hanya saat lapang, namun juga di kala sempit. Kita harus berupaya untuk mengalahkan rasa berat untuk mengikhlaskan harta yang amat kita cintai. Karena, siapapun pasti akan merasa berat ketika kesempitan datang, setiap sen, setiap harta yang kita miliki akan bernilai lebih besar daripada saat kita lapang.
Sedekah yang baik, bukan hanya saat kita ringan memberikannya tanpa beban. Saat kita amat berat dan enggan melepaskan apa yang kita punyai, namun kita tetap mmemberikannya (dengan berusaha keras untuk ikhlas), maka itu termasuk sedekah yang utama. Yakinlah, ketika kita mengalami kesulitan, seketika kesulitan itu akan hilang berganti dengan kemudahan seperti yang telah Allah janjikan. Dengan sedekah yang kita keluarkan, kita tak perlu takut miskin, namun yakinlah Allah akan segera membalasnya dengan membebaskan kita dari kekurangan.
Apabila kita sudah benar-benar tak memiiki sesenpun harta, apa yang harus kita sedekahkan? Tersenyumlah. Jangan nampakkan kesedihan kita menanggung segala macam problematika hidup kepada saudara-saudara kita. Itu adalah sedekah, dan insyaAllah kita akan lebih terjaga dari sifat putus asa. Meskipun tak ada kegembiraan yang dapat dibagi, setidaknya kita tak mengumbar kesedihan kepada oranglain. Cukup Allah yang mendengar keluh kesah kita. tak ada  Ada lagi cara yang lain. Doakan saudara seiman kita agar diberikan karunia oleh Allah. Mendoakan mereka, hakikatnya sama dengan mendoakan diri sendiri. Karena saat kita berdoa, malaikat akan mengaminkan doa tersebut, dan memohon kepada Allah agar kita juga diberi karunia sama dengan apa yang kita mintakan untuk saudara kita.
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.Begitulah janji Allah dalam salah satu firman-Nya. Tugas kita adalah meyakini bahwa janji Allah selalu benar.
Selamat berbagi! Semoga Allah mengayakan kita. Kaya harta, lagi kaya hati. Amin.

Moslem Must Be Rich, last modified 4 Mei 2012.

Latihan kini, Lincah Kemudian

photo by google
Berlatih menuliskan gagasan menjadi sebuah cerita, bukan hanya persoalan tersampaikannya ide cerita namun juga soal imajinasi dan bahasa yang terolah apik, sehingga tulisan yang disajikan menjadi memikat, bak sepiring nasi goreng yang mengundang selera calon pelahapnya dengan aroma yang menggugah saliva dan penyajian yang eye catching. Istimewa. Ya, menjadikan cerita kita menjadi istimewa, bisa diwujudkan dari paragraf pertama.
Salah satu cara mebumbui kisah agar sedap aromanya adalah dengan penggunaan kalimat pembuka yang efektif dan mengundang rasa penasaran. Satu menit pertama seseorang membaca kisah adalah moment yang harus termanfaatkan dengan bijak. Apalah arti tulisan yang bagus di tengahnya maupun ending yang dahsyat jika tulisan kita sudah diletakkan pada paragraf-paragraf awal. Sayang sekali bukan? Itulah mengapa tadi saya katakan, menulis cerita tak cukup hanya dengan ide ciamik, namun juga kepandaian kita meramu kata amatlah berpengaruh untuk menggaet selera pembaca.
Bolehlah, awal-awal karir kepenulisan kita banyak belajar tentang penyampeian ide dengan berbagai cara. Kita olah kata agar semuanya dapat masuk dalam cerita. Lalu, tulisan polos tersebut kita rombak lagi menjadi cerpen yang manis. Bukannya apa-apa, jumlah karakter yang terbatas menuntut penulis untuk merangkum tulisannya menjadi tulisan yang paat, bukan bertele-tele. Padat, bukan berarti harus berat. Cobalah berlatih membuat kalimat-kalimat yang kedengarannya lebih ringan untuk dibaca, dengan ide yang sama. Jangan memaksakan diri memasukkan seluruh kosakata yang rumit dan asing, sementara pembaca kita jadi terganggu karenanya. Pakailah bahasa yang ringan dan mengalir. Sehingga pembaca betah nongkrongin tulisan kita tanpa eneg, meskipun sesungguhnya tema dan pesan yang ingin kita sampaikan lumayan berat.
Itulah gunanya seni menulis dalam karya fiksi. Membaca cerpen-cerpen bagus akan memperkaya kosakata kita sehingga jemaripun kian lincah menuliskan gagasan-gagasan yang ada dalam kepala. Banyak membaca, demikian yang sering disarankan pera penulis hebat kita yang sudah malang melintang di jagad sastra. Dengan membaca, pikiran kita akan terus di-refresh,meminimalisir kebuntuan dan menambah bobot dalam tulisan kita. Faqidusy sya’i laa yu’tih, yang tak punya apa-apa takkan bisa memberi. Jika cawan kita kosong, apa yang mau dituang?
Sering-sering berlatih dapat membumbungkan imajinasi kita. Menulislah seribu kata perhari, niscaya kemampuanmu kan berkembang dengan pesat. Menulis apa? Apa saja! Bisa jurnal pengalaman harian, potongan cerpen, potongan bab novel, puisi, artikel, bahkan hanya sekedar ide mentah  (yang ditulis apa adanya). Tak masalah. Lambat laun tulisan kita akan lebih terarah. Jari ini perlu diasah untuk menulis dengan terus berlatih. Ketika memikirkan segelas jus jambu merah, coba ungkapkan dengan lebih indah. Misalnya, bagaimana runtutan kita mendapatkan buahnya, bagaiman membuatnya, sampai kita dapat meminumnya bersama seorang sahabat di suatu siang yang mengesankan. Cobalah untuk membayangkan tokoh kita bergerak menjalani perannya dengan baik, kemudian tuliskan dengan detail. Apa warna bajunya? Bagaimana nada bicaranya? Apa kebiasaan-kebiasaannya? Tuliskan saja, imajinasikan. Gunakan cara yang unik dalam memandang suatu hal. Gunakan kosakata yang jarang digunakan (tapi ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia). Pandai-pandailah menyusun percakapan dengan bahasa yang komunikatif dan ekspresif.
Akhirnya, kita dapat memaksimalkan latihan kita dengan menanamkan keberanian untuk dikritik. Share karya kita di jejaring sosial atau blog, lalu bukalah pintu selebar-lebarnya bagi pembaca kita untuk meberikan masukan. Kita akan mendapatkan mentor gratis dengan cara ini. Bisa jadi, komentar kritis dari pembaca dapat kita gunakan untuk perbaikan agar karya kita semakin mantap. Bisa juga dengan mencetak karya kita lalu edarkan kepada teman-teman untuk dikomentari. Pembaca yang baik tentu akan menunjukkan sisi kelemahan tulisan kita dengan objektif. Bersyukurlah jika mereka mau mengungkapkannya dengan jujur. Itu berarti, teman-teman kita mendukung kita untuk tumbuh. Mendorong kita untuk bekarya lebih baik lagi dengan tidak mengulangi kesalahan tersebut di kemudian hari.
Tekun adalah modal. Lapang dada menerima masukan adalah langkah awal keberhasilan belajar. Yakinlah, berlatih menulis satu paragraf hari ini adalah modal kesuksesan kita menuliskan satu buku tebal dikemudian hari.
Selamat berlatih, selamat berkarya.
Yo! Bismillah. Kita pasti bisa.

Ruang putih, 8 Mei 2012.
Ini aalah satu tulisan saya kala berlatih seribu kata per hari a la Tere Liye.
Meskipun note  ini hanya berjumlah 650-an kata.=D
Semoga bermanfaat dan mohon masukannya ya..!

Blog: Sepercik Semangat dari Kenangan Lampau.

photo by google
Tadi siang, iseng saya membuka beberapa tulisan blog jaman SMA yang sengaja saya simpan di folder draft akun email Yahoo. Mulanya iseng, saya copy blog saya ke Ms. Word. Sampai dirumah saya baca. MasyaAllah...
Ada rasa malu bercampur heran, benarkah dahulu saya suka menuliskan hal-hal seperti ini di blog saya? Astaghfirullah. Sebagian besar: memalukan. Sebagian lagi lumayan bagus. Mengingatkan saya bahwa aslinya saya emmang gemar menulis (halah!). Kosakatanya pun beragam, saya jadi kagum sendiri. Bahasa yang saya gunakan lepas, dan ‘lumayan’ kreatif. Seiring waktu, kreativitas yang tak diasah ini seolah terabaikan. Tulisan saya waktu itu masih meledak-ledak. Jika diolah dengan baik, tentu akan lebih mantap hasilnya. Ada sekitar sepuluhan draft postingan yang sempat ‘terselamatkan’ dari blog saya yang telah almarhum. Seingat saya ada lima puluhan blog yang saya posting kala itu di akun arsyidahamdah.multiply.com. Saya tak mengira, saya sudah menuliskan begitu banyak cerita, dari yang super konyol sampai super serius. Ada pula salah satu tulisan saya yang sempat menimbulkan kontroversi cukup gempar di dunia persilatan multiply.
Sungguh, kini saya memahami. Tulisan, sejatinya memang prasasti yang mengabadikan jalan pikiran kita. Isi otak kita, jika dibentangkan niscaya akan melahirkan tulisan-tulisan kreatif yang bermanfaat, menginspirasi dan mencerahkan. Sebaliknya, jika tak pernah ditorehkan akan membusuk, karena tak ada aliran ilmu yang terciprat keluar dari pemikiran kita. Sayang sekali, bukan?
Saya jadi senyum-senyum sendiri. Dulu, saya hanya mengandalkan laboratorium komputer sekolah untuk akses internet. Jika ada uang lebih, saya suka ke warnet. Bela-belain laper hanya untuk memuaskan hasrat menulis yang luar biasa tinggi. Seingat saya, akses internet semasa SMA tak secepat sekarang. Lambreta lambhorgini alias lambat banget. Tapi saya begitu sabar untuk menulis, memosting dan mereply komen-komen yang masuk. Subhanallah, tabah jaya ya? Hehe. Saya ingat, dulu saya pernah menulis sebuah blog dan siap diposting, ternyata.... Tiba-tiba koneksi terputus! Saya tak sempat menyimpan draft-nya di media lain, karena saya dulu biasa menulis ditempat alias flash blogging.
Bagaimana dengan sekarang? Akses internet lebih mudah dengan wifi di kampus maupun internet cepat di warnet terdekat. Tak perlu lama, tak perlu mahal. Informasi mudah didapat, surfing dan download amatlah mudah. Cepat, meskipun untuk ukuran dunia, internet kita sangat lambat. Namun dengan segala kemudahan itu, saya lengah. Ternyata, dorongan menulis bukan hanya sekedar tersedianya sarana. Passion, harus dibangun oleh kebiasaan yang terus menerus dipelihara. Percuma ada laptop dan wifi gratis jika keinginan menulis dari dalam diri tak ada. Saya merasakan betul, benturan itu bukan lagi soal ketiadaan sarana, melainkan passion yang sirna. Astaghfirullah, saya telah menyia-nyiakan berlian waktu dengan percuma. Semestinya kontinuitas dan eksistensi menulis tetap teguh dijalankan, mengingat banyaknya kesempatan yang tersaji. Melawan rasa malas dalam lapang ternyata lebih sulit daripada melawan keterbatasan. Saat keadaan terbatas, jiwa kreatif malah lebih terasah. Semangat untuk berkarya juga tetap menyala.
Alhamdulillah, Jum’at yang penuh berkah. Terimakasih Ya ‘Aliim, Ya Fattah. Tanpa izin-Mu, jari ini takkan tergerak membuka kunci yang selama ini saya cari-cari. Semangat itu muncul, melompat dari masa beberapa tahun silam. Mencuat begitu saja, menantang saya untuk berkarya. Mengingatkan saya tentang cita-cita untuk menghunus pena di medan dakwah. Memantik jiwa saya untuk menghidupkan kembali semangat yang sempat pudar, diguyur alpa.
Semangat berkarya. Semoga Allah berikan jalan terbaik bagi kita tuk merajut kembali kalimat yang terserak. Menorehkannya sebagai amal baik di dunia, sebagai bekal di akhirat. Amin, Ya Rabb.

Tepian Danau Hikmah,
4 Mei 2012